Dari Masjid, LDII DIY Bangun Budaya Ramah Lingkungan

Budaya ramah lingkungan diterapkan dalam setiap kegiatan di masjid.

Dari Masjid, LDII DIY Bangun Budaya Ramah Lingkungan
Konferensi pers dan media gathering LDII DIY di Omah Sawan, Sleman. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), transformasi digital hingga ancaman perubahan iklim, DPW Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) DIY memilih memulai perubahan dari ruang yang paling dekat dengan masyarakat, yakni masjid.

Bagi LDII DIY, masjid bukan sekadar tempat ibadah. Rumah ibadah itu didorong menjadi pusat pembentukan karakter, literasi digital, kepedulian lingkungan hingga penguatan budaya gotong royong. Gagasan tersebut menjadi benang merah Musyawarah Wilayah (Muswil) VIII LDII DIY yang digelar, Minggu (26/7/2026).

"Pada intinya, tantangan bangsa Indonesia hari ini tidak cukup diatasi dengan mencetak SDM yang cerdas saja, SDM yang adaptif terhadap teknologi saja. Tetapi kami di LDII sepakat kita butuh yang lainnya, yaitu integritas, kemudian literasi digital, bijak bermedia sosial, dan mengusung gaya hidup berkelanjutan," ujar Atus Syahbudin, Ketua DPW LDII DIY, saat konferensi pers menjelang Muswil VIII LDII DIY, Sabtu (25/7/2026).

Menurut Atus, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan karakter yang kuat agar mampu melahirkan sumber daya manusia profesional religius yang siap menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.

LDII DIY mengoptimalkan fungsi masjid sebagai pusat edukasi masyarakat. Selain menjadi tempat salat dan pengajian, masjid dimanfaatkan untuk membangun budaya hidup berkelanjutan melalui berbagai program berbasis komunitas.

Salah satu program yang telah berjalan adalah pembentukan 313 Kelompok Sedekah Sampah Berbasis Masjid yang diluncurkan bersama Dinas Lingkungan Hidup DIY. Program tersebut mengajak masyarakat mengelola sampah agar memiliki nilai ekonomi sekaligus menjadi amal jariyah.

LDII DIY juga menggagas gerakan Jugangan Ing Masjid (Jugangin Mas) dan Jugangan Ing Omah (Jugangin Om), yaitu pembuatan lubang pengolahan sampah organik di lingkungan masjid maupun rumah. Melalui gerakan itu, warga diajak mengurangi sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir sekaligus meningkatkan resapan air tanah.

Budaya ramah lingkungan juga diterapkan dalam setiap kegiatan di masjid. Penggunaan plastik sekali pakai mulai dikurangi dengan mengganti kemasan makanan menggunakan wadah yang dapat dipakai berulang kali, sementara jemaah didorong membawa tumbler dan menggunakan gelas kaca yang disediakan pengurus masjid.

"LDII hadir itu dari masjid. Kami mengoptimalkan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah salat lima waktu dan pengajian, melainkan juga mengatasi persoalan lingkungan, literasi digital, integritas dan gaya hidup berkelanjutan," kata Atus.

Komitmen tersebut diperkuat melalui pengembangan Program Kampung Iklim (ProKlim), penghijauan, konservasi air, pemanenan air hujan, hingga pemanfaatan energi surya di sejumlah fasilitas yang dikelola LDII DIY.

Di bidang pendidikan, pembentukan karakter dilakukan melalui hampir 500 majelis taklim, Madrasah Diniyah Takmiliyah, boarding school, Satuan Komunitas Gerakan Pramuka, hingga Pondok Pesantren Mahasiswa. Seluruh program diarahkan untuk membentuk generasi yang religius, jujur, disiplin, mampu bekerja sama serta bijak memanfaatkan teknologi digital.

Perhatian pemerintah

Ketua Umum DPP LDII H Dody Taufiq Wijaya menilai langkah yang dilakukan LDII DIY selaras dengan pendekatan eko-teologi yang kini juga menjadi perhatian pemerintah dalam merespons persoalan lingkungan.

Menurutnya, dakwah tidak hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menanamkan tanggung jawab menjaga bumi agar tetap layak dihuni oleh generasi mendatang.

Dia mencontohkan sejumlah pondok pesantren binaan LDII yang mulai menerapkan konsep zero waste, yakni seluruh sampah organik dan anorganik dikelola secara mandiri tanpa dikirim ke tempat pembuangan akhir. Sampah organik diolah menjadi maggot sebagai pakan ternak sehingga membentuk sistem ekonomi sirkular di lingkungan pesantren.

Dody mengatakan perubahan iklim telah menjadi persoalan nyata yang berdampak pada kesehatan, ketahanan pangan, hingga meningkatnya risiko bencana. Karena itu, pendidikan lingkungan perlu menjadi bagian dari dakwah dan pembentukan karakter masyarakat.

Melalui Muswil VIII, LDII DIY menegaskan komitmennya memperkuat delapan bidang pengabdian organisasi, mulai dari kebangsaan, pendidikan, ekonomi syariah, kesehatan, ketahanan pangan, lingkungan, teknologi digital, hingga energi baru terbarukan sebagai kontribusi nyata mendukung Pancamulia DIY dan pembangunan nasional.

Selain menetapkan arah organisasi lima tahun ke depan, Muswil VIII diharapkan menjadi momentum memperluas kolaborasi dalam mencetak SDM profesional religius yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan integritas, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. (*)