Donini Perkenalkan Konsep Baru dan Layanan Kustom di Amplaz
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA — Donini Indonesia memperkuat strategi mempertahankan pasar premium dengan membangun loyalitas pelanggan melalui komunitas dan menghadirkan layanan personalisasi produk. Langkah tersebut diperkenalkan bersamaan dengan reopening gerai Donini di Ambarrukmo Plaza Yogyakarta, Sabtu (11/7/2026).
"Komunitas kami cukup kuat, bukan hanya di Jogja tetapi juga di Solo dan Semarang. Mereka menggunakan produk Donini, kemudian membentuk komunitas sendiri dan rutin berkumpul," kata Direktur Donini Indonesia, Davey Tanuwidjaja saat reopening gerai Donini Ambarrukmo Plaza Yogyakarta, Sabtu (11/7/2026).
Davey mengatakan Donini tidak hanya menjual produk fesyen, tetapi juga membangun ekosistem pelanggan yang aktif. Di wilayah DIY dan Jawa Tengah, perusahaan telah memiliki lebih dari 10 komunitas pelanggan yang dikenal dengan nama D'Lovers. Mayoritas anggotanya merupakan pelanggan setia yang rutin menggelar arisan, pertemuan, dan berinteraksi melalui media sosial.
Di Yogyakarta terdapat dua hingga tiga komunitas, sedangkan di Solo sekitar empat komunitas dan di Semarang sekitar tiga komunitas.
Menurut Davey, komunitas menjadi bagian penting dalam menjaga kedekatan dengan pelanggan. Anggota komunitas memperoleh informasi lebih awal mengenai koleksi terbaru, undangan acara khusus, hingga kesempatan memiliki produk edisi terbatas.
"Mereka sudah menjadi pelanggan sejak lama. Kalau ada produk baru atau stok baru biasanya kami prioritaskan untuk komunitas. Kalau ada event juga mereka selalu kami undang," ujarnya.
Selain memperkuat komunitas, Donini memperkenalkan identitas merek melalui konsep gerai baru. Logo diperbarui dengan desain yang terinspirasi pilar-pilar klasik Italia, dipadukan interior bergaya arsitektur khas negara tersebut.
Seluruh produk Donini diproduksi di pabrik perusahaan di Surabaya menggunakan material kulit impor dari Italia. Menurut Davey, langkah tersebut dipilih agar kualitas produk tetap terjaga meski proses produksinya dilakukan di Indonesia.
"Kami tidak lagi mengimpor produk jadi. Sekarang kami memproduksi sendiri di Indonesia, tetapi seluruh material utama tetap kami impor dari Italia," katanya.
Ia mengakui penguatan nilai tukar euro terhadap rupiah meningkatkan biaya impor bahan baku. Meski demikian, perusahaan tetap mempertahankan material dan standar pengerjaan agar kualitas produk tidak berubah.
"Tentu ada pengaruh. Dulu saat nilai euro masih rendah biaya impor lebih ringan. Sekarang menjadi tantangan, tetapi kami tetap mempertahankan material yang sama dan standar pengerjaan agar kualitas produk tidak berubah," ujarnya.
Sebagai inovasi baru, Donini memperkenalkan layanan Donini Custom yang memungkinkan pelanggan memesan tas sesuai preferensi, mulai dari pilihan warna, jenis material, warna lapisan dalam, hingga penambahan inisial nama. Layanan tersebut menggunakan sistem pre-order dengan waktu pengerjaan sekitar dua hingga tiga minggu.
Perusahaan juga akan menghadirkan konsep Do It Yourself Perfume yang memungkinkan pelanggan meracik parfum sendiri dari sekitar 20 pilihan aroma, mulai dari buah, bunga, hingga kayu.
"Konsep tersebut akan diluncurkan setelah pembukaan toko sebagai pengalaman baru bagi pelanggan yang datang ke gerai," jelas Davey.
Selain itu, Donini tengah menyiapkan lini parfum premium dengan botol eksklusif dan formulasi laboratorium agar memiliki kualitas serta ketahanan aroma yang lebih baik.
Untuk kategori produk kulit, Donini menawarkan tas, dompet, dan berbagai aksesori berbahan kulit asli. Beberapa koleksi bahkan menggunakan kulit eksotis seperti piton, buaya, dan biawak. Seluruh produk juga dilengkapi lifetime warranty untuk cacat produksi.
Harga tas Donini berkisar Rp2,5 juta hingga Rp6 juta, sedangkan dompet dibanderol Rp500 ribu hingga Rp2 juta. Koleksi warnanya mengikuti tren musim di Eropa, yakni warna cerah untuk musim panas dan warna gelap saat musim dingin.
Melalui kombinasi material berkualitas, desain bergaya Italia, layanan personalisasi, dan penguatan komunitas pelanggan, Donini optimistis mampu mempertahankan posisinya di pasar fesyen premium meski menghadapi tantangan industri. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
