Satu Dekade Keroncong Plesiran Menjaga Napas Musik Keroncong

Keroncong Plesiran juga merilis album kompilasi yang mempertemukan 10 kelompok keroncong muda dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka berasal dari Solo, Bandung, Yogyakarta, Situbondo, Ponorogo, Malang, Denpasar, Makassar, Belitung, hingga Tenggarong.

Satu Dekade Keroncong Plesiran Menjaga Napas Musik Keroncong
Konferensi pers Keroncong Plesiran di Plesiran Coffee and Space, Sewon, Bantul, Yogyakarta. (Muhammad zukhronnee Ms/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, BANTUL--Alunan keroncong akan kembali menggema di antara kemegahan Candi Prambanan. Namun perhelatan tahun ini bukan sekadar festival musik tahunan. Bagi para penggagasnya, Keroncong Plesiran 2026 menjadi penanda sebuah perjalanan panjang yang telah ditempuh selama satu dekade untuk menjaga musik keroncong tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Mengusung tema "Wander with the Rhythm of Keroncong", festival keroncong orkestra terbesar di Yogyakarta itu akan berlangsung selama dua hari, 13-14 Juni 2026, di Lapangan Nandi, Kawasan Candi Prambanan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah penyelenggaraannya, Keroncong Plesiran digelar di situs warisan dunia UNESCO yang menjadi salah satu ikon budaya Indonesia.

Pemilihan Prambanan bukan tanpa alasan. Setelah bertahun-tahun berpindah dari satu destinasi wisata ke destinasi lainnya, penyelenggara menilai momentum satu dekade layak dirayakan di lokasi yang memiliki makna budaya kuat, sekaligus mampu menampung antusiasme penonton yang terus bertambah.

Lebih Dekat ke Masyarakat

Perjalanan Keroncong Plesiran sendiri dimulai dari kegelisahan sejumlah pegiat musik yang ingin membawa keroncong lebih dekat dengan masyarakat. Melalui komunitas Symphony Kerontjong Moeda, mereka mencoba menghadirkan keroncong dalam kemasan yang lebih segar, inklusif, dan akrab bagi generasi muda.

Sejak pertama kali digelar, festival ini telah berkelana ke berbagai destinasi wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Mulai dari Bukit Lintang Sewu, Tebing Breksi, Gunung Api Purba Nglanggeran hingga Desa Wisata Tinalah. Konsep tersebut membuat Keroncong Plesiran tidak hanya menjadi pertunjukan musik, tetapi juga sarana promosi pariwisata dan ruang perjumpaan komunitas.

Penasihat Keroncong Plesiran, Aria Nugrahadi, menilai perjalanan sepuluh tahun tersebut menunjukkan bahwa musik keroncong masih memiliki tempat di tengah masyarakat apabila dikemas dengan pendekatan yang tepat.

“Keroncong Plesiran 1 Dekade tentunya memiliki rumusan baru, yaitu menemukan nilai-nilai baru, setidaknya bagaimana memaknai kebudayaan yang kita yakini sebagai kebudayaan asli Indonesia yaitu musik keroncong agar dapat diteruskan ke generasi-generasi selanjutnya,” ujarnya saat konferensi pers pada Rabu (10/6/2026) di Plesiran Coffee and Space, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Semangat itu tercermin dalam konsep penyelenggaraan tahun ini. Berbeda dari konser-konser sebelumnya, Keroncong Plesiran 2026 berlangsung selama dua hari dengan satu panggung utama yang menghadap lanskap megah Prambanan.

Pada hari pertama, Symphony Kerontjong Moeda akan berkolaborasi dengan David Bayu, Is Pusakata, Letto, Aska Rocket Rockers, Okky Kumala Sari, Paksi Band, Kos Atos, dan Serenade. Sementara pada hari kedua akan tampil Armand Maulana, Kunto Aji, Ghea Indrawari, Jimi Multhazam, Egha De Latoya, YKHC, Gadis Gendhis, dan Sinten Remen.

Di balik panggung megah tersebut, proses musikal yang dilakukan justru semakin menegaskan identitas keroncong. Tim Arranger Orkestra Keroncong Plesiran, Flavianus, menjelaskan bahwa seluruh materi lagu terlebih dahulu melalui workshop dan penguatan kombo keroncong sebelum diolah menjadi format orkestra.

"Besok akan ada combo keroncong, yaitu gitar, cak, cuk, dan cello. Sebelumnya kita juga sudah memiliki draft musik dari musisi, kemudian kita kurasi dan olah. Kita ada hearing session, misalnya dari Armand, kita dengarkan dulu lagunya, kemudian diaransemen dengan format keroncong," katanya.

Setiap harinya, sekitar 19 lagu akan dibawakan bersama orkestra. Menurut tim musik, pendekatan tersebut dilakukan agar unsur keroncong tidak sekadar menjadi tempelan, melainkan tetap menjadi ruh utama pertunjukan.

Namun perayaan satu dekade ini tidak hanya menghadirkan panggung musik yang lebih besar. Penyelenggara juga memanfaatkannya sebagai momentum membangun arsip dan warisan bagi generasi mendatang.

Peluncuran Buku Keroncong Plesiran

Salah satu program utama adalah peluncuran buku Keroncong Plesiran 1 Dekade yang mendokumentasikan perjalanan festival selama sepuluh tahun. Buku tersebut turut melibatkan sejumlah penulis dan pegiat budaya untuk merekam perkembangan keroncong serta perjalanan komunitas yang menghidupkannya.

Selain itu, Keroncong Plesiran juga merilis album kompilasi yang mempertemukan 10 kelompok keroncong muda dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka berasal dari Solo, Bandung, Yogyakarta, Situbondo, Ponorogo, Malang, Denpasar, Makassar, Belitung, hingga Tenggarong.

Menurut Ari Kancil, Founder sekaligus Arsitek Festival Keroncong Plesiran, proyek tersebut lahir dari kegelisahan bahwa keroncong selama ini lebih sering dikenang melalui lagu-lagu lama, sementara karya-karya baru dari generasi muda jarang mendapat ruang.

"Kita ingin menunjukkan bahwa keroncong masih terus berkembang. Banyak kelompok muda yang masih menciptakan karya baru dan layak mendapatkan panggung," ujarnya.

Album tersebut akan dirilis dalam format digital sekaligus box set edisi khusus yang berisi kaset pita, buku, stiker, dan berbagai koleksi eksklusif lainnya. Pada momentum yang sama, Keroncong Plesiran juga berkolaborasi dengan Dagadu Djokdja untuk menghadirkan merchandise resmi edisi terbatas.

Perhatian terhadap sejarah dan dokumentasi juga diwujudkan melalui penghormatan kepada maestro keroncong Indonesia, Waldjinah.

Tahun ini, Waldjinah akan menerima Lifetime Achievement Award sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya terhadap perkembangan musik keroncong nasional. Penghargaan tersebut tidak berhenti pada seremoni simbolis.

Penyelenggara bersama Program Studi Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta menyiapkan Katalog Anotasi Waldjinah setebal hampir 700 halaman yang memuat dokumentasi sekitar 45 album karya Waldjinah sepanjang 1985 hingga 2024. Katalog tersebut dilengkapi kode QR yang memungkinkan pembaca mengakses karya-karya sang maestro secara digital.

Selain itu, sebuah film dokumenter tentang perjalanan hidup dan karier Waldjinah juga tengah diproduksi. Pada penyelenggaraan tahun ini, publik akan diperkenalkan terlebih dahulu melalui penayangan teaser film tersebut.

"Kami ingin memberi apresiasi kepada Bu Waldjinah yang bukan sekadar plakat. Dokumentasi ini penting karena keroncong harus tetap ada, berkembang, dan dinikmati lintas generasi," kata Ari Kancil.

Di luar panggung utama, penyelenggara juga berupaya menghadirkan pengalaman festival yang lebih ramah bagi seluruh anggota keluarga. Melalui konsep family-friendly festival, tersedia Kids Area atau Among Bocah yang dilengkapi area bermain dan berbagai aktivitas anak. Pengunjung berusia di bawah tujuh tahun bahkan dapat masuk festival secara gratis.

Ada pula Lounge Plesiran dan Panggung Lirih yang menjadi ruang nostalgia bagi pengunjung untuk menikmati kembali dokumentasi Keroncong Plesiran Volume 1 hingga Volume 9. Sementara Pasar Plesiran menghadirkan pelaku UMKM dan kuliner lokal, serta Plesiran Lounge yang dirancang sebagai ruang santai bagi pengunjung lintas usia.

Bagi Patub dari Letto, keberadaan Keroncong Plesiran selama satu dekade telah membuktikan bahwa keroncong mampu menjadi rumah bersama bagi berbagai kalangan dan genre musik.

Dampak festival ini juga dirasakan sektor pariwisata. Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata DIY, Antarikso Trisno Bawono, mengatakan Keroncong Plesiran telah menjadi salah satu contoh bagaimana kegiatan budaya dapat menggerakkan ekonomi masyarakat.

"Kami sangat bersyukur ada komunitas yang konsisten mengadakan kegiatan budaya seperti ini. Dampaknya nyata bagi masyarakat dan pariwisata DIY," katanya. (*)