Dari Dapur Lereng Merapi, Wédang Rempah Raos Jogja Tembus Pasar Ekspor
KORANBERNAS.ID, SLEMAN – Di balik hangatnya secangkir wédang rempah yang disuguhkan kepada wisatawan di Desa Wisata Pentingsari, Cangkringan, tersimpan kisah panjang perjuangan seorang perempuan pelaku UMKM bernama Marsinah.
Perempuan berusia 61 tahun itu tak pernah membayangkan usaha rumahan yang dirintis dari dapur sederhana kini mampu menjangkau pasar lintas daerah hingga ikut menembus pasar luar negeri melalui jaringan reseller.
Perjalanan itu bermula ketika krisis ekonomi menghantam keluarganya pada pertengahan 1990-an. Saat itu sang suami terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan memutuskan kembali ke kampung halaman di Cangkringan.
“Saat itu kondisi ekonomi belum stabil. Setahun kemudian, saya akhirnya menyusul suami pulang ke Sleman dan berusaha mencari tambahan penghasilan untuk keluarga,” tutur Marsinah saat ditemui di Desa Wisata Pentingsari.
Awalnya ia bertani dan berdagang di Pasar Pakem. Aktivitas itu dijalani hingga tahun 2008. Ketika Desa Wisata Pentingsari mulai berkembang, Marsinah melihat peluang baru dari sektor pariwisata.
Berbekal pengalaman berdagang, ia mulai menyediakan berbagai produk oleh-oleh bagi wisatawan yang datang ke Pentingsari. Mulai dari keripik jamur, keripik buah, jahe instan hingga produk khas lokal lainnya.
“Tamu wisata biasanya mencari sesuatu yang bisa dibawa pulang. Dari situ saya mulai membuat oleh-oleh,” ujarnya.
Seiring berkembangnya desa wisata, Marsinah juga ikut mengembangkan homestay pada tahun 2010 untuk mendukung kebutuhan akomodasi wisatawan.
Namun, ujian terbesar datang saat pandemi Covid-19 melanda. Ketika kunjungan wisatawan berhenti total, usaha oleh-oleh yang selama ini menjadi andalan praktis kehilangan pasar. Alih-alih menyerah, Marsinah justru mencari peluang baru.
Ia mendapatkan inspirasi dari kerabatnya di Jawa Timur yang saat itu banyak membutuhkan minuman herbal untuk menjaga kesehatan selama pandemi.
Berbekal rasa penasaran, ia membeli produk wédang rempah yang beredar di pasaran, membongkar isi kemasannya, lalu mempelajari bahan dan proses pembuatannya secara otodidak.
“Saya belajar sendiri. Saya lihat kalau rempah segar mudah berjamur dan cepat rusak. Akhirnya saya mencoba berbagai cara supaya lebih awet, higienis, tetapi rasa tetap enak,” katanya. Dari proses eksperimen tersebut lahirlah produk Wédang Rempah Raos Jogja.
Rempah-rempah seperti jahe, serai, secang, kapulaga, cengkeh, kayu manis, temulawak hingga kunyit diolah melalui proses pencucian, pengeringan dan pengovenan sehingga memiliki daya simpan lebih panjang.
Produk buatannya, ternyata mendapat sambutan positif. Melalui jaringan pemasaran yang dibangun secara sederhana, wédang rempah racikannya mulai dikenal luas. Bahkan seorang reseller besar yang pernah membeli produknya datang langsung mencari Marsinah untuk menjalin kerja sama.
Kini produk Wédang Rempah Raos Jogja telah dipasarkan ke berbagai daerah seperti Bali, Surabaya, Bandung dan Jakarta. Sebagian bahkan telah masuk ke jaringan pemasaran yang mengarah pada pasar ekspor.
“Awalnya hanya dua jalur pemasaran. Sekarang berkembang terus. Bahkan ada yang membawa produk ini sampai ke Australia,” ungkapnya.
Saat pandemi, permintaan produk sempat melonjak tajam hingga mencapai ribuan kemasan dan memaksa Marsinah merekrut hingga tujuh tenaga bantuan produksi. Tak berhenti di situ, wédang rempah kini juga menjadi bagian dari paket edukasi wisata yang ditawarkan Desa Wisata Pentingsari.
Wisatawan yang mengikuti program live in tidak hanya mencicipi minuman herbal khas Pentingsari, tetapi juga belajar mengenal rempah-rempah serta proses peracikannya.
Saat ini Marsinah memiliki delapan varian produk, mulai dari wédang uwuh, wédang secang, wédang serai, wédang jahe, wédang jahe telang, wédang seruni, wédang kunyit asam hingga empon-empon.
Wédang secang dan wédang serai bahkan telah menjadi minuman khas penyambutan tamu di Desa Wisata Pentingsari.
Keberhasilan Marsinah menunjukkan bagaimana sektor pariwisata dan UMKM mampu tumbuh saling menguatkan.
Perkuat Daya Saing UMKM
Di balik perkembangan usahanya, Marsinah mengakui berbagai pelatihan dan pendampingan yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Sleman ikut memperkuat kapasitas pelaku UMKM. Ia pernah mengikuti pelatihan mengenai legalitas usaha, pengemasan produk, pemasaran digital, pemasaran melalui Sleman Mart, hingga sosialisasi perizinan dan sertifikasi produk.
Informasi tersebut sebagian besar diperoleh melalui Forum Komunikasi (Forkom) UMKM Kalurahan yang selama ini menjadi penghubung antara pelaku usaha dengan pemerintah daerah.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sleman, Sutiasih mengatakan, penguatan UMKM di kawasan desa wisata terus dilakukan melalui berbagai bentuk pendampingan, terutama untuk membantu pelaku usaha memenuhi aspek legalitas dan meningkatkan daya saing produknya.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sutiasih (tengah) ketika menerima penghargaan dari Bupati Sleman. (Dok. Dinas Koperasi dan UKM).
Di Desa Wisata Pentingsari, misalnya, Dinas Koperasi dan UKM bersama Forkom UMKM Kalurahan telah memfasilitasi penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikasi halal bagi pelaku UMKM.
Pendampingan serupa juga dilakukan di berbagai desa wisata lain di Kabupaten Sleman. Di Desa Wisata Plempoh, Kalurahan Bokoharjo, pelaku UMKM mendapat fasilitasi pembuatan NIB, PIRT, dan sertifikasi halal. Sementara di Desa Wisata Pengklik dan Desa Wisata Tinjon di Kalurahan Madurejo, pendampingan difokuskan pada penerbitan NIB dan sertifikasi halal.
Adapun di Desa Wisata Kampung Nglarang, Kalurahan Sidoarum, Dinas Koperasi dan UKM membantu penyusunan konsep pengembangan desa wisata sekaligus memfasilitasi penerbitan NIB. Sedangkan di Desa Wisata Sukunan, Kalurahan Banyuraden, dukungan diwujudkan melalui pelaksanaan program Grebeg Halal Nasional untuk memperluas akses sertifikasi halal bagi pelaku usaha.
Menurut Sutiasih, hingga tahun ini belum ada program yang secara khusus diperuntukkan bagi UMKM desa wisata. Namun demikian, seluruh pelaku UMKM di desa wisata tetap dapat memperoleh layanan konsultasi, pendampingan, maupun peningkatan kapasitas melalui berbagai kelas yang diselenggarakan di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM Kabupaten Sleman.
Sutiasih. (Dok. Dinas Koperasi dan UKM).
"Kalau UMKM desa wisata membutuhkan konsultasi maupun pendampingan, sejauh kemampuan kami insyaallah siap membersamai. Begitu juga jika membutuhkan peningkatan kapasitas melalui kelas-kelas di PLUT, kami persilakan memanfaatkan fasilitas yang ada," ujar Sutiasih.
Pendampingan tersebut diharapkan mampu melahirkan semakin banyak pelaku UMKM desa wisata yang tidak hanya memiliki produk berkualitas, tetapi juga telah memenuhi aspek legalitas, sehingga lebih siap menembus pasar yang lebih luas.
Bermimpi Membangun Rumah Wédangan
Meski usahanya terus berkembang, Marsinah masih memiliki mimpi sederhana. Ia ingin membangun dapur produksi yang lebih representatif sekaligus rumah wédangan yang nyaman bagi wisatawan. Saat ini ruang produksi, ruang penyimpanan, area edukasi, dan ruang display masih menyatu sehingga belum ideal untuk menerima tamu dalam jumlah besar. Padahal, tidak sedikit wisatawan yang ingin menikmati wédang rempah sambil bersantai setelah mengikuti berbagai aktivitas di Desa Wisata Pentingsari.
Baginya, rumah wédangan bukan sekadar tempat berjualan, melainkan ruang untuk mengenalkan kekayaan rempah Nusantara sekaligus memperpanjang lama tinggal wisatawan di desa. (*)
Warjono
