Shadu Rasjidi Jadi Kurator, Ruh Prambanan Jazz Kembali

Putra mendiang maestro jazz Indonesia, Idang Rasjidi, itu telah lama dikenal sebagai bassist yang aktif di berbagai proyek jazz, pop, hingga rock.

Shadu Rasjidi Jadi Kurator, Ruh Prambanan Jazz Kembali
Shadu Rasjidi (paling kiri) saat konferensi pers Prambanan Jazz 2026 di Kompleks Candi Prambanan. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Prambanan Jazz Festival (PJF) 2026 mengambil langkah strategis untuk menjawab kritik publik terkait identitas festival dengan menunjuk Shadu Rasjidi sebagai kurator.

Musisi muda yang dikenal sebagai bassist lintas genre itu dipercaya menyusun arah artistik festival agar tetap berakar pada jazz, sekaligus terbuka terhadap perkembangan musik masa kini.

Founder Prambanan Jazz Festival, Anas Syahrul Alimi, mengatakan penunjukan Shadu merupakan upaya menjaga keseimbangan antara idealisme jazz dan kebutuhan menghadirkan festival yang inklusif.

"Prambanan Jazz yang saya impikan adalah festival yang tetap berakar pada jazz, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan berbagai genre. Karena itu kami menghadirkan kurator yang memahami ekosistem jazz sekaligus terbuka terhadap perkembangan musik hari ini," kata Anas saat konferensi pers, Kamis (2/7/2026), di Kompleks Candi Prambanan, Sleman, Yogyakarta.

Anas menyatakan festival tidak sedang mempertentangkan jazz dan nonjazz. "Kami tidak sedang memilih antara jazz atau non-jazz. Yang kami bangun adalah keseimbangan agar festival ini tetap memiliki ruh jazz, sekaligus mampu menjangkau audiens yang lebih luas," ujarnya.

Shadu bukan nama baru di dunia musik. Putra mendiang maestro jazz Indonesia, Idang Rasjidi, itu telah lama dikenal sebagai bassist yang aktif di berbagai proyek jazz, pop, hingga rock. Dia juga merupakan personel band metal Deadsquad. Pengalaman lintas genre tersebut menjadi modal penting dalam merancang kurasi PJF 2026.

Kritik berkah

Mengawali debutnya sebagai kurator, Shadu mengaku sempat gugup. Namun dia menilai kritik yang selama ini membanjiri sosial media setiap menjelang penyelenggaraan Prambanan Jazz merupakan bentuk kepedulian publik terhadap festival tersebut.

"Bagi saya, kritik itu berkah. Itu tanda banyak orang sayang dengan festival ini. Tugas saya sebagai kurator adalah mendengarkan suara-suara tersebut, lalu menterjemahkannya menjadi langkah nyata di atas panggung," ujarnya.

Di bawah arahannya, komposisi PJF 2026 komposisi lebih seimbang. Unsur jazz diperkuat dengan kehadiran pianis peraih nominasi Grammy Joey Alexander yang akan berkolaborasi dengan Dewa Budjana dan Natasha dari Socius.

Festival juga diikuti nama-nama besar seperti Trisum, Karimata dan Margie Segers melalui Langgam Stage, panggung khusus yang didedikasikan bagi pertunjukan jazz.

Di sisi lain, PJF tetap mempertahankan program Playing Jazz, yang mengajak musisi lintas genre seperti The Panturas dan Perunggu mengeksplorasi musik jazz.

Bagi Shadu, keberhasilan Prambanan Jazz tidak hanya diukur dari kemeriahan panggung, tetapi juga dari dampaknya terhadap ekosistem musik, mulai dari musisi, kru produksi, pelaku UMKM, sponsor, hingga masyarakat sekitar.

Dia berharap festival ini mampu membuat lebih banyak generasi muda mengenal dan mencintai jazz sebagai bagian dari perkembangan musik Indonesia.  (*)