KB Gantari Mengembalikan Anak pada Fitrah Bermain

Kurikulum nasional tetap digunakan, penerapannya dilakukan secara fleksibel.

KB Gantari Mengembalikan Anak pada Fitrah Bermain
Penampilan seni siswa KB Gantari saat open house di sekolah setempat. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, SLEMAN – Pada sebuah ruang kelas yang riuh oleh tawa dan permainan, anak-anak tumbuh bersama tanpa sekat. Mereka berlari, bernyanyi, membuat karya dan saling menyapa seperti teman sebaya pada umumnya. Sulit membedakan mana anak yang berkembang tipikal dan mana yang membutuhkan pendampingan khusus.

Pemandangan itu menjadi keseharian di Kelompok Bermain (KB) Gantari, sebuah lembaga pendidikan anak usia dini di bawah naungan Pusat Rehabilitasi YAKKUM yang konsisten menerapkan pendidikan inklusif.

Tahun ini, KB Gantari menampung 30 siswa yang terbagi dalam tiga kelas. Dari jumlah tersebut, 12 anak merupakan anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan ragam kondisi, mulai dari autisme, Down syndrome, ADHD, speech delay hingga gangguan motorik.

"Kami memiliki 30 siswa dan 12 di antaranya adalah anak berkebutuhan khusus dengan kondisi yang beragam," ujar Sri Rejeki, Kepala KB Gantari, saat Open House KB Gantari di Kompleks Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Jumat (12/6/2026).

Sesuai kebutuhan

Bagi KB Gantari, pendidikan inklusif bukan sekadar menempatkan ABK dan anak reguler dalam satu ruang belajar. Yang lebih penting adalah memastikan setiap anak mendapatkan pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya.

Kurikulum nasional tetap digunakan, tetapi penerapannya dilakukan secara fleksibel. Jika diperlukan, sekolah menyusun program pembelajaran individual agar potensi setiap anak dapat berkembang secara optimal.

Untuk menjaga kualitas pendampingan, setiap kelas hanya diisi 10 hingga 12 siswa dan didampingi dua tenaga pendidik, yakni guru kelas serta asisten guru. Pola tersebut memungkinkan guru menyesuaikan aktivitas sesuai kemampuan masing-masing anak.

"Target capaian setiap anak berbeda. Saat mengenalkan tema pesawat misalnya, ada yang membuat pesawat dari plastisin, ada yang melakukan aktivitas bermain lainnya. Jadi kegiatannya tidak hanya satu," jelas Sri Rejeki.

Merasa nyaman

Pendekatan serupa diterapkan dalam kegiatan circle time atau sesi berkumpul bersama. Anak yang belum siap bergabung tidak dipaksa mengikuti aktivitas kelompok. Mereka diberi ruang untuk mengenal lingkungan kelas hingga merasa nyaman.

Meski berlokasi di Ngaglik Sleman, KB Gantari menerima siswa dari berbagai daerah, seperti Turi, Bantul, Purworejo bahkan Papua. Sebagian di antaranya mengikuti program belajar selama satu semester sambil menjalani terapi di Pusat Rehabilitasi YAKKUM.

Sri Rejeki mengakui, tantangan terbesar biasanya muncul pada masa awal sekolah. Guru perlu membangun rasa aman dan kepercayaan anak setelah berpisah dari orang tua. Namun seiring waktu, anak-anak mulai memahami aturan, berinteraksi dengan teman sebaya dan beradaptasi secara alami.

Perhatian sekolah juga tidak hanya tertuju pada siswa. Orang tua, terutama yang mendampingi anak berkebutuhan khusus, dinilai membutuhkan dukungan emosional agar tetap sehat secara mental dalam menjalani proses pengasuhan.

Situasi menantang

"Pengasuh anak-anak, apalagi yang berkebutuhan khusus, tentu tidak lepas dari stres dan tekanan. Karena itu kami mengadakan kegiatan relaksasi, mengajarkan teknik pernafasan dan cara merilis ketegangan otot saat menghadapi situasi yang menantang," katanya.

Di tengah meningkatnya pengaruh gawai pada anak usia dini, KB Gantari juga berupaya menghidupkan kembali pengalaman belajar yang berpusat pada aktivitas fisik, eksplorasi dan interaksi langsung. "Kami ingin mengembalikan fitrah anak seperti dulu, yaitu fitrah anak yang bergerak dan bermain," ujarnya.

Komitmen tersebut akan kembali diperkenalkan kepada masyarakat melalui Open House KB Gantari 2026 bertema Tumbuh Tanpa Ketergantungan Layar: Menghadirkan Ruang Bermain dan Belajar yang Bermakna bagi Anak Usia Dini. Kegiatan itu menghadirkan pentas seni anak, kelas bermain sensorik, lomba fashion show, hingga talkshow parenting tentang tantangan pengasuhan di era digital.

Pendekatan yang diterapkan sekolah dirasakan langsung manfaatnya oleh para orang tua. Monica Trisna, warga Turi, Sleman, mengaku melihat perubahan signifikan pada putrinya, Josea Rosela, sejak bersekolah di KB Gantari pada Agustus 2025.

Belajar langsung

Meski tidak mengikuti proses belajar secara langsung di kelas, Monica menilai perkembangan anaknya sangat positif. Sekolah juga rutin mengirimkan laporan mingguan mengenai tema dan aktivitas yang dipelajari.

"Apa yang diterima di kelas secara detail kami tidak tahu, tetapi kami merasakan efek yang bagus dari anak. Setiap minggu ada laporan kegiatan yang dikirimkan kepada orang tua," ujarnya.

Menurut Monica, perubahan paling terasa terlihat pada kemandirian Josea. Kini putrinya terbiasa bangun pagi, mandi, sarapan, hingga mengenali pakaian yang digunakan untuk sekolah maupun beribadah.

Dia juga melihat perubahan besar dalam penggunaan gawai. Jika sebelumnya layar kerap menjadi pengalih perhatian saat anak tantrum, kini ketergantungan tersebut jauh berkurang karena anak lebih tertarik melakukan aktivitas sensori dan mengeksplorasi lingkungan sekitar.

Tumbuh mandiri

"Sangat berbeda. Dulu screen time cukup sering, sekarang jauh berkurang. Anak jadi lebih suka bermain dan bereksplorasi," katanya.

Kini, Josea lebih senang bermain air dan tanah dibanding menghabiskan waktu di depan layar. Bagi Monica, perubahan sederhana itu menjadi bukti bahwa ruang bermain yang tepat dapat membantu anak tumbuh lebih mandiri, aktif dan percaya diri. (*)