Dari Titik Nol, Seniman Jogja Kembalikan Malioboro sebagai Ruang Diskusi dan Berkarya

Akan diawali dengan peresmian simbolik Monumen Umbu Landu Paranggi oleh Walikota Yogyakarta. 

Dari Titik Nol, Seniman Jogja Kembalikan Malioboro sebagai Ruang Diskusi dan Berkarya
Konferensi pers 0, di Milli by Shaggydog di Sayidan. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Bagi banyak seniman, Malioboro tak pernah sekadar deretan pertokoan atau tujuan wisata. Di jalan inilah ide-ide bertemu, perdebatan lahir, persahabatan tumbuh dan karya-karya besar menemukan awalnya.

Semangat itulah yang ingin dihidupkan kembali melalui gelaran O, – Nol Koma #1 bertajuk Ruang Awal, Ruang Bersama yang akan digelar di Titik Nol Kilometer Yogyakarta pada 10 Juli 2026.

Komunitas Malioboro Classical Jogja menggagas acara tersebut sebagai ruang perjumpaan seniman lintas generasi sekaligus upaya mengembalikan Malioboro sebagai "kampus jalanan", tempat siapa pun dapat belajar, berdiskusi dan berkarya tanpa sekat.

Steering Committee O, – Nol Koma, Agus "Dayak" Imron, mengatakan kegiatan ini bukan sekadar festival seni, melainkan awal dari gerakan budaya yang akan terus berlanjut. Setelah penyelenggaraan perdana, O, – Nol Koma akan diteruskan melalui edisi kedua dan seterusnya sebagai ruang pembinaan, diskusi dan regenerasi pelaku seni.

"Kami ingin menjadikan Nol Koma sebagai kendaraan untuk membina, berdiskusi dan belajar bersama. Malioboro bukan hanya jalan atau kawasan bisnis, tetapi ruang budaya yang melahirkan banyak seniman," ujarnya saat konferensi pers, Senin (6/7/2026).

Menurut Agus, selama ini masih banyak seniman, terutama di tingkat menengah, yang belum memperoleh ruang berekspresi secara memadai. Karena itu, penyelenggara ingin membuat ekosistem yang memberi kesempatan bagi musisi, penyair, perupa dan komunitas seni untuk bertumbuh bersama.

Kekuatan Malioboro sesungguhnya terletak pada sejarah perjumpaan para tokoh seni dan budaya. Kawasan itu pernah menjadi ruang diskusi yang melahirkan banyak gagasan penting bagi perkembangan kesenian Indonesia. 

"Kalau proses itu tidak kita rawat, mata rantai sejarahnya bisa terputus. Padahal Malioboro adalah ruang inspirasi yang harus tetap hidup," katanya.

Semangat tersebut sejalan dengan posisi Jalan Malioboro sebagai bagian dari Sumbu Filosofi Yogyakarta yang ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia pada 2023. Bagi penyelenggara, nilai Malioboro tidak berhenti pada aspek fisik kawasan, melainkan juga pada memori kolektif yang hidup di dalamnya.

Peresmian monumen

Sebagai penanda dimulainya gerakan itu, O, – Nol Koma #1 akan diawali dengan peresmian simbolik Monumen Umbu Landu Paranggi oleh Walikota Yogyakarta.

Tokoh yang dijuluki "Presiden Malioboro" tersebut dipilih sebagai figur pertama dalam program memorial budaya. Monumen fisiknya direncanakan dibangun pada penyelenggaraan O, – Nol Koma #2 bertema Merawat Jejak, Merajut Waktu.

Ke depan, memorial budaya itu akan mengabadikan tokoh-tokoh lain yang memberi kontribusi besar terhadap perkembangan seni dan budaya Yogyakarta. Setiap monumen akan dilengkapi kode QR yang menghubungkan pengunjung dengan arsip digital berisi dokumentasi, karya dan perjalanan hidup tokoh.

Koordinator Acara, Diar Sahudi, menjelaskan rangkaian kegiatan dimulai pukul 14:00 dengan pembacaan sastra menggunakan panggung bergerak dari kawasan utara Malioboro menuju Titik Nol Kilometer. Setelah itu, berbagai pertunjukan tari, musik, sastra dan seni rupa akan berlangsung hingga malam.

Sekitar pukul 16.00 WIB, peresmian simbolik Monumen Umbu Landu Paranggi akan dilaksanakan sebelum panggung diisi penampilan para musisi dan seniman. "Kami sengaja melibatkan seniman senior dan generasi muda karena mereka sama-sama membutuhkan ruang untuk saling bertemu dan berkarya," ujar Diar.

Panggung O, – Nol Koma #1 akan diisi Sirkus Barock, Akrosh, Alceena Inside, Beauty Disaster, Diar Sahudi & Friends, Jagger, Frida, Lia Yures, Aan Stones, Partikelir, Tjongpick serta Kelompok Penyanyi Jalanan Malioboro (KPJM).

Pembacaan puisi dan sastra akan diisi Doni Haryo, Sekartaji Ayuwangi, Luwi Darto, Dinar Roos & Pak Yan, Ahmad Jalidu, Piwulang Sastra, Silvia Anggreni Purba, Dewi Wapah, Menik Sithik dan Daniel Godan. Aktivitas seni rupa yang dikoordinasikan Joko "Gundul" Sulistiono juga akan melibatkan berbagai komunitas perupa.

Tanggal 10 Juli dipilih agar masih berada dalam masa libur sekolah, sehingga wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta dapat menyaksikan wajah lain Malioboro. Bukan hanya sebagai destinasi wisata dan pusat ekonomi, melainkan ruang budaya yang terus melahirkan inspirasi bagi generasi berikutnya.

Bagi penyelenggara, O, – Nol Koma bukan sekadar panggung pertunjukan. Ia adalah titik kecil yang diharapkan menjadi awal perjalanan panjang untuk merawat jejak, mempertemukan generasi, dan menjaga denyut kebudayaan Malioboro agar tetap hidup. (*)