Berumur 200 Tahun, Pusaka Bupati I Purworejo RAA Tjokronegoro Mengawali Prosesi Jamasan
Merupakan wujud nyata kepedulian masyarakat nguri-uri warisan leluhur.
KORANBERNAS.ID, PURWOREJO -- Suasana kental budaya Jawa mengiringi prosesi jamasan pusaka di Pendopo Kabupaten Purworejo, Kamis (18/6/2026). Giliran pertama adalah pusaka milik Bupati I Purworejo RAA (Raden Ajeng Adipati) Tjokronegoro yang dijamas oleh juru jamas Ki Teguh Wahyu Kuntoro.
Pusaka tersebut berupa keris luk 13 bernama Junjung Drajat dengan Pamor Pemimpin. Giliran kedua masih pusaka milik Bupati I Purworejo berupa mata tombak. RAA Tjokronegoro memerintah sejak tahun 1831. Artinya keris Junjung Drajat berumur sekitar 200 tahun.
Dalam sambutannya Bupati Purworejo Yuli Hastuti menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang konsisten menjaga nilai-nilai tradisi. Dia menegaskan komitmen pemerintah daerah mendukung perlindungan dan pengembangan kebudayaan lokal.
Agenda tahunan kali ini tidak sekadar ritual pembersihan benda pusaka secara fisik, melainkan menjadi momentum refleksi diri sekaligus pelestarian budaya adiluhung asli Bumi Bagelen.
Prosesi jamasan pusaka Junjung Drajat milik Bupati RAA Tjokronegoro oleh juru jamas Ki Teguh Wahyu Kuntoro. (wahyu nur asmani ew/koranbernas.id)
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Yudhie Agung Prihatno, menjelaskan jamasan merupakan wujud nyata kepedulian masyarakat nguri-uri warisan leluhur.
“Melalui pembersihan pusaka ini, kita diajak melihat masa lalu untuk mengevaluasi diri agar bisa menyongsong tahun baru dengan perencanaan yang lebih baik,” ujar Yudhie.
Dalam prosesi tahun ini, terdapat tiga pusaka utama yang menjadi fokus jamasan termasuk peninggalan Raden Adipati Arya (RAA) Tjokronagoro. Ketiga pusaka itu adalah Keris Kanjeng Kiai Slamet (Dhapur Sengkelat Luk 13, Pamor Sekar Tebu yang merupakan simbol keyakinan dan ketulusan hati, saat ini dirawat oleh HR. Boedi Sarjono BRE-Keturunan Cokronegoro I).
Kemudian, Tombak Bupati I Cokronegoro (Dhapur Charito Luk 7, Pamor Wos Wutah/Kulit Semongko, kini dirawat oleh Ananta Tresno Wibowo-Keturunan Cokronegoro I) serta Keris Jalak Tilam (Dhapur Jalak Tilam, Pamor Tejo Kinurung, koleksi Museum Tosan Aji sumbangan Mendagri Soepardjo Rustam, 13 April 1987, yang melambangkan kelancaran energi positif, kewibawaan dan perlindungan).
Kesenian khas
Prosesi budaya ini kian semarak dengan ditampilkannya berbagai kesenian khas Purworejo yang memukau penonton sebelum acara inti jamasan, yakni Tari Jolenan yang ditampilkan oleh siswa-siswi SMP Negeri 4 Purworejo (peraih peringkat 2 FLS3N), sebuah seni asli Kaligesing, Tari Cing Po Ling yang ditampilkan grup Ponco Manunggal Jati (Desa Jatirejo Kaligesing) yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Kabupaten Purworejo.
Usai jamasan dilanjutkan Pergelaran Wayang Kulit Gagrak Bagelenan membawakan lakon Bima Suci oleh Dalang Ki Sunarko Guna Prayitno dan Ki Parikesit Dipoyono.
Menurut Yudhie, Museum Tosan Aji Purworejo saat ini mengoleksi total 1.628 benda pusaka terdiri keris, tombak hingga samurai. Pihak museum membuka kesempatan bagi masyarakat umum yang ingin berkonsultasi atau melakukan jamasan pusaka secara mandiri bersama pamong budaya.
Salah seorang keturunan trah RAA Tjokronegoro yaitu Ananta Tresno Wibowo mengatakan baru tahun ini pihaknya diminta menyerahkan pusaka keris milik Bupati Pertama Purworejo untuk dijamas. (*)
Wahyu Nur Asmani EW
