Anak Korban Bullying Cenderung Ketakutan, Cemas dan Sulit Berkonsentrasi

Anak Korban <i>Bullying</i> Cenderung Ketakutan, Cemas dan Sulit Berkonsentrasi
Bully Institute menyelenggarakan seminar tentang bullying. (Istimewa).

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTABully Institute menggelar seminar bertajuk "Bullying: Mengenali, Memahami, dan Mengakhiri" pada Selasa, 23 Juni 2026 di Condongcatur. Kegiatan ini merupakan wujud kepedulian terhadap tumbuh kembang anak sekaligus upaya menghadirkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari bullying.

Seminar terselenggara berkat kolaborasi sejumlah pihak yang menaruh perhatian pada isu perlindungan anak, di antaranya TK PKK Condong Catur. Acara ini turut didukung oleh dosen Manajemen Sumber Daya Manusia Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Djaelani Susanto, M.M., yang juga editor dari buku Bullying pada Orang Dewasa. Dukungan lain datang dari mahasiswa Psikologi Universitas Proklamasi 45 (UP45), Arya Dwi Aprianto dan Dhava Dwi Kurniawan, di bawah bimbingan dosen Psikologi UP45, Amin Al Adib, S.Psi., M.Psi.

Dalam seminar tersebut, narasumber dari tim Bully Institute, Busthanul Arifin, mengupas isi buku berjudul Bully dari A-Z: Mengenali, Memahami, dan Mengakhiri karya psikolog Yayah Durrotul Gholiyah, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Ia menegaskan bahwa bullying bukanlah hal yang remeh karena dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang menghambat perkembangan anak.

Menurut Arifin, anak yang menjadi korban bullying cenderung mengalami ketakutan, kecemasan, serta kesulitan berkonsentrasi saat belajar. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan prestasi akademik sekaligus menghambat perkembangan sosial mereka.

Lebih jauh, bullying dinilai dapat mengubur potensi terbaik anak. Tidak sedikit anak yang sebenarnya memiliki bakat, kreativitas, dan kemampuan luar biasa, tetapi justru memilih menyembunyikannya karena takut menjadi sasaran ejekan, cemoohan, dan bullying dari teman-temannya. Akibatnya, kesempatan mereka untuk berkembang secara optimal ikut terhambat karena terlalu banyak ketakutan akan konsekuensi yang muncul jika mereka terlihat terlalu menonjol. Padahal, Arifin menambahkan, di dalam membangun keahlian dan kompetensi apa pun kelak nantinya. Apa pun bidang yang ingin ditekuni, pada awalnya pasti dilakukan dengan amat sangat tidak sempurna. Yang terpenting adalah, semakin cepat kita mencoba, akan semakin cepat pula kita ketemu salah. Semakin cepat kita ketemu salah, maka akan semakin cepat kita untuk belajar dan semakin cepat kita untuk belajar, maka akan semakin cepat pula kita menjadi mahir dan kompeten di bidang tersebut. Dan anak tangga pertama yang harus dilakukan adalah berani mencoba tanpa takut melakukan kesalahan, karena kesalahan umumnya tentu akan kita temui, di dalam mempelajari segala sesuatu.

Untuk itu, penting mengenali tanda-tanda bullying serta memperluas literasi tentang bullying. Melalui berbagai literasi tersebut, orang tua tidak hanya mampu mengenali gejala sejak dini, tetapi juga memahami cara merespons secara tepat tanpa memperkeruh keadaan. Sikap yang tergesa-gesa dan terlalu reaktif justru bisa membuat anak semakin tertutup dan enggan bercerita. Sebaliknya, kehadiran orang tua yang tenang, penuh empati, dan siap mendengarkan akan menjadi tempat aman dan nyaman bagi anak untuk mengungkapkan apa yang sedang ia alami.

Pada akhirnya, kesadaran dan kepekaan orang tua menjadi benteng pertama yang melindungi anak. Ketika anak merasa didengar, dipercaya, dan didukung, ia akan lebih kuat menghadapi tekanan dari luar, sekaligus memiliki ruang untuk tumbuh dan menunjukkan potensi terbaik yang dimilikinya.

Pada kesempatan yang sama, pembicara kedua, Djaelani Susanto, M.M., menambahkan bahwa berdasarkan pengalaman dan kajiannya sebagai editor dari buku Bullying pada Orang Dewasa, bullying merupakan masalah yang harus dipetakan dan ditangani secara serius sejak dini. Ia mengingatkan bahwa dampak bullying tidak berhenti pada masa kanak-kanak, melainkan dapat terbawa hingga ke usia dewasa.

"Bullying bukan hanya tanggung jawab sekolah semata. Guru, orang tua, dan seluruh elemen masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak," ujarnya.

Melalui seminar ini, diharapkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengenali tanda-tanda bullying, memahami dampaknya secara menyeluruh, serta mengambil langkah nyata untuk mengakhirinya dapat meningkat. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dinilai menjadi kunci utama untuk mewujudkan lingkungan yang lebih sehat dan ramah bagi anak-anak.

Fungsionaris Tim Penggerak PKK Kalurahan Condongcatur (baju biru) menerima buku. (Istimewa).

Acara turut dimeriahkan dengan pembagian doorprize berupa tiga eksemplar buku Bully dari A–Z: Mengenali, Memahami, dan Mengakhiri. Selain itu, satu eksemplar buku tersebut juga dihibahkan kepada TK PKK Condongcatur.

Sebagai informasi, Bully Institute merupakan lembaga yang berfokus pada edukasi, pencegahan, dan penanganan bullying melalui beragam program pelatihan, seminar, penelitian, serta kampanye sosial. Tujuannya, menciptakan lingkungan yang lebih aman, nyaman, sehat, dan inklusif bagi semua kalangan. (*)