Yaaqowiyu 2026 Siapkan Sebar 7 Ton Apem, Pembukaan Berlangsung Meriah
Tradisi Yaaqowiyu ke-407 di Jatinom, Klaten resmi dibuka. Puncak perayaan pada 31 Juli 2026 akan diwarnai penyebaran sekitar 7 ton apem sebagai simbol sedekah dan pelestarian budaya.
KORANBERNAS.ID, KLATEN — Tradisi Yaaqowiyu ke-407 di Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, resmi dibuka pada Kamis (23/7/2026). Puncak perayaan yang digelar pada 31 Juli 2026 dipastikan akan diwarnai penyebaran sekitar 7 ton apem yang berasal dari kecamatan, 17 desa, satu kelurahan, serta sedekah masyarakat.
"Hari ini ada sepuluh rangkaian kegiatan. Acara pembukaan dimulai jam 14.00 WIB dan sudah dimulai tadi pagi dengan pameran lukisan dan gejog lesung," kata Ketua Panitia Perayaan Yaaqowiyu 2026, Poerwono, saat ditemui di sela pembukaan Tradisi Yaaqowiyu 2026 di Jatinom, Kamis (23/7/2026).
Poerwono yang juga menjabat Pelaksana Tugas Kepala Kelurahan Jatinom menjelaskan, pembukaan diawali pameran lukisan karya Sanggar Kang Soer di Kompleks Pasar Jatinom, dilanjutkan pertunjukan kesenian tradisional gejog lesung, kemudian kirab budaya.
Kirab dimulai dari halaman Kantor Camat Jatinom menuju Masjid Gedhe, Masjid Alit, dan berakhir di Oro-oro Jatinom atau bekas Kantor Kelurahan Jatinom. Di lokasi tersebut dilakukan prosesi pemotongan pita.
Peserta kirab terdiri atas marching band MIM Sedayu Tulung, Paguyuban Ibu-ibu Duwur Goa Belan (Durly), marching band SD Negeri 1 Bonyokan Jatinom, petugas Paskibra Kecamatan Jatinom, organisasi purna Paskibra, perguruan pencak silat, sanggar seni anak-anak, serta unsur Forkopimcam Jatinom.
"Tujuannya menguri-uri budaya. Sebab, bangsa yang berbudaya adalah bangsa yang punya jati diri," ujar Poerwono.
Selain pembagian 7 ton apem pada puncak acara, rangkaian perayaan akan ditutup pada 21 Agustus 2026 dengan pagelaran wayang kulit yang menghadirkan dalang Bayu Aji.
Sementara itu, Camat Jatinom Agus Sunyata mengapresiasi sinergi seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan Yaaqowiyu. Menurutnya, perayaan Yaaqowiyu 2025 telah meraih Klaten Award sebagai bentuk pelestarian budaya adiluhung.
"Kedepan, kami berharap tetap dipertahankan sebagai bentuk komitmen dan konsistensi semua pihak," ujarnya.(*)
Masal Gurusinga
