Konsumsi Pertamax Diperkirakan Turun

Pertamina tidak sependapat dengan asumsi terjadinya penurunan konsumsi Pertamax.

Konsumsi Pertamax Diperkirakan Turun
Antrean pembeli pertalite di sebuah SPBU di Kebumen, Jumat (12/6/2026). (istimewa)

KORANBERNAS.ID, KEBUMEN – Pasca-kenaikan harga Pertamax yang mencapai 32 persen, diperkirakan terjadi penurunan konsumsi bahan bakar minyak jenis itu. Meskipun demikian, belanja Pertamax masyarakat tidak terjadi penurunan.

Beberapa pengelola SPBU di Kebumen yang dihubungi koranbernas.id, Jumat (12/6/2026) mengungkapkan, konsumsi Pertamax di perkotaan dengan jumlah masyarakat kelompok menengah ke atas lebih banyak, terjadi penurunan konsumsi Pertamax 10-20 persen. Di luar daerah perkotaan, penurunan konsumsi Pertamax sampai 30 persen.

Sekretaris Hiswana Migas Jateng dan DIY, Sutarto Merti Utomo, mengungkapkan di Kota Kebumen penjualan Pertamax pasca-kenaikan harga antara 10-20 persen. “Penurunan itu lebih disebabkan jumlah belanja Pertamax tetap, sehingga Pertamax yang diperoleh konsumen berkurang,” katanya.

Ketua Primkopti Kebumen, Sulmanudin yang juga pengelola SPBU di Kecamatan Prembun mengungkapkan, terjadi penurunan penjualan Pertamax sampai 30 persen. Sedangkan volume penjualan pertalite stabil. Tidak terjadi penurunan atau kenaikan penjualan Pertalite.

Tidak sependapat

Communication Relation PT Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah, Taufik Kurniawan, tidak sependapat dengan asumsi terjadinya penurunan konsumsi Pertamax pasca kenaikan harga.

Pihaknya baru bisa memberikan kesimpulan pengaruh kenaikan harga Pertamax dengan konsumsi/penjualan, paling tidak sebulan pasca kenaikan harga. Data konsumsi Pertamax pasca kenaikan harga dan sebelum kenaikan harga 32 persen, sebagai dua pembanding baru bisa diperoleh sebulan setelah kenaikan harga.

Pengamatan koranbernas.id di beberapa SPBU sebelum dan sesudah kenaikan harga Pertamax antrean motor di dispenser Pertalite lebih banyak hingga beberapa kali lipat dibandingkan antrean Pertamax. (*)