Krisis Iklim Dibaca Lewat Bahasa, Batu dan Sebuah Meja
Program Climate Futures Incubator 2026 mempertemukan 16 seniman internasional.
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Sebuah meja kayu membentang di ruang pamer. Sekilas tampak seperti furnitur biasa tetapi permukaannya memetakan lanskap Yogyakarta mulai dari Gunung Merapi, enam sungai yang mengalir ke tengah kota hingga Samudera Indonesia.
Batu-batu vulkanik disusun di atasnya, sementara serat kayu tua menyimpan jejak waktu. Pada sudut lain, lembar-lembar bahasa dan aksara mengajak pengunjung membayangkan dunia ketika musim tak lagi dapat dikenali.
Melalui karya-karya itulah House of Natural Fiber (HONF) mengajak publik memasuki Dark Garden: Living in Paradox, Growing in Networks, pameran yang menjadi puncak program Climate Futures Incubator (CFI) 2026 di Loka Carita, Yogyakarta.
Alih-alih menyajikan krisis iklim lewat data dan grafik, pameran ini membuka pemahaman melalui pengalaman, ingatan, bahasa dan benda-benda yang akrab dengan kehidupan sehari-hari. Seluruh karya lahir dari proses inkubasi dan residensi yang mempertemukan seniman, peneliti, akademisi dan komunitas dari Indonesia, Australia hingga Italia.
Kurator pameran, Arami Kasih, mengatakan Dark Garden berangkat dari kenyataan manusia hidup dalam paradoks. Kesadaran terhadap perubahan iklim semakin besar, tetapi tindakan yang mempercepat kerusakan lingkungan masih terus berlangsung.
"Dark Garden mengajak kita mengakui bahwa kita hidup dalam sebuah paradoks. Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap perubahan iklim, kita juga menyaksikan berbagai tindakan yang terus memperparah krisis," ujarnya saat konferensi pers, Minggu (19/7/2026).
"Karena itu, pameran ini tidak menawarkan jawaban tunggal, melainkan membuka ruang dialog untuk membayangkan berbagai kemungkinan masa depan melalui jejaring relasi, perawatan, dan solidaritas antarmanusia maupun lebih-dari-manusia," ujar Arami.
Penanggalan Jawa
Salah seorang seniman asal Australia memilih mengangkat isu yang jarang dikaitkan dengan perubahan iklim, yakni kepunahan bahasa. Menurutnya, ketika lingkungan berubah, bukan hanya bentang alam yang hilang, tetapi juga kosakata, pengetahuan lokal, dan cara masyarakat memahami musim.
Selama residensi di Yogyakarta, dia membandingkan penanggalan Jawa dengan kalender Barat, sekaligus mengumpulkan berbagai ungkapan dalam bahasa Jawa. Baginya, bahasa adalah arsip hidup yang menyimpan cara manusia membaca alam.
"Perubahan lingkungan membuat banyak konsep tentang musim kehilangan makna. Bahasa menyimpan cara masyarakat memahami dunia, sehingga ketika alam berubah, bahasa pun ikut berubah," katanya.
Sementara itu, seniman Lisa memamerkan karya berupa sebuah meja yang menjadi simbol ruang perjumpaan. Berangkat dari pengalamannya sebagai koki selama 13 tahun, dia memandang meja makan sebagai tempat orang berbagi cerita, gagasan dan pengalaman.
Gagasan itu kemudian berkembang setelah mengikuti perjalanan riset bersama peserta lain di Yogyakarta. "Meja ini dibuat menyerupai bentang alam Yogyakarta, dari Merapi hingga laut. Enam sungai menjadi elemen penting karena menggambarkan hubungan yang menghidupi kota ini," ujarnya.
Kayu pohon berusia sekitar tiga dekade, batu-batu vulkanik dan material alam lain dipilih bukan sekadar sebagai medium, melainkan simbol ketangguhan alam sekaligus pengingat rapuhnya hubungan manusia dengan lingkungan.
16 seniman
Program Climate Futures Incubator 2026 mempertemukan 16 seniman internasional, terdiri atas enam peserta residensi langsung dari Indonesia dan Australia, serta sepuluh peserta daring dari Indonesia, Australia dan Italia.
Selama beberapa pekan mereka menjalani proses riset, pendampingan, dialog dengan masyarakat, hingga kolaborasi lintas disiplin yang kemudian diwujudkan menjadi berbagai instalasi, media baru dan karya partisipatif.
Dark Garden: Living in Paradox, Growing in Networks dibuka 19 Juli 2026 dan berlangsung hingga 2 Agustus 2026 di Loka Carita Yogyakarta.
Dari ruang ini pengunjung diajak merenungkan kembali posisi manusia di tengah jejaring kehidupan bahwa krisis iklim bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan juga tentang budaya, ingatan, bahasa dan masa depan yang dibangun bersama. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
