Menengok Sentra Kerajinan Blangkon di Dusun Beji Godean

Usaha membuat blangkon di dusun itu sudah ada sejak zaman Jepang.

Menengok Sentra Kerajinan Blangkon di Dusun Beji Godean
Perajin blangkon di Dusun Beji Kalurahan Sidoarum Godean Sleman sedang mengerjakan pesanan, Sabtu (29/11/2025). (nila hastuti/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Dusun Beji Kalurahan Sidoarum Kapanewon Godean Sleman menjadi sentra sentra blangkon paling legendaris sejak 1960. Blangkon buatan Beji juga biasa dijual di Pasar Beringharjo, Malioboro bahkan sampai mancanegara.

Saat ini di Beji masih terdapat puluhan warga yang bertahan membuat kerajinan blangkon yang cukup terkenal. Salah seorang perajin blangkon, Khoirudin (75) yang mulai membuka usaha blangkon sejak tahun 1980 mengaku keterampilan membuat blangkon merupakan turun temurun dari keluarga.

Di Dusun Beji saat ini terdapat 14-an perajin blangkon yang tergabung paguyuban. "Usaha membuat blangkon ini sudah ada sejak lama. Sejak zaman Jepang. Dulu pakde yang menjalankan, saya sebagai karyawan," kata Khoirudin kepada awak media, Sabtu (29/11/2025).

Blangkon buatan Khoirudin banyak dipesan oleh Keraton Yogyakarta untuk berbagai keperluan. Seperti perlengkapan upacara, baik untuk abdi dalem maupun kerabat keraton.

Abdi dalem

"Dulu itu paling banyak ya 500, itu untuk abdi dalem. Blangkonnya beda. Itu dulu, tapi kalau sekarang bebas. Dulu ada potongan Jawa, terus ada potongan pesisiran, potongan kasatriyan," kata Khoirudin.

Selain dari keraton, ada juga sejumlah menteri dan artis ibukota yang memesan blangkon kepada dirinya. Seperti Raffi Ahmad saat hendak menikah beberapa tahun lalu.

"Artis Raffi pernah pesan sekitar 275 blangkon gaya Yogyakarta untuk panitia pernikahannya. Itu dibuat selama dua bulan," jelas Khoirudin.

Harga blangkon buatan Khoirudin mulai puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Tergantung motif dan pesanan. "Ya dari Rp 75 ribu sampai jutaan. Tergantung pesanan dan bahan kainnya. Kalau yang sampai jutaan bahannya dari batik sutra atau batuk tulis," katanya.

Tinggal sendiri

Sebelum pandemi, Khoirudin menjelaskan dirinya sempat memiliki delapan karyawan. Namun kini tinggal dirinya sendiri.

Khoirudin tetap bertahan berupaya melestarikan kerajinan blangkon di kampungnya. Dari yang semula sehari memproduksi puluhan blangkon bersama karyawannya, kini dia hanya bisa membuat dua blangkon sehari.

"Sehari saya saat ini hanya bisa buat dua blangkon. Kalau pesanan ya dikirim ke Suriname, Jepang, Malaysia," kata Khoirudin. (*)