BEM Pesantren Seluruh Indonesia Gelar Aksi Spiritual
Kebebasan berpendapat dalam negara demokrasi harus tetap berada dalam koridor konstitusi, etika publik dan semangat menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
KORANBERNAS.ID, JAKARTA -- Sejumlah mahasiswa tergabung dalam BEM Pesantren Seluruh Indonesia menggelar aksi spiritual dan kebangsaan di kawasan Komunitas Utan Kayu Jakarta Timur, Rabu (15/5/2026).
Melalui siaran pers, Rabu (13/5/2026) malam, Koordinator Pusat BEM Pesantren Seluruh Indonesia Ahmad Tomy Wijaya sekaligus yang memimpin aksi itu menyatakan kegiatan ini digelar sebagai bentuk keprihatinan terhadap berkembangnya narasi-narasi provokatif yang dinilai berpotensi memecah belah persatuan bangsa dan mengganggu stabilitas nasional.
Menurutnya, aksi sengaja dilakukan di kawasan Komunitas Utan Kayu karena lokasi ini menjadi tempat berlangsungnya forum dan penyampaian pernyataan seorang tokoh publik yang dinilai sejumlah pihak mengandung narasi provokatif dan diduga mengarah pada ajakan inkonstitusional terhadap pemerintahan yang sah. Pernyataan itu disampaikan beberapa waktu silam.
Dia menyatakan kebebasan berpendapat dalam negara demokrasi harus tetap berada dalam koridor konstitusi, etika publik, dan semangat menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tanggung jawab
"Mahasiswa pesantren memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga ruang publik dari narasi yang dapat mendorong delegitimasi pemerintahan secara inkonstitusional. Indonesia sebagai negara hukum telah memiliki mekanisme demokrasi yang jelas dalam pergantian kekuasaan melalui pemilu dan aturan perundang-undangan yang sah," kata Tomy.
Demokrasi, lanjut dia, tidak boleh dipelintir menjadi ruang untuk membangun kebencian, provokasi, maupun ajakan-ajakan yang dapat mengganggu stabilitas nasional. Santri memiliki tanggung jawab menjaga persatuan bangsa.
Sebagai bentuk ikhtiar spiritual dan simbolis, para peserta aksi menggelar doa, zikir kebangsaan serta ruqyah bersama di kawasan Komunitas Utan Kayu. Air doa yang telah dibacakan ayat-ayat suci Al Quran kemudian disiramkan sebagai simbol harapan agar seluruh pihak yang menyebarkan narasi provokatif diberikan kesadaran, kejernihan berpikir serta kembali pada semangat persatuan dan kebangsaan.
Ahmad Tomy Wijaya juga mengingatkan sejarah dunia menunjukkan bagaimana konflik politik yang dipicu oleh narasi delegitimasi dan upaya penggulingan kekuasaan di luar jalur konstitusional sering kali berakhir pada instabilitas berkepanjangan. Dia mencontohkan berbagai krisis politik di sejumlah negara Timur Tengah yang berujung pada konflik sosial, kehancuran ekonomi dan krisis kemanusiaan.
Konstitusional
“Indonesia jangan sampai terjebak dalam situasi seperti itu. Perbedaan pandangan harus disampaikan melalui jalur demokrasi yang sehat dan konstitusional,” tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, BEM Pesantren Seluruh Indonesia juga menyampaikan sejumlah sikap resmi. Pertama, menolak segala bentuk narasi provokatif yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa dan merusak stabilitas nasional.
Kedua, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kondusivitas dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memicu konflik sosial dan Ketiga, mendukung penegakan hukum yang profesional dan berkeadilan terhadap siapa pun yang terbukti melanggar konstitusi dan peraturan perundang-undangan.
Keempat, menegaskan komitmen mahasiswa pesantren dalam menjaga demokrasi yang sehat, damai dan berlandaskan nilai-nilai kebangsaan dan Kelima, mengajak seluruh generasi muda untuk mengedepankan dialog, persatuan dan semangat ukhuwah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Cinta tanah air
Ahmad Tomy Wijaya menyatakan aksi ruqyah kebangsaan ini bukan bentuk kebencian terhadap individu tertentu, melainkan ikhtiar moral dan spiritual santri dalam menjaga persatuan nasional.
“Bagi santri, cinta tanah air adalah bagian dari iman. Demokrasi harus dijaga dengan akhlak, persatuan, dan penghormatan terhadap konstitusi,” tandasnya. (*)
Sariyati Wijaya
