ICAS 2026 Digelar di Unisa, Peran Gerakan Perempuan Muslim Strategis
Konferensi internasional tersebut bagian dari rangkaian Milad ke-109 'Aisyiyah dan peringatan 35 tahun Unisa Yogyakarta.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Konflik kemanusiaan, krisis iklim, kemiskinan ekstrem hingga derasnya transformasi digital menjadi tantangan besar yang dihadapi dunia saat ini. Di tengah situasi tersebut, gerakan perempuan Muslim dinilai memiliki peran strategis untuk memegang kepemimpinan yang lebih berkeadilan, inklusif dan berkelanjutan.
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah, mengatakan tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi dunia yang masih diwarnai perang, konflik, krisis iklim, serta melemahnya solidaritas antarbangsa. Menurutnya, selama lebih dari satu abad perjalanan organisasi, perempuan telah membuktikan kapasitasnya sebagai agen perubahan.
“Selama 109 tahun perjalanan organisasi ini, perempuan telah membuktikan perannya dalam mengatasi konflik, mengentaskan kemiskinan, menjaga lingkungan, serta melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim,” ujarnya dalam International Conference on Aisyiyah Studies (ICAS) 2026 yang berlangsung di Kampus Terpadu Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Kamis (11/6/2026).
Mengusung tema Strengthening Solidarity, Nurturing the Earth: Progressive Muslim Women’s Leadership for a Sustainable Civilization, konferensi internasional tersebut menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-109 'Aisyiyah, peringatan 35 tahun Unisa Yogyakarta.
Membangun peradaban
Konferensi ini bukan sekadar forum akademik, tetapi juga ruang dialog dan kolaborasi untuk memperkuat kerja sama nasional maupun internasional dalam membangun peradaban yang berkemajuan dan berkelanjutan.
Tri menyatakan adanya sejumlah persoalan global yang masih menjadi ancaman serius bagi kehidupan manusia. Saat ini, lebih dari 600 juta penduduk dunia masih hidup dalam kemiskinan ekstrem, sementara kerusakan lingkungan terus memperparah ancaman krisis pangan dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Menurutnya, ketidakadilan ekologis yang memandang bumi semata sebagai obyek eksploitasi telah menimbulkan dampak nyata, mulai dari hilangnya mata pencaharian masyarakat pesisir, meningkatnya suhu bumi, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan dunia.
“Kita menyaksikan ketidakadilan ekologis yang memandang bumi hanya sebagai obyek eksploitasi. Dampaknya adalah hilangnya mata pencaharian masyarakat pesisir, meningkatnya suhu bumi, ancaman krisis pangan dan hilangnya biodiversitas,” katanya.
Membuka peluang
Selain persoalan lingkungan, perkembangan teknologi digital juga menjadi perhatian. Tri menilai ruang digital telah membuka peluang bagi perempuan, kelompok marginal, dan penyandang disabilitas untuk menyampaikan aspirasi mereka.
Namun, di sisi lain, dunia digital juga punya tantangan berupa penyebaran hoaks, ujaran kebencian hingga kekerasan berbasis gender.
“Aisyiyah hadir dengan semangat dakwah lintas batas untuk memakmurkan bumi dan membangun peradaban yang menjunjung keadilan serta perdamaian. Solidaritas menjadi prinsip penting dalam membela kelompok rentan dan mendorong pembangunan yang berkelanjutan,” jelasnya.
Rektor Unisa Yogyakarta, Warsiti, menyebutkan penyelenggaraan ICAS 2026 menjadi momentum penting bagi gerakan perempuan berkemajuan sekaligus bagian dari ikhtiar intelektual menuju Muktamar 'Aisyiyah 2027 di Sumatera Utara.
Kolaborasi global
Menurutnya, dunia saat ini membutuhkan model kepemimpinan yang lebih adil dan berkelanjutan di tengah berbagai krisis kemanusiaan dan ketimpangan sosial.
“Momentum ini menunjukkan bahwa gerakan perempuan berkemajuan tidak hanya diwujudkan melalui pelayanan kepada masyarakat, tetapi juga melalui pengembangan pengetahuan, penelitian dan kolaborasi global,” katanya.
Warsiti menilai perempuan memiliki peran penting dalam membangun solidaritas sosial, memperkuat ketahanan masyarakat, serta memberikan solusi yang inklusif terhadap berbagai persoalan yang dihadapi dunia.
Nilai kepedulian, perdamaian, dan tanggung jawab terhadap lingkungan menjadi modal penting bagi kepemimpinan perempuan dalam membangun peradaban yang berkeadaban.
Nilai kepedulian
“Perempuan berperan penting menanamkan nilai kepedulian, perdamaian dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Karena itu, kepemimpinan perempuan berkemajuan menjadi salah satu kunci dalam pembangunan peradaban yang berkelanjutan dan berkeadaban,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana ICAS 2026, Alimatul Qibtiyah, mengungkapkan tingginya antusiasme peserta terhadap konferensi tahun ini. Panitia menerima 135 abstrak dan berhasil menghimpun 115 makalah lengkap dari akademisi, peneliti, mahasiswa, hingga praktisi dari berbagai wilayah di Indonesia maupun luar negeri.
"Makalah yang masuk membahas beragam isu, mulai dari sejarah, keadilan ekologis, kesehatan, dakwah digital, hingga diplomasi lintas batas," jelasnya.
Jawa menjadi penyumbang makalah terbanyak dengan sekitar 40 paper, disusul Sumatera sebanyak 20 paper, Sulawesi 18 paper, Kalimantan 12 paper dan Nusa Tenggara tujuh paper.
Tiga kecenderungan
Menurut Alimatul, peta penelitian tersebut menunjukkan semakin luasnya jaringan akademisi dan aktivis yang menaruh perhatian terhadap kepemimpinan perempuan Muslim. Terdapat tiga kecenderungan utama dalam perkembangan studi 'Aisyiyah saat ini.
Yakni meningkatnya perhatian terhadap transformasi digital, menguatnya kajian sejarah dan historiografi serta semakin besarnya perhatian terhadap isu keberlanjutan lingkungan dan kepemimpinan perempuan.
Konferensi yang digelar secara hibrida melalui delapan kelas paralel luring dan tujuh kelas paralel daring itu diharapkan tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga melahirkan rekomendasi kebijakan dan jejaring kolaborasi yang mampu memberikan dampak nyata bagi terciptanya masyarakat yang lebih adil, inklusif dan berkelanjutan. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
