Saat Dua Kereta Pusaka Keraton Yogyakarta Melaju di Malioboro
Bregada pelajar SMK Negeri 3 Yogyakarta ikut ambil bagian memperkuat semangat kolaborasi antara keraton dan masyarakat.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Sore itu, Malioboro berubah menjadi panggung sejarah. Jalan ikonik di jantung Kota Yogyakarta yang biasanya dipadati kendaraan dan wisatawan, mendadak disterilkan. Suara derap langkah kuda berpadu dengan alunan musik prajurit Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, membangun suasana megah nan sakral yang seolah membawa siapa pun yang menyaksikan ke masa lampau.
Dua kereta pusaka Keraton Yogyakarta yang berwarna gelap dengan ornamen emas berkilau itu perlahan meluncur dari depan Gedung DPRD DIY menuju Pagelaran Keraton. Ribuan pasang mata tertuju pada pemandangan langka itu -- dua kereta berusia lebih dari seabad kembali menapaki aspal Malioboro setelah lebih dari satu dekade hanya tersimpan di Museum Wahanarata.
Kirab dan Pergelaran Beksan Trunajaya sore itu menjadi momen bersejarah bukan hanya bagi keraton tetapi juga bagi masyarakat. Di tengah gegap gempita musik dan sorak kagum warga, dua kereta pusaka bernama Landower Surabaya dan Premili kembali miyos (keluar), menandai kebangkitan tradisi yang sempat lama terhenti.
Koordinator acara yang juga Abdi Dalem Keraton, MB Renggowaditro, menyebutkan dua kereta yang diturunkan kali ini memiliki nilai sejarah tinggi.
Asal Belanda
Kereta ini merupakan buatan Spyker asal Belanda, perusahaan yang dikenal memproduksi kendaraan bangsawan Eropa pada awal abad ke-20. Dengan bodi ramping, roda besar dan hiasan lambang kerajaan di sisinya, Landower Surabaya menjadi simbol kemewahan dan wibawa Kesultanan Yogyakarta pada masanya.
Sementara itu, kereta Premili tak kalah bersejarah. Dibuat di Semarang pada tahun 1921 oleh pembuat kereta ternama G Barendse, kendaraan ini dirancang menggunakan komponen impor dari Belanda dan dikenal tangguh untuk membawa rombongan besar.
“Premili ini biasanya digunakan untuk rombongan, bisa menampung lebih dari sepuluh penumpang. Di bagian rodanya masih tertera nama pembuatnya,” jelas Renggowaditro.
Kedua kereta itu bukan sekadar sarana transportasi melainkan simbol peradaban dan kekuasaan keraton. Selama 12 tahun terakhir, keduanya tak pernah miyos ke ruang publik, hingga akhirnya momentum Tingalan Dalem Tahunan Sri Sultan Hamengku Buwono X tahun ini menjadi alasan keduanya kembali melaju.
Momen spesial
“Terakhir kali dua kereta ini keluar sekitar 12 hingga 13 tahun lalu. Jadi ini momen spesial, pertama kalinya kami keluarkan lagi,” ujar Renggowaditro dengan nada bangga.
Pemilihan dua kereta itu, lanjut Renggowaditro, disesuaikan dengan kebutuhan pertunjukan. “Karena ini untuk beksan atau tari, bukan untuk keluarga dan lain sebagainya. Makanya kami menggunakan Premili dan Landower,” terangnya.
Saat kirab, kereta Landower Surabaya dinaiki tokoh Tumenggung Trunajaya, sementara Premili membawa enam pamucal atau pelatih Beksan Trunajaya. Masing-masing kereta ditarik empat ekor kuda gagah yang telah dilatih khusus oleh prajurit keraton.
Pemandangan itu membuat ribuan penonton terpukau. Di antara kerumunan, anak-anak melambai kegirangan, sementara para wisatawan sibuk mengabadikan momen dengan ponsel mereka.
Nilai budaya
Salah seorang di antaranya, Naufal (21), warga Bantul yang mengaku sengaja datang lebih awal agar tak melewatkan prosesi kirab. “Begitu lihat langsung kereta itu lewat, rasanya merinding. Bukan cuma indah, tapi juga terasa banget nilai budayanya. Ini pengalaman yang tidak bisa didapat di tempat lain,” ujarnya.
Kirab Trunajaya tahun ini berbeda dari sebelumnya. Selain dua kereta pusaka, jumlah paraga beksan juga meningkat signifikan. “Tahun lalu hanya sekitar 40 hingga 50 orang, sekarang lebih dari 70. Kalau dihitung dengan tokoh-tokoh lainnya bisa sampai 80 orang,” ungkap Renggowaditro.
Total peserta kirab mencapai hampir 400 orang, termasuk bregada rakyat dari berbagai kabupaten dan kota di DIY. Bregada pelajar SMK Negeri 3 Yogyakarta ikut ambil bagian memperkuat semangat kolaborasi antara keraton dan masyarakat.
Prosesi ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga wujud pelestarian budaya yang hidup. Dalam beksan Trunajaya, kisah kepahlawanan dan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan disampaikan melalui gerak tubuh dan iringan gamelan. “Dalam skema tarian, semuanya saling terhubung. Jadi ada kaitan cerita antara kirab dan beksan yang ditampilkan,” terang Renggowaditro.
Sorak kagum
Saat matahari mulai turun, kereta Premili dan Landower perlahan memasuki Pagelaran Keraton. Denting gamelan berpadu dengan sorak kagum penonton yang memenuhi sekitar Pagelaran Keraton Yogyakarta. Di dalam kompleks keraton, para penari memulai Beksan Trunajaya, sebuah tarian klasik yang melambangkan keberanian, kejantanan dan pengendalian diri.
Perhelatan ini digelar untuk memperingati Tingalan Dalem Taun, atau ulang tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X menurut penanggalan Jawa. “Tahun lalu momentumnya Jumenengan Dalem, memperingati naik tahtanya beliau dan GKR Hemas. Nah, kalau kali ini ulang tahun Jawa beliau,” jelas Renggowaditro.
Meski berulang setiap tahun, perayaan kali ini terasa lebih khidmat dan berkesan. Bukan hanya karena dua kereta pusaka yang kembali miyos, tetapi karena semangat kebersamaan antara keraton dan masyarakat yang begitu terasa di sepanjang prosesi.
Kembalinya dua kereta pusaka keraton bukan sekadar nostalgia melainkan menjadi penanda bahwa tradisi bukan benda mati, melainkan nafas yang terus hidup di tengah perubahan zaman. Di tengah modernitas dan gegap gempita wisata, Keraton Yogyakarta masih menunjukkan konsistensinya menjaga warisan leluhur, menautkan masa lalu dengan masa kini. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
