Mahasiswa dan Santri di Yogyakarta Serukan Indonesia Damai
Kami melihat masih ada pihak-pihak yang terus menyudutkan pemerintah tanpa didukung data yang benar.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Di tengah derasnya arus perdebatan politik dan berbagai narasi yang berseliweran di ruang publik, puluhan mahasiswa, santri, pelajar dan pegiat budaya menggelar aksi damai di Bundaran UGM, Sabtu (30/5/2026). Mereka menyerukan pentingnya menjaga persatuan dan kedamaian bangsa dan menolak segala bentuk provokasi yang dinilai berpotensi memecah belah masyarakat.
Aksi yang dikemas dengan nuansa budaya dan spiritual itu dilengkapi berbagai simbol perdamaian. Selain mengenakan pakaian tradisional dan blangkon, peserta juga menampilkan kesenian jatilan, hadrah serta melakukan pelepasan burung merpati sebagai simbol persatuan dan kedamaian.
Koordinator Lapangan Gerakan Mahasiswa Pelestari Budaya Indonesia, Ahmad Tomi Wijaya, mengatakan aksi tersebut lahir dari keprihatinan terhadap semakin maraknya narasi provokatif yang beredar di masyarakat.
Menurutnya, kritik terhadap pemerintah merupakan hak setiap warga negara yang dijamin konstitusi. Namun, kritik tersebut harus disampaikan secara bertanggung jawab dan berdasarkan data yang valid, bukan dengan menebarkan ketakutan atau memprovokasi masyarakat.
Memperkeruh suasana
"Hari ini kami menyampaikan penolakan terhadap segala bentuk provokasi yang bersumber dari mana pun. Kami melihat masih ada pihak-pihak yang terus menyudutkan pemerintah tanpa didukung data yang benar. Padahal pemerintah sedang berupaya membangun bangsa dan negara," kata Ahmad Tomi di sela kegiatan.
Dia menyatakan kampus sebagai ruang intelektual semestinya menjadi tempat lahirnya gagasan yang mencerdaskan masyarakat. Pihaknya menyayangkan apabila ada kelompok atau individu yang menggunakan identitas akademik untuk menyampaikan narasi yang dinilai dapat memperkeruh suasana.
Menurut Ahmad, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam demokrasi. Namun, masyarakat perlu waspada terhadap berbagai informasi yang dapat memicu polarisasi dan konflik sosial.
"Kalau mau mengkritik pemerintah silakan, karena itu dijamin undang-undang. Tetapi jangan sampai memprovokasi masyarakat dengan ketakutan-ketakutan yang tidak berdasarkan fakta. Itu yang kami sayangkan," ujarnya.
Dua slogan
Aksi tersebut mengusung pesan "Jaga Indonesia" dan "Jaga Jogja". Bagi para peserta, kedua slogan itu menjadi ajakan untuk merawat persatuan di tengah berbagai dinamika sosial dan politik yang berkembang saat ini.
Di tengah suasana aksi, sejumlah peserta membentangkan spanduk berisi ajakan menjaga kebersamaan. Mereka juga menggelar doa bersama sebagai bentuk harapan agar kondisi sosial di Indonesia tetap kondusif.
Pelepasan merpati menjadi salah satu momen yang menarik perhatian masyarakat yang melintas. Burung-burung itu dilepas ke udara sebagai simbol harapan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh berbagai bentuk provokasi.
"Merpati adalah simbol kedamaian. Kami ingin mengajak semua pihak untuk menjaga kebersamaan dan tidak mudah terpancing oleh narasi yang memecah belah," kata Ahmad.
Pesan persatuan
Selain simbol perdamaian, panitia juga menggelar pertunjukan hadrah. Kesenian bernuansa Islami tersebut dipilih karena sarat dengan pesan persatuan dan nilai-nilai kebersamaan.
"Di dalam hadrah terdapat syair-syair yang membangun persatuan dan mendamaikan masyarakat. Karena itu kami ingin mengedepankan pendekatan budaya dan spiritual dalam menyampaikan pesan ini," ujarnya.
Sementara itu, kesenian jatilan dipilih sebagai representasi budaya lokal yang telah lama hidup di tengah masyarakat Yogyakarta. Penampilan tersebut menjadi penegasan bahwa budaya dapat menjadi sarana efektif untuk mempererat persaudaraan dan memperkuat identitas kebangsaan.
Para peserta menilai Indonesia saat ini membutuhkan lebih banyak ruang dialog daripada pertentangan. Mereka berharap perbedaan pandangan yang muncul di masyarakat tidak berkembang menjadi konflik yang mengancam persatuan nasional.
Lebih kritis
Dalam orasinya, peserta juga mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam menerima informasi yang beredar, terutama di sosial media. Mereka menekankan pentingnya melakukan verifikasi atau tabayyun sebelum mempercayai dan menyebarkan sebuah informasi.
Pesan tersebut dinilai relevan di tengah maraknya penyebaran informasi yang belum tentu terverifikasi. Menurut mereka, kemampuan masyarakat untuk memilah informasi menjadi salah satu kunci menjaga ketahanan sosial di era digital.
Aksi berlangsung tertib dan mendapat perhatian warga yang berada di sekitar lokasi. Melalui perpaduan budaya, spiritualitas, dan pesan kebangsaan, para peserta berharap seruan menjaga persatuan dapat menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun di atas keberagaman yang harus dirawat bersama.
Bagi mereka, perbedaan pandangan politik seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling bermusuhan. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa, menjaga kedamaian dan persatuan dinilai menjadi tugas bersama seluruh elemen masyarakat. "Marilah kita bangun Indonesia secara bersama-sama. Jaga Indonesia, jangan sampai terpecah belah," kata Ahmad. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
