Ketika Angklung Berdenting, Anak Berkebutuhan Khusus Jadi Bintang

Inilah salah satu momen paling berkesan dari Festival Gya Dolan Sesarengan 2025 yang berlangsung di Museum Wahanarata Keraton Yogyakarta.

Ketika Angklung Berdenting, Anak Berkebutuhan Khusus Jadi Bintang
Pengunjung anak-anak berinteraksi dengan salah satu koleksi museum Wahanarata. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Di balik tembok tebal Keraton Yogyakarta, suara tawa anak-anak berpadu dengan dentingan angklung yang dimainkan oleh tangan-tangan kecil penuh semangat. Bukan pemandangan biasa ketika Ara, seorang anak dengan Down Syndrome, memimpin orkestra angklung interaktif sambil tersenyum lebar kepada ratusan penonton yang terpukau.

Inilah salah satu momen paling berkesan dari Festival Gya Dolan Sesarengan 2025 yang berlangsung di Museum Wahanarata, Keraton Yogyakarta, 26-27 Juli. Festival yang mengusung tema Manunggaling Surasa ini bukan sekadar acara hiburan anak biasa melainkan menjadi bukti nyata bahwa keberagaman adalah kekuatan.

Pembukaan festival ditandai dengan bunyi permainan tradisional othok-othok yang dimainkan GKR Bendara bersama Dwi Sasono. Siapa sangka, alat main sederhana itu menjadi simbol universal kegembiraan yang tidak mengenal perbedaan.

“Kegiatan ini bukan sekadar festival anak biasa, melainkan sebuah ruang edukasi budaya yang penting untuk menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda sejak dini,” ujar GKR Bendara yang menjabat sebagai Penghageng Nityabudaya di Keraton Yogyakarta.

Anak-anak peserta festival Gya Dolan Sesarengan 2025 mengikuti lomba mewarnai di halaman Museum Wahanarata. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

Yang membuatnya istimewa? Untuk pertama kalinya, hampir 100 anak berkebutuhan khusus dari berbagai SLB di Yogyakarta menjadi peserta utama, bukan sekadar penonton melainkan menjadi bintang. Mereka tidak hanya menonton Tari Topeng dari Desa Wisata Bobung, Gunungkidul, tetapi juga ikut menari bersama anak-anak lainnya.

Pada sudut festival, Eco Culture Market oleh Pasar Wiguna menjajakan produk lokal ramah lingkungan khusus untuk anak-anak. Mulai dari makanan organik berbentuk karakter wayang hingga mainan edukatif dari bahan daur ulang.

“UMKM di sini tidak hanya berjualan, tetapi juga mengedukasi anak tentang pentingnya mencintai produk lokal dan lingkungan,” jelas GKR Bendara.

Dengan lebih dari 500 pengunjung per hari dan target 2.000 pengunjung dalam dua hari, festival ini tidak hanya soal angka. “Pariwisata Yogyakarta sudah mulai membaik di semester ini, meskipun terdampak larangan study tour dari Jawa Barat. Event seperti ini membantu mengisi kekosongan di awal tahun,” ungkap GKR Bendara.

Satu arah

Yang lebih penting, festival ini berhasil mengubah persepsi bahwa museum adalah tempat yang “membosankan”. Teknologi sederhana seperti QR code untuk audio guide dan layar interaktif membuat anak-anak betah berlama-lama.

KRT Condro Kusumo, Kepala Museum Wahanarata, punya filosofi menarik tentang museum modern. “Generasi Z dan Alpha tidak mau hanya mendengar cerita satu arah. Mereka ingin bertanya, menyentuh, merasakan,” katanya sambil menunjuk kerumunan anak-anak yang antusias bertanya tentang kereta kencana Kanjeng Nyai Jimat.

Museum yang biasanya identik dengan “jangan disentuh” ini justru mengundang interaksi. Di Lokakarya Bocah, anak-anak belajar membuat replika miniatur kereta kencana dengan bahan ramah lingkungan. Sementara di area Kinder Musea, mereka bisa “menjelajah” sejarah keraton melalui permainan digital sederhana.

“Kami punya target 300 ribu pengunjung per tahun, dan sebagian besar adalah anak-anak. Karena itu, setiap sudut museum dirancang ramah anak dan difabel,” tambah KRT Condro Kusumo.

Pentas ketoprak

Salah satu momen paling menyentuh datang dari pementasan Ketoprak oleh Baskom AFC yang mengangkat tema anti-bullying. Cerita sederhana tentang seorang anak yang berbeda namun memiliki kebaikan hati berhasil membuat mata berbinar-binar.

Saat sesi talkshow inklusif bersama komunitas Ruma Guna Karsa, para caregiver berbagi pengalaman merawat Orang Dengan Skizofrenia (ODS). Tidak ada air mata, yang ada justru tawa hangat ketika seorang ibu bercerita bagaimana anaknya yang berkebutuhan khusus justru menjadi “guru” kesabaran bagi keluarga.

Festival Gya Dolan Sesarengan 2025 meninggalkan pesan kuat tentang budaya tradisional yang tidak harus kaku dan eksklusif. Budaya bisa menjadi ruang bermain yang menyenangkan sekaligus mendidik, tempat di mana setiap anak -- tanpa memandang kondisi fisik atau mental -- bisa merasakan kebanggaan sebagai pewaris budaya bangsa. (*)