Tingkat Keterisian Mahasiswa PTS di Yogyakarta Turun

Biaya hidup di Jogja besar. Di daerah sudah ada banyak kampus. Lebih hemat kuliah di tempat asal.

Tingkat Keterisian Mahasiswa PTS di Yogyakarta Turun
Wisuda Universitas Siber Muhammadiyah di Yogyakarta, Kamis (23/10/2025). (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Perguruan tinggi swasta (PTS) tengah menghadapi tantangan serius. Data Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V DIY menunjukkan bahwa tingkat keterisian mahasiswa PTS di Yogyakarta kini tinggal 57 persen, turun sekitar 10 persen dibanding tahun lalu yang masih berada pada kisaran 70 persen.

Kondisi ini mencerminkan pergeseran besar dalam dunia pendidikan tinggi. Minat calon mahasiswa menurun, sementara persaingan antarperguruan tinggi semakin ketat. Di tengah tantangan itu, pendidikan jarak jauh (PJJ) mulai dipandang sebagai salah satu solusi strategis untuk memperluas akses pendidikan dan meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) nasional.

“Penurunan ini tidak hanya terjadi di satu atau dua kampus, tapi merata di banyak perguruan tinggi. Ada yang tidak boleh menerima mahasiswa baru karena proses perpindahan, ada yang pendaftarnya sedikit, dan hanya sebagian kecil yang bisa mencapai keterisian penuh,” kata Setyabudi Indartonodi, Kepala LLDIKTI Wilayah V DIY, di sela wisuda Universitas Siber Muhammadiyah di Yogyakarta, Kamis (23/10/2025).

Menurutnya, faktor penyebab utama menurunnya jumlah mahasiswa antara lain kualitas, citra kampus dan perubahan preferensi masyarakat. “Sekarang banyak yang memilih kuliah di daerah masing-masing. Biaya hidup di Jogja besar, sementara di daerah sudah ada banyak kampus yang berkembang. Jadi mereka pikir lebih hemat kuliah di tempat asal,” ujarnya.

Pergeseran minat

Dari laporan yang dihimpun LLDIKTI, politeknik menjadi jenis perguruan tinggi dengan serapan mahasiswa tertinggi, disusul universitas dan sekolah tinggi, sementara akademi berada pada posisi terendah. Pergeseran ini menunjukkan minat yang meningkat terhadap pendidikan vokasi yang dianggap lebih siap kerja.

Salah satu terobosan yang kini didorong adalah pengembangan model Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Sistem ini memungkinkan mahasiswa dari seluruh Indonesia bahkan luar negeri mengakses kuliah tanpa batas geografis sekaligus efisien secara biaya.

“Model PJJ seperti yang dikembangkan universitas-universitas Muhammadiyah bisa menjadi solusi memperluas daya serap kampus. Walaupun Universitas Terbuka tahun ini naik dari 480 ribu menjadi 800 ribu mahasiswa, itu belum cukup menutup target APK nasional,” katanya.

Salah satu kampus yang menjadi contoh penerapan sistem ini adalah Universitas Siber Muhammadiyah, universitas swasta yang seluruh proses pendidikannya dilakukan secara daring.

Baru empat

Rektor Universitas Siber Muhammadiyah, Bambang Rianto, menjelaskan universitasnya didirikan dengan modus tunggal PJJ, berbeda dari perguruan tinggi konvensional yang masih menerapkan perkuliahan tatap muka.

“Universitas Siber Muhammadiyah itu universitas dengan sistem tunggal PJJ. Di Indonesia baru empat universitas seperti ini, dan untuk swasta salah satunya kami. Kalau negeri, itu Universitas Terbuka,” ungkap Bambang.

Sistem PJJ di kampus ini dijalankan sepenuhnya menggunakan Learning Management System (LMS). Semua materi, penugasan dan kegiatan akademik sudah siap bahkan sebelum perkuliahan dimulai.

“Kuliah di sini sepenuhnya menggunakan teknologi distance learning. Mahasiswa bisa belajar kapan saja dan di mana saja,” terangnya.

Dari luar negeri

Meski baru berusia empat tahun, minat terhadap Universitas Siber Muhammadiyah meningkat pesat. Kampus tersebut kali ini mewisuda sembilan lulusan angkatan pertamanya.

“Sekarang kami sudah punya lebih dari 4.000 mahasiswa aktif, dan total pendaftar sejak berdiri sudah lebih dari 13.300 orang dari seluruh Indonesia, bahkan beberapa dari luar negeri,” jelasnya.

Menurut Bambang, PJJ bukan sekadar penyesuaian terhadap zaman, melainkan model pendidikan masa depan. “Sejak berdiri, kami memang PJJ. Kami bahkan tidak boleh menyelenggarakan pembelajaran tatap muka. Jadi sistem ini sudah menjadi identitas kampus kami,” katanya.

“Kampus ini bagian dari 164 perguruan tinggi Muhammadiyah, tapi satu-satunya yang sepenuhnya berbasis PJJ. Dengan sistem ini, kami bisa menjangkau mahasiswa dari berbagai daerah, bahkan yang sudah bekerja,” tambahnya. (*)