Riset Megathrust Bukan untuk Menebar Ketakutan
Komunikasi publik terkait potensi megathrust selama ini mungkin belum sepenuhnya dipahami masyarakat.
KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Prof Dwikorita Karnawati, menyatakan kajian mengenai potensi gempa megathrust bukanlah upaya menebar ketakutan, melainkan bagian dari riset ilmiah untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana.
Pada saat yang sama, Pemerintah Kabupaten Bantul terus memperkuat sistem mitigasi dengan menyiapkan puluhan titik evakuasi dan jaringan peringatan dini di kawasan pesisir selatan.
"Kami mohon maaf barangkali komunikasi kami belum pas. Tapi sebetulnya yang dilakukan oleh para peneliti itu adalah bahan untuk dibahas dalam seminar ilmiah," ujarnya saat berbicara dalam seminar 20 Tahun Gempa Jogja dan Antisipasi Gempa Bumi Megathrust Jawa, Sabtu (30/5/2026), di UGM.
Menurut Dwikorita, hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara pasti kapan gempa bumi akan terjadi. Karena itu, hasil penelitian mengenai zona megathrust tidak boleh dimaknai sebagai ramalan, melainkan dasar ilmiah untuk menyusun langkah mitigasi dan kesiapsiagaan.
Tiga kawasan
Dia menjelaskan, para peneliti terus memantau sejumlah zona seismic gap atau wilayah yang lama tidak mengalami gempa besar sehingga berpotensi menyimpan akumulasi energi. Tiga kawasan yang menjadi perhatian antara lain Mentawai, Selat Sunda bagian selatan dan jalur timur Indonesia.
Dwikorita menambahkan, hasil riset tersebut telah menjadi dasar penyusunan berbagai infrastruktur tahan bencana, termasuk pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA) yang dirancang menggunakan skenario terburuk gempa dan tsunami.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Bantul Mujahid Amrudin mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan 18 Tempat Evakuasi Sementara (TES) dan lima Tempat Evakuasi Akhir (TEA) di sepanjang sekitar 17 kilometer garis pantai selatan Bantul.
"Kami sudah menetapkan 18 titik Tempat Evakuasi Sementara (TES). Selain itu, disiapkan pula 5 titik Tempat Evakuasi Akhir (TEA) yang berada di zona aman yang lebih tinggi," ujarnya.
Relatif aman
Lokasi TEA tersebut berada di sejumlah kawasan yang relatif aman dari ancaman tsunami. Selain memperkuat infrastruktur evakuasi, BPBD Bantul juga mengandalkan modal sosial masyarakat yang terbukti saat penanganan Gempa Bantul 2006.
"Saat ini terdapat 27 komunitas relawan berbasis masyarakat yang disiagakan untuk mendukung respons kebencanaan," kata dia.
Menurut Mujahid, semangat gotong royong atau rewangan yang menjadi kekuatan utama saat pemulihan pascagempa 2006 terus dipertahankan sebagai fondasi kesiapsiagaan menghadapi ancaman tsunami.
BPBD Bantul juga rutin menggelar simulasi evakuasi dan melakukan uji coba sirine Early Warning System (EWS) di 29 titik setiap tanggal 26 setiap bulan guna memastikan sistem peringatan dini berfungsi optimal. "Pengetahuan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar kita semua siap untuk selamat," kata Mujahid. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
