Penonton Film “Jumbo” Tembus 10 Juta, Visinema Siapkan “Na Willa”

Cerita Na Willa itu sederhana sekali, tapi rasanya seperti pelukan. Kalau Jumbo membawa kita pada perjalanan keluar yang penuh magis.

Penonton Film “Jumbo” Tembus 10 Juta, Visinema Siapkan “Na Willa”
Group President & CEO of Visinema Studios, Herry B Salim menyampaikan penjelasan saat diskusi JAFF Market di JEC Yogyakarta, Sabtu (29/11/2025). (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Menyusul kesuksesan film Jumbo yang menembus lebih dari 10 juta penonton, Visinema Studios memasuki fase baru dalam eksplorasi cerita keluarga. Alih-alih mengejar skala yang semakin besar, mereka justru memutuskan untuk menyelami sesuatu yang lebih kecil, lebih intim dan lebih dekat dengan diri setiap orang.

Rumah produksi ini menyiapkan film baru berjudul Na Willa. Film yang rencananya tayang di bioskop pada Lebaran 2026 ini menceritakan tentang masa kecil, tentang pulang ke ingatan paling sederhana.

Film tersebut merupakan adaptasi dari sebuah buku cerita anak yang telah lama beredar, ditulis oleh Reda Gaudiamo yang bahkan karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa internasional dan masuk ke fasilitas baca global.

Anggia Kharisma selaku Chief Content Officer Visinema Studios dalam diskusi Beyond The Next Stories With Na Willa di sela JAFF Market di JEC Yogyakarta, Sabtu (29/11/2025), mengungkapkan film baru tersebut adalah karya yang menemukan mereka, bukan sebaliknya.

Seperti pelukan

“Cerita Na Willa itu sederhana sekali, tapi rasanya seperti pelukan. Kalau Jumbo membawa kita pada perjalanan keluar yang penuh magis, Na Willa justru menarik kita kembali ke dalam. Ke masa kecil, ke ingatan yang mungkin kita lupakan, tapi diam-diam selalu kita cari,” ungkapnya.

Kisah film ini menggambarkan dunia dari sudut pandang seorang anak enam tahun. Perspektif yang seringkali diremehkan orang dewasa, tetapi justru menyimpan kedalaman dan kejujuran yang tak tertandingi.

“Dunia orang dewasa itu tampak biasa saja. Tapi bagi anak enam tahun, tiap sudut adalah petualangan, tiap rasa adalah penemuan. Na Willa mencoba merawat rasa itu,” jelasnya.

Anggia menggambarkan perbedaan besar antara Jumbo dengan Na Willa. Dia mencontohkan bagaimana film sebelumnya sarat dengan petualangan yang “besar”, sementara Na WIlla justru menawarkan bentuk kebebasan yang lebih personal yang ia sebut sebagai golden era setiap anak.

Masa lalu

Disebutkan, cerita anak sama pentingnya dengan cerita orang dewasa, tetapi industri jarang menggarapnya dengan keseriusan setara. Na Willa mengubah hal itu.

“Tadi ada yang bilang film ini terasa seperti nostalgia. Iya, benar. Rasanya seperti dipanggil oleh masa lalu kita sendiri. Tapi untuk anak-anak sekarang, ini tentang bagaimana mereka memaknai kebebasan, bagaimana mereka mengenali hari-hari kecil mereka dengan lebih baik,” ungkapnya.

Sementara Group President  & CEO of Visinema Studios, Herry B Salim,  mengungkapkan Na Willa memiliki interpretasi kreatif kuat, termasuk pada latar waktu “akhir 60-an”. "Film ini disajikan lewat gaya visual yang tetap relevan untuk penonton masa kini," jelasnya.

Herry memberikan contoh sederhana untuk menjelaskan kekuatan film ini. Na Willa memiliki pesan tentang bagaimana sebagai anak kita melihat rumah besar sebagai sesuatu yang luar biasa, tentang rasa saat pertama kali dibelikan es krim, atau tentang hal-hal kecil yang dulu terasa sangat berarti.

Paling kecil

“Kalau saya tanya ke kalian, pernah nggak dulu pas umur enam tahun lihat rumah mewah rasanya kayak istana? Tapi sekarang, ketika sudah dewasa, kita melihatnya biasa saja. Nah, resonansi itulah yang mau kita hadirkan lagi,” terangnya.

Menurutnya, Na Willa bukan sekadar tontonan. Tetapi lebih dari itu merupakan pengalaman kembali menjadi diri kita yang paling kecil. “Orang dewasa yang nonton nanti akan kembali ke usia enam tahunnya masing-masing,” katanya.

Visinema tidak hanya melihat Na Willa sebagai film tetapi sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Herry menegaskan Indonesia memiliki jumlah animator dan kreator luar biasa banyak, namun industri belum memberikan wadah yang cukup besar.

“Industri ini tidak bisa bergerak sendirian. Indonesia adalah negara besar, penonton kita banyak, kreator kita punya kualitas setara internasional. Jadi mengapa hanya Disney atau Warner yang mendominasi? Kita harus mulai menciptakan ruang kita sendiri," tandasnya. (*)