Mario Aji dan Veda Ega Pasang Target Realistis di Mandalika
Berbulan-bulan tinggal di Eropa, merindukan keluarga, makanan hingga suasana Indonesia.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Kepulangan Mario Suryo Aji dan Veda Ega Pratama ke Indonesia bukan sekadar melepas rindu dengan keluarga atau menikmati kuliner khas Tanah Air. Di balik agenda Homecoming Tour Local Heroes Indonesia menuju Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, tersimpan kisah perjuangan dua pembalap yang rela meninggalkan masa muda demi mengejar mimpi mengibarkan Merah Putih di ajang balap dunia.
Rangkaian kegiatan yang digelar di Yogyakarta, Minggu (19/7/2026), diawali dengan temu penggemar di kawasan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret. Ratusan penggemar memadati lokasi untuk bertemu langsung dengan dua pembalap kebanggaan Indonesia yang kini berkarier di level internasional.
Malam harinya, keduanya memperoleh kehormatan bertemu Ngarsa Dalem di Kraton Kilen dan menerima doa restu langsung dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X.
Bagi Veda, pulang ke Indonesia selalu memberikan perasaan yang berbeda. Setelah berbulan-bulan tinggal di Eropa, dia merindukan keluarga, makanan hingga suasana Indonesia.
Soal makanan, Veda mengaku sudah melepas rindu dengan bakmi godog dan masih ingin menikmati gudeg serta soto. "Pengin gudeg. Tadi juga sudah sempat makan bakmi godog. Masih banyak juga yang ingin dicoba, ada soto," ujarnya.
Sementara Mario mengaku bakmi menjadi makanan favoritnya saat pulang ke Yogyakarta. Pembalap yang bermukim di Spanyol itu mengatakan setiap kesempatan pulang selalu dimanfaatkan untuk berkumpul dengan keluarga sekaligus menikmati kuliner Nusantara.
"Senang bisa pulang lagi, bertemu keluarga di Indonesia. Kemarin sempat menikmati makanan khas di Bali, dan malam ini rencananya kulineran di Jogja," katanya.
Rutinitas latihan
Waktu untuk menikmati kampung halaman sangat singkat. Sehari setelah acara di Yogyakarta, keduanya langsung ke Mandalika untuk menjalani latihan intensif sebelum melanjutkan persiapan menghadapi putaran berikutnya di Silverstone.
"Besok kami berdua berangkat ke Mandalika buat latihan. Sekarang ada jeda tiga minggu sebelum Silverstone, jadi persiapannya latihan seperti rutinitas harian," kata Mario.
Kehidupan Mario dan Veda di Barcelona jauh dari kata santai. Demi mengejar prestasi di level dunia, keduanya hidup mandiri dan menjalani rutinitas latihan hampir setiap hari.
"Hampir setiap hari kami latihan dengan variasi yang berbeda, mulai dari latihan motor sampai latihan fisik. Awal musim memang sangat sibuk, setelah itu lebih fokus menjaga konsistensi performa," ujar Mario.
Selama berada di Spanyol, Mario dan Veda tinggal di apartemen yang sama. Aktivitas mereka nyaris hanya berputar antara tempat tinggal, pusat kebugaran dan sirkuit latihan. Bahkan, keduanya sempat berbagi cerita lucu ketika pernah terkena tilang saat berangkat latihan di Barcelona.
Meski sudah terbiasa hidup di Eropa, mereka mengakui balapan di Indonesia memiliki tantangan tersendiri. Cuaca tropis membuat balapan jauh lebih menguras tenaga dibandingkan saat berlaga di Eropa.
Target realistis
Sebagai satu-satunya seri balap dunia di Indonesia, Mandalika memiliki arti khusus bagi kedua pembalap. Veda berharap bisa memanfaatkan status sebagai tuan rumah untuk meraih hasil maksimal. "Targetnya tentu mendapatkan hasil yang maksimal," ujarnya.
Sedangkan Mario memilih memasang target realistis. Mario juga mengungkapkan fokus utamanya saat ini adalah meningkatkan kemampuan racecraft setelah melakukan evaluasi bersama tim usai balapan di Motegi.
"Kami menargetkan hasil yang realistis. Yang penting memberikan penampilan terbaik. Mohon doa dan dukungannya," katanya.
Sementara itu Sultan di Keraton Kilen memberikan doa restu sekaligus pesan agar kedua pembalap Indonesia itu tidak pernah merasa minder menghadapi lawan-lawan terbaik dunia.
Menurut Sultan, seorang atlet yang sudah memilih jalan sebagai pembalap harus memiliki mental juara sejak sebelum memasuki lintasan. "Saya hanya memberikan doa restu dan juga pesan. Karena sudah pilihannya jadi pembalap, jangan mengatakan, wah itu susah, itu berat, tidak bisa. Ya wis kalah sebelum bertanding," kata Sultan.
Sultan menyatakan tantangan harus dijawab dengan motivasi untuk bertahan dan memenangkan setiap perlombaan. "Bagaimana dia punya motivasi untuk survive. Tidak perlu punya kekhawatiran susah. Tapi punya motivasi untuk memenangkan setiap pertandingan sehingga dirinya sendiri memang punya kemauan," ungkapnya.
Wejangan Sultan menjadi bekal moral bagi Mario dan Veda yang dalam hitungan hari kembali meninggalkan Indonesia untuk mengejar mimpi di lintasan balap dunia. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
