Napak Tilas Jejak Pengasingan Bung Karno di Bengkulu (3-Selesai)

Rumah Tempat Kelahiran Fatmawati Masih Terawat, Jadi Museum
Napak Tilas Jejak Pengasingan Bung Karno di Bengkulu (3-Selesai)
Rumah Kediaman Fatmawati di pusat kota Bengkulu. (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, BENGKULU -- Tidak jauh dari Rumah Kediaman Bung Karno di Bengkulu, terdapat Rumah Kediaman Fatmawati yang terletak di pusat kota Bengkulu. Di rumah panggung kayu inilah tempat Fatmawati dilahirkan, tumbuh remaja, belajar menjahit hingga akhirnya dipersunting oleh Bung Karno.

Marwan Ahmad Nadin yang ditugaskan menjaga dan mengawasi rumah tersebut menceritakan masa lalu kawasan itu. "Dulu depan rumah ini masih banyak tanah kosong, sekelilingnya seperti hutan meskipun jalan raya sudah ada," kenangnya.

Kepada anggota Komisi A DPRD DIY serta Wartawan Unit DPRD DIY, Kamis (11/6/2026), dia menceritakan rumah tinggal ini direnovasi dan kini menjadi museum pusaka sejak tahun 1990-an.

Di dalam museum ini, pengunjung dapat melihat mesin jahit asli bermerek Singer yang digunakan Fatmawati untuk menjahit Bendera Pusaka, yang sengaja dibawa pulang dari Jakarta ke Bengkulu demi melengkapi sejarah museum. Selain itu, ranjang tidur kayu asli milik keluarga juga masih terawat meski bagian kasurnya sudah diganti. Terdapat pula foto-foto hitam putih yang menjadi rekaman peristiwa masa lalu.

Kunjungan Komisi A DPRD DIY ke Rumah Kediaman Fatmawati di Bengkulu. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Di mata keluarga dan masyarakat Bengkulu, Fatmawati dikenang sebagai sosok yang luar biasa namun tetap membumi. "Beliau itu orang yang sangat terhormat, tetapi sama masyarakat tidak sombong dan sangat merakyat," kata Marwan.

Setelah Indonesia merdeka, Fatmawati tercatat beberapa kali menyempatkan diri pulang kampung untuk mengunjungi rumah masa kecilnya tersebut. Baik Rumah Bekas Kediaman Bung Karno maupun Rumah Kediaman Fatmawati telah dikelola oleh pemerintah setempat sebagai destinasi wisata sejarah unggulan.

Antusiasme wisatawan terus mengalir tiada henti. Pada hari biasa (weekdays), minimal ada sekitar 50 pengunjung yang datang per hari. Sementara pada akhir pekan (weekend Sabtu-Minggu), jumlah kunjungan melonjak drastis hingga mencapai ratusan orang dari berbagai daerah.

Lahir pada tahun 1923, Fatmawati tumbuh sebagai sosok remaja yang memiliki kepedulian sosial tinggi dan bervisi merdeka. Fatmawati merupakan anak tunggal dari pasangan Hassan Din dan Siti Chadidjah yang dikenal sebagai tokoh pergerakan persyarikatan Muhammadiyah di Bengkulu.

Visi perjuangan

"Sosok Ibu Fatmawati sejak remaja adalah seorang aktivis, meski belum terorganisir secara formal. Beliau menjadi contoh nyata bagi generasi muda bahwa sejak kecil kita harus memiliki visi perjuangan," kata Sofyan, anggota Komisi A DPRD DIY.

Sependapat, Yuni Satia Rahayu menyatakan perlunya generasi masa kini tidak melupakan sejarah perjuangan pendirian bangsa ini didukung kuat oleh nilai-negara agama dan berbagai suku. (*)