Hijrah Peradaban: Membangun Indonesia dengan Akhlak dan Ilmu
Oleh: Yuliantoro
Dalam konteks Indonesia kontemporer, tantangan pembangunan bangsa tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, investasi, dan teknologi digital, tetapi juga dengan kualitas karakter publik. Korupsi, penyalahgunaan kewenangan, intoleransi, penyebaran hoaks, serta melemahnya etika sosial menunjukkan bahwa pembangunan moral masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.
MOMENTUM 1 Muharam tidak hanya menandai pergantian tahun dalam kalender Hijriah. Satu Muharam juga mengingatkan umat Islam pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah. Peristiwa ini bukan sekadar perpindahan geografis. Hijrah adalah tonggak transformasi sosial, politik, budaya, dan peradaban yang mengubah wajah sejarah dunia. Hijrah menunjukkan bahwa kemajuan sebuah bangsa berawal dari perubahan cara berpikir, perubahan karakter, dan keberanian meninggalkan kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih bermartabat.
Rasulullah SAW sendiri menegaskan bahwa misi utama kerasulannya adalah membangun akhlak manusia. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Malik disebutkan: "Innama bu'itstu liutammima makarimal akhlaq" (Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak).
Karena itu, ketika Islam hadir di Jazirah Arab, fokus pertama yang dilakukan Rasulullah SAW bukanlah membangun kekuatan politik atau ekonomi, melainkan memperbaiki karakter manusia. Masyarakat Arab saat itu berada dalam masa jahiliyah yang ditandai dengan penyembahan berhala, peperangan antarsuku, ketidakadilan sosial, praktik perbudakan, hingga diskriminasi terhadap perempuan.
Islam tidak serta-merta menghapus seluruh budaya yang ada. Rasulullah SAW justru mempertahankan nilai-nilai luhur seperti keberanian, kejujuran, kedermawanan, dan komitmen menepati janji, sekaligus mengoreksi tradisi yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan ketauhidan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembangunan peradaban tidak selalu dimulai dengan menghancurkan masa lalu, tetapi dengan memurnikan dan mengarahkan nilai-nilai yang baik menuju tujuan yang lebih mulia.
Selama periode dakwah di Mekah, Rasulullah SAW menanamkan fondasi tauhid sebagai basis perubahan sosial. Al-Qur'an berulang kali menegaskan bahwa perubahan masyarakat harus diawali oleh perubahan diri manusia. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11).
Ayat ini menunjukkan bahwa reformasi sosial yang berkelanjutan tidak cukup mengandalkan regulasi atau kekuasaan, tetapi harus bertumpu pada kesadaran moral masyarakat. Tauhid melahirkan kesadaran bahwa setiap manusia bertanggung jawab di hadapan Allah SWT atas segala tindakan yang dilakukan. Dari sinilah lahir integritas, kejujuran, dan rasa tanggung jawab sosial.
Keberhasilan dakwah Nabi Muhammad SAW juga ditopang oleh kekuatan keteladanan. Jauh sebelum menerima wahyu, beliau telah dikenal masyarakat sebagai Al-Amin, sosok yang jujur dan dapat dipercaya. Keteladanan ini menjadi modal sosial yang sangat besar. Aisyah RA bahkan menggambarkan akhlak Rasulullah SAW dengan ungkapan yang sangat terkenal: "Kana khuluquhul Qur'an" (Akhlak beliau adalah Al-Qur'an). (HR. Muslim).
Dalam perspektif ilmu sosial modern, keteladanan merupakan faktor penting dalam proses perubahan masyarakat. Albert Bandura dalam teori Social Learning menjelaskan bahwa manusia belajar melalui proses observasi terhadap figur yang dihormati. Apa yang dicontohkan pemimpin sering kali lebih berpengaruh dibandingkan dengan apa yang diucapkan. Karena itu, keberhasilan Rasulullah SAW tidak hanya lahir dari kemampuan retorika, melainkan dari konsistensi antara ajaran dan tindakan.
Sejarah kemudian membuktikan bahwa pembangunan akhlak melahirkan kemajuan ilmu pengetahuan. Setelah fondasi moral dan spiritual terbentuk, peradaban Islam berkembang menjadi salah satu pusat ilmu dunia. Dalam kurun abad ke-8 hingga abad ke-13 Masehi, lahir ilmuwan besar seperti Al-Khawarizmi di bidang matematika, Ibnu Sina di bidang kedokteran, Al-Biruni dalam astronomi dan geografi, serta Ibnu Khaldun dalam ilmu sosial.
Sejarawan Marshall G. S. Hodgson dalam The Venture of Islam menjelaskan bahwa kemajuan peradaban Islam lahir dari perpaduan antara spiritualitas, etika, dan tradisi keilmuan. Sementara Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa krisis utama umat manusia bukanlah kekurangan teknologi, melainkan hilangnya adab. Menurutnya, kerusakan ilmu sering kali bermula dari kerusakan moral.
Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Malik Bennabi yang menyatakan bahwa kebangkitan suatu bangsa ditentukan oleh tiga unsur utama: manusia, tanah, dan waktu. Namun, ketiga unsur tersebut hanya dapat menjadi kekuatan peradaban apabila digerakkan oleh gagasan dan nilai moral yang benar.
Dalam konteks Indonesia kontemporer, tantangan pembangunan bangsa tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, investasi, dan teknologi digital, tetapi juga menyangkut kualitas karakter publik. Korupsi, penyalahgunaan kewenangan, intoleransi, penyebaran hoaks, serta melemahnya etika sosial menunjukkan bahwa pembangunan moral masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.
Indonesia sebenarnya telah memiliki fondasi nilai yang kuat melalui Pancasila. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta Keadilan Sosial mengandung semangat yang sejalan dengan nilai-nilai Islam tentang kejujuran, tanggung jawab, persaudaraan, dan kemaslahatan bersama. Tantangannya bukan terletak pada kurangnya nilai, melainkan pada konsistensi dalam mengamalkannya.
Pada titik inilah peran ulama, guru, dosen, tokoh masyarakat, pemimpin politik, dan birokrat menjadi sangat penting. Mereka bukan hanya penyampai pengetahuan, tetapi juga penjaga nilai dan teladan publik. Sebab sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar selalu lahir dari kombinasi antara kepemimpinan moral dan kemajuan ilmu pengetahuan.
Semangat hijrah pada 1 Muharam perlu dimaknai sebagai gerakan kolektif menuju peradaban yang lebih berintegritas. Hijrah para pemimpin menuju kepemimpinan yang amanah. Hijrah para pejabat menuju pelayanan publik yang bersih. Hijrah para politisi menuju politik yang beretika. Hijrah para akademisi menuju pengembangan ilmu yang berorientasi pada kemaslahatan. Dan hijrah masyarakat menuju budaya yang jujur, disiplin, produktif, serta saling menghormati.
Al-Qur'an menegaskan: "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11).
Ayat ini memperlihatkan bahwa iman, akhlak, dan ilmu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Akhlak tanpa ilmu akan melahirkan kelemahan, sementara ilmu tanpa akhlak dapat melahirkan kerusakan.
Karena itu, pelajaran terbesar dari hijrah Nabi Muhammad SAW bukan hanya tentang perpindahan tempat, tetapi tentang perpindahan kualitas diri dan kualitas masyarakat. Dengan menjadikan akhlak sebagai fondasi dan ilmu pengetahuan sebagai instrumen kemajuan, Indonesia memiliki peluang besar untuk mewujudkan cita-cita bangsa yang adil, makmur, bermartabat, dan beradab sebagaimana diamanatkan oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. **
Yuliantoro
Alumnus Sosiologi UGM
-@Pranala
