Hapus Sekat, ARTJOG 2026 Digelar Mulai 19 Juni

Seni menjadi jembatan perjumpaan manusia dari berbagai latar belakang.

Hapus Sekat, ARTJOG 2026 Digelar Mulai 19 Juni
Direktur ARTJOG, Heri Pemad, saat konferensi pers, Kamis (11/6/2026), di Wanasekar Resort Yogyakarta. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Yogyakarta kembali bersiap menjadi pusat perayaan seni rupa kontemporer. Mulai 19 Juni hingga 30 Agustus 2026, Jogja National Museum (JNM) akan digelar dan menjadi ruang utama gelaran ARTJOG 2026 yang kembali dikenal sebagai “Lebaran Seni”.

Tahun ini, perayaan tersebut dikemas dengan warna berbeda yaitu penekanan kuat pada ruang inklusif yang mempertemukan lintas generasi dan difabel dalam satu ekosistem seni.

ARTJOG memulai seri pertama trilogi kuratorial bertajuk Ars Longa: Generatio di bawah kurasi Farah Wardani. Tema ini tidak hanya membicarakan pewarisan seni antargenerasi, tetapi juga bagaimana seni menjadi jembatan perjumpaan manusia dari berbagai latar belakang, termasuk komunitas difabel.

Melalui program Love ARTJOG yang berkolaborasi dengan Tab Space, ARTJOG membuka ruang partisipasi bagi praktisi seni difabel untuk terlibat dalam ekosistem seni di Yogyakarta. Pada saat yang sama, festival ini juga menggandeng pelajar SD hingga SMA untuk menjadi relawan pendamping bagi difabel selama pameran berlangsung, khususnya pada masa libur sekolah.

Bukan musiman

Direktur ARTJOG, Heri Pemad, menyebutkan langkah ini sebagai upaya memperluas akses dan membangun budaya seni yang lebih setara. “Kami ingin ARTJOG menjadi ruang perjumpaan yang inklusif. Keterlibatan pelajar sebagai pendamping difabel bukan sekadar program musiman, tetapi upaya menumbuhkan empati dan membuka akses yang lebih luas dalam ekosistem seni,” ujarnya saat konferensi pers, Kamis (11/6/2026), di Wanasekar Resort Yogyakarta.

Semangat inklusivitas juga tercermin dalam dua pendekatan pameran utama, Dialogus dan Practica. Dialogus menekankan kolaborasi antargenerasi untuk memperluas jejaring seniman muda.

Tahun ini, ARTJOG menampilkan karya 25 seniman undangan lintas generasi, 19 seniman muda di bawah 35 tahun, serta 52 anak dan remaja melalui program ARTJOG Kids. Di area luar, pengunjung akan disambut instalasi fasad, patung dan ruang imersif hasil karya seniman komisi Roby Dwi Antono.

Di dalam ruang pamer, ada sejumlah kolaborasi di antaranya Aliansyah Caniago X Dani Huda, Eko Nugroho & Versus Project, Dolorosa Sinaga serta desainer grafis Hermawan Tanzil dan Syska La Veggie.

Kontemporer

Sementara pada segmen Practica, karya-karya personal dari seniman muda seperti Alexander Sebastianus Hartanto, Eldwin Pradipta dan FJ Kunting menyoroti dinamika sosial kontemporer.

Energi ARTJOG turut meluas ke berbagai ruang kota melalui sinergi Jogja Art Weeks (JAW), Festicity, dan Chapter Jogja sebagai art fair kolaboratif yang memperkuat ekosistem seni Yogyakarta.

Lewat Program The Others Lab yang didukung TACO Laminate Indonesia dan Studio Banda Bali, digelar lokakarya eksperimental yang mengajak publik membaca ulang isu keberlanjutan melalui desain sehari-hari.

Sementara itu, Merchandise Project berkolaborasi dengan sejumlah kreator dan jenama seperti Sirin Farid Stevy, Didit Hediprasetyo, Pable Indonesia, Dagadu dan Rumah Atsiri Indonesia.

Lintas negara

Setiap akhir pekan, panggung performa•ARTJOG yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation dimeriahkan pertunjukan lintas negara bersama IFI Yogyakarta dan Project Eleven Australia. Di antaranya penampilan Violet Indigo dan Watchdog asal Prancis serta kolaborasi Monica Lim, Patrick Hartono, Morgan May, Serenata Choir ISI Yogyakarta dan Australian Art Orchestra.

Dua pertunjukan utama, yakni teater Daughters of the Sea oleh Artistique Theatre dan koreografi Ma’Bua’ karya Deniel Lebang, menjadi sorotan utama. Di antara kemegahan karya dan pertunjukan internasional, keberadaan pelajar yang mendampingi difabel menjadi salah satu wajah paling humanis dari ARTJOG 2026. (*)