Seniwati Rendah Hati Mbok Beruk Meninggalkan Panggung Hiburan

Sugeng tindak Mbok Beruk. Matur nuwun sampun nglelipur ati....
Seniwati Rendah Hati Mbok Beruk Meninggalkan Panggung Hiburan
Jenazah Sumisih Yuningsih akan diangkat untuk prosesi brobosan sebelum dibawa ke pemakaman. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Dunia seni Yogyakarta sedang merasakan duka yang mendalam dan menyentuh hati para seniman. Sumisih Yuningsih, sosok yang dikenal dan dihormati sebagai Mbok Beruk, telah berpulang.

Pada Sabtu (14/2/2026) pukul 08.40 WIB di RSUP Dr. Sardjito, maestro ketoprak dan ikon Dagelan Mataram ini menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 76 tahun.

Meski infeksi paru-paru yang diidapnya mungkin telah menghentikan detak jantungnya, namun tidak akan pernah bisa memadamkan api semangat yang ia wariskan.

Isyarat Pamit dalam Tarian Gambyong

Bulan Januari lalu, ada suatu momen yang kini terasa begitu ajaib. Di tengah perayaan ulang tahunnya yang sederhana, naluri seni Mbok Beruk berbicara lebih keras daripada rasa sakit di tubuhnya yang renta.

Daruni Yutta, dosen ISI Yogyakarta sekaligus sahabat dekatnya, menjadi saksi langsung momen "pamitan" yang menggetarkan ini.

"Saat itu saya dan Mbak Yati Pesek sedang menari. Tiba-tiba, beliau yang kondisinya sudah tidak kuat duduk lama, bangkit. Beliau tidak bisa menahan diri untuk ikut turun menari Gambyong," kenang Daruni membagikan ceritanya kepada awak media dengan suara yang bergetar.

Itulah Mbok Beruk. Figur yang jiwa dalam dirinya selalu berteriak, "Pokoke kudu pentas!" (Harus pentas) tanpa peduli kondisi apapun. Tarian itu kini dikenang sebagai tarian terakhir; sebuah manifestasi cinta yang melampaui batas fisik.

"Ngeyel" di Panggung, "Semanak" di Hati

Di televisi, terutama dalam lakon Obrolan Angkringan TVRI Yogyakarta, kita mengenalnya sebagai karakter yang ngeyelan, cablak, dan kadang menyebalkan. Namun, ketika lampu sorot mati, Sumisih Yuningsih adalah kebalikan dari peran-perannya.

Aktor senior Pritt Timothy merasakan betul betapa hangatnya sosok "Simbok" ini. Bagi Pritt dan komunitas seniman Yogyakarta, Mbok Beruk adalah definisi dari prasaja (sederhana) dan andhap asor (rendah hati).

"Beliau itu aktingnya natural, tapi kepribadiannya luar biasa. Semanak dan gapyak (mudah bergaul)," ujar Pritt saat dihubungi.

Pritt mengenang sebuah kisah yang melukiskan ketulusan hati almarhumah. Saat Pritt menyutradarai pentas ketoprak lakon Suminten Ngédan di UPN Veteran, Mbok Beruk—seorang maestro besar—tanpa diminta turun tangan membantu urusan kostum (wardrobe).

"Beliau sangat kooperatif dan perhatian. Padahal saya sutradaranya, tapi beliau yang repot membantu," kenangnya.

Sikap keibuan inilah yang membuat banyak seniman muda merasa kehilangan sandaran.

Dedikasi Tanpa Tapi

Kisah keteguhan hati Mbok Beruk juga terekam jelas di mata Johar Fanjaya, salah satu musisi yang kerap mengiringi Obrolan Angkringan. Johar menuturkan bahwa tim produksi sebenarnya telah memberi "lampu hijau" bagi Mbok Beruk untuk beristirahat total dalam beberapa bulan terakhir.

"Mbok Dhe sudah diberi kebebasan untuk tidak hadir saat tapping," ungkap Johar.

Namun, studio adalah rumah keduanya. Meski kesehatan beliau jelas menurun, beliau tetap sering datang. Bagi Mbok Beruk, absen dari panggung mungkin terasa lebih menyakitkan daripada sakit itu sendiri.

Semangat keras ini juga diakui oleh putrinya, Lisa Pawestriningsih. Di rumah duka Sanggar Busana Nawangsih, Mantrijeron, Lisa mengenang ibunya sebagai "perempuan kuat bagi ketujuh anaknya" yang memegang teguh ikrar untuk berkesenian hingga akhir hayat.

Selamat Jalan, Legenda

Sabtu sore (14/2/2026), iring-iringan jenazah bergerak perlahan menuju Makam Dongkelan, Bantul. Di sanalah jasad sang maestro akan beristirahat dari lelahnya dunia, menyusul jejak para pendahulunya yang telah lebih dulu berpulang.

Yogyakarta mungkin kehilangan tawa renyahnya. Panggung ketoprak mungkin kehilangan spontanitasnya yang jenius. Namun, Sumisih Yuningsih telah mengajarkan kita satu hal: bahwa seniman sejati tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berpindah panggung, menari dalam keabadian ingatan kita semua.

Sugeng tindak Mbok Beruk. Matur nuwun sampun nglelipur ati.... (*)