Baby Lobster Jadi Primadona Baru Nelayan Pantai Selatan Kebumen

Baby Lobster Jadi Primadona Baru Nelayan Pantai Selatan Kebumen
Perahu-perahu nelayan bersandar di pesisir Pasir, Kecamatan Ayah. Sebagian nelayan setempat kini memilih menangkap baby lobster karena nilai jualnya lebih menguntungkan dibanding ikan konsumsi. (nanang w hartono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, KEBUMEN — Sejumlah nelayan di pesisir selatan Kabupaten Kebumen mulai beralih dari menangkap ikan konsumsi ke perburuan baby lobster atau benih bening lobster (BBL). Tingginya nilai jual BBL menjadi daya tarik utama bagi para nelayan untuk menggeluti usaha tersebut.

Nelayan Pasir, Kecamatan Ayah, Darsono alias Tukimin, mengatakan penangkapan BBL di perairan selatan Kebumen telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, praktik tersebut mula-mula dilakukan nelayan dari Pangandaran, Jawa Barat, sebelum kemudian diikuti nelayan Kebumen.

"Penangkapan BBL di sini diawali nelayan dari Pangandaran," ujar Tukimin kepada Koranbernas.id, Minggu (28/6/2026).

Ia menjelaskan, penangkapan BBL dilakukan pada malam hari menggunakan perahu jukung berkapasitas dua orang.

"Peralatan yang digunakan relatif sederhana, yakni rumpon dari karung goni, lampu penerangan, genset untuk menarik BBL mendekati rumpon, serta perahu fiber," lanjutnya.

BBL dipasarkan dalam kondisi hidup dan dijual per ekor, berbeda dengan ikan konsumsi yang dijual berdasarkan berat. Harga jual BBL pernah mencapai Rp25.000 per ekor, namun saat ini turun hingga sekitar Rp2.500 per ekor.

Menurut Tukimin, harga BBL sangat dipengaruhi jumlah tangkapan. Ketika hasil tangkapan sedikit, harga cenderung tinggi. Sebaliknya, saat pasokan melimpah, harga turun.

"Ukuran rata-rata BBL yang ditangkap sekitar 5 sentimeter," kata dia.

Apabila hasil tangkapan melimpah, nelayan dapat memperoleh keuntungan ratusan ribu hingga jutaan rupiah dalam sekali melaut.

Namun jika hasil tangkapan minim, mereka berisiko merugi karena biaya operasional, terutama untuk bahan bakar minyak, tetap harus dikeluarkan.

Dalam dua hari terakhir, sebagian besar nelayan di Pasir tidak melaut akibat cuaca buruk. Angin kencang di tengah laut membuat aktivitas penangkapan BBL maupun ikan konsumsi dihentikan sementara. (*)