Pameran Keliling Pecah Sunyi Membuka Panggung bagi Perupa Kampung

Salah satu karya yang menarik perhatian berasal dari seniman grafis Moki yang mengangkat kisah Pangeran Diponegoro. 

Pameran Keliling Pecah Sunyi Membuka Panggung bagi Perupa Kampung
Suasana pameran Pecah Sunyi di balai pertemuan warga RT 01 Padukuhan Kembaran, Kalurahan Tamantirto Kapanewon Kasihan Bantul. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Perayaan seni rupa di Yogyakarta hampir selalu berpusat di galeri-galeri kota. Pameran, diskusi hingga pertemuan para seniman berlangsung meriah di ruang-ruang seni yang akrab bagi kalangan tertentu. Namun, bagi banyak warga di kawasan pinggiran, kemeriahan itu sering hanya menjadi cerita yang terdengar dari kejauhan.

Kesenjangan itulah yang ingin dijembatani melalui Pecah Sunyi, sebuah program pameran seni rupa keliling yang memulai langkahnya dari Padukuhan Kembaran, Kalurahan Tamantirto Kapanewon Kasihan Bantul. Alih-alih mengundang masyarakat datang ke galeri, program ini justru membuka panggung dan membawa galeri masuk kampung.

"Jogja hari ini kan semua rame banget. Tapi ketika saya tinggal di suatu tempat, kok rasanya warga di pinggiran tidak merasakan 'lebaran seni' itu? Mereka akhirnya cuma jadi penonton dari kejauhan," kata Hendra Priyadhani, inisiator pameran Pecah Sunyi, di sela pembukaan pameran, Jumat (26/6/2026).

Bagi Hendra yang akrab disapa Blangkon itu, membawa pameran ke kampung bukan sekadar menggelar karya seni. Dia ingin membuka ruang perjumpaan antara seniman dan masyarakat yang selama ini jarang bersentuhan dengan seni rupa.

Gagasan itu sebenarnya bukan hal baru baginya. Dua dekade lalu dirinya pernah melakukan kegiatan serupa. Kini, setelah lama berkecimpung di dunia seni rupa profesional, dia merasa saatnya kembali ke lingkungan tempat tinggalnya untuk membangun ruang apresiasi bersama.

Remaja-remaja mengamati detail karya yang dipamerkan pada pameran Pecah Sunyi di balai pertemuan warga RT 01 Padukuhan Kembaran, Kalurahan Tamantirto Kapanewon Kasihan. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

Padukuhan Kembaran dipilih sebagai lokasi pertama karena menjadi tempat tinggalnya. Persiapan pameran pun dilakukan dengan cara sederhana. Tak ada prosedur yang rumit ataupun nota kesepahaman. Hendra memilih mendatangi rumah-rumah warga, mengobrol dan mengajak mereka terlibat.

"Kadang saya tidak bermaksud mulia sih, tapi senang saja. Karena warga itu sebenarnya cuma pengin ngobrol. Media seni rupa ini yang menjadi jembatannya," ujarnya.

Menjelang pembukaan pameran, Hendra masih sibuk memasang karya, mengatur pencahayaan dan merapikan ruang pamer sederhana. Warga yang melintas berhenti sejenak, memperhatikan lukisan-lukisan yang dipasang, lalu bertanya tentang makna karya maupun tujuan pameran tersebut. Percakapan mengalir begitu saja tanpa jarak.

Bagi Kepala Dukuh Kembaran, Darsono, pameran ini menjadi pengalaman baru bagi warganya. Selama ini, seni yang akrab di lingkungan mereka lebih banyak berupa jathilan, ketoprak dan kesenian tradisional lainnya.

"Dengan adanya pameran ini, pola pikir warga kami terbuka. Seni itu ternyata luas, tidak hanya lingkup seni pertunjukan saja," katanya.

Menurut Darsono, selama ini memang ada sejumlah seniman yang tinggal di Kembaran. Namun pameran seni rupa biasanya berlangsung di ruang pribadi mereka sehingga warga lebih sering menjadi tamu daripada bagian dari penyelenggara. Melalui Pecah Sunyi, warga justru ikut menjadi panitia, membantu persiapan, hingga menyambut para pengunjung.

Pangeran Diponegoro

Salah satu karya yang menarik perhatian berasal dari seniman grafis Moki yang mengangkat kisah perjuangan Pangeran Diponegoro. Cerita itu terasa dekat dengan warga Kembaran karena wilayah mereka menyimpan jejak sejarah perjuangan Diponegoro.

Dari kawasan Bukit Sempu, pasukan Diponegoro diyakini pernah mengawasi pergerakan musuh sebelum kembali ke Gua Selarong. Di sekitar Kali Bedok, kuda-kuda pasukan gerilya dilepas untuk beristirahat atau diumbar. Dari kata umbaran itulah, menurut cerita masyarakat, nama Kembaran berasal.

Tak jauh dari karya tersebut, sebuah lukisan berjudul Shallow karya Prima Puspita Sari juga mengundang perhatian. Dengan sapuan warna yang manis namun tegas, karya itu menyampaikan kritik terhadap kehidupan modern yang dinilai lebih mementingkan penampilan daripada makna.

"Zaman sekarang apa-apa sudah dangkal. Luarnya manis, bajunya cakep, tapi esensinya kosong. Melalui karya ini, saya ingin menyentuh esensi yang hilang itu," ujar Prima.

Dari sepuluh seniman yang berpartisipasi, tujuh di antaranya merupakan warga Kembaran. Sebagian masih tergolong perupa muda.

Pecah Sunyi tidak akan berhenti di Kembaran. Dua minggu mendatang, pameran ini dijadwalkan berpindah ke Glondong, Nayu Kidul dan sejumlah wilayah pinggiran lainnya. Hendra berencana mengajak perwakilan warga mengunjungi Artjog agar mereka dapat melihat langsung ekosistem seni rupa yang lebih luas. (*)