Sekolah Vokasi UGM Dorong Riset Terapan Berdampak Nyata
Tahun ini, seminar diikuti 168 peserta dari berbagai disiplin ilmu, terdiri atas 164 peserta dari UGM dan empat peserta dari universitas serta industri lain.
KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) kembali menggelar Seminar Nasional Teknologi Terapan (SNTT) 2025 di Gedung Teaching Industry Learning Center (TILC) SV UGM.
Kegiatan tahunan ini menjadi ruang pertemuan para peneliti, akademisi, industri dan pemerintah untuk berbagi ide, memperkuat kolaborasi serta mendorong riset terapan menuju tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs).
Dengan tema Gerakan Riset Terapan yang Berdampak Nyata dan Berkelanjutan, SNTT 2025 menegaskan pentingnya riset terapan sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.
Tahun ini, seminar diikuti 168 peserta dari berbagai disiplin ilmu, terdiri atas 164 peserta dari UGM dan empat peserta dari universitas serta industri lain seperti Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro dan Petrolink Indonesia. Bidang keilmuan dibagi ke dalam empat klaster besar meliputi Sosiohumaniora, Sains dan Teknologi, Agro serta Kesehatan.
Berbagai produk
Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat SV UGM, Dr Wiryanta ST MT menginginkan kegiatan ini tidak berhenti pada seremoni tahunan. “Mudah-mudahan dari inisiasi seminar ini bisa lahir berbagai produk Sekolah Vokasi yang dapat dikolaborasikan dengan industri," katanya, Sabtu (25/10/2025).
"Tema ini mendukung SDGs dan diharapkan dapat mendorong kemajuan bangsa di bidang sains dan teknologi serta memberi inspirasi teman-teman untuk berbuat lebih,” tambahnya.
Sementara itu, Dekan SV UGM Prof Dr Ing Ir Agus Maryono IPM ASEAN Eng menyebutkan riset terapan sebagai jantung pendidikan vokasi. “Kita punya delapan departemen, jadi kecuali filsafat dan politik, semua ada di Sekolah Vokasi. Tema ‘Nyata’ dimaknai sebagai kemampuan untuk menganalisis dan menyelesaikan masalah secara langsung,” jelasnya.
"Sebagai pendidikan terapan, kita harus mampu menjawab persoalan di masyarakat --dan itu tantangan besar bagi kita semua,” lanjutnya.
Dunia kerja
Dia menambahkan, tingkat keterserapan mahasiswa SV UGM sebelum lulus telah mencapai 51 persen, menunjukkan kuatnya relevansi antara pembelajaran vokasi dan kebutuhan dunia kerja.
Apresiasi juga datang dari Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha dan Kerja Sama UGM, Dr Danang Sri Hadmoko S Si M Sc, yang menilai forum seperti SNTT memiliki makna strategis bagi penguatan riset terapan.
“Inilah wujud nyata semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang selaras dengan misi UGM. Penelitian bukan hanya tentang publikasi, tetapi bagaimana hasil riset dapat memberikan manfaat konkret bagi masyarakat, dunia usaha dan industri,” ungkap Danang.
Sesi utama seminar menghadirkan tiga pembicara yaitu Dr Fauzan Adziman ST M Eng selaku Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi RI, Dr Eng Agustinus Winarno ST M Eng (dosen SV UGM) serta Dwi Handri Kurniawan MBA selaku CEO PT Trimitra Sistem Solusindo.
Dunia usaha
Diskusi yang dimoderatori oleh Dr Yudistira Hendra Permana SE M Sc Ph D itu mengupas strategi hilirisasi riset, kolaborasi akademik-industri, hingga transformasi digital di dunia usaha.
Melalui SNTT 2025, Sekolah Vokasi UGM menegaskan komitmennya membangun ekosistem riset kolaboratif antara akademisi, industri, dan pemerintah. Sinergi lintas sektor ini diharapkan melahirkan inovasi yang solutif, berkelanjutan, dan benar-benar berdampak bagi masyarakat. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
