Siswa Sanggar Anak Alam Yogyakarta Presentasi Riset Wayang Suket
Maraknya sekolah berlabel “alam” yang justru tumbuh eksklusif dan berbiaya mahal sebagai bentuk nyata industrialisasi Pendidikan.
KORANBERNAS.ID, BANTUL – Pada sebuah sudut persawahan di Bantul, anak-anak berlarian bukan untuk mengejar bel masuk kelas, melainkan mengejar pengalaman. Di Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta, pertanyaan tidak dibungkam oleh kurikulum, justru pertanyaanlah yang menjadi kurikulum itu sendiri.
Di tengah maraknya sekolah berlabel “alam” yang kian eksklusif dan mahal, SALAM sebagai anomali: ruang belajar yang menolak komersialisasi, menjaga nilai-nilai pedagogi kritis, dan menjadikan dunia nyata sebagai guru utamanya.
Salah satu gambaran nyata pendekatan itu terlihat dari presentasi riset Addry, siswa kelas 4 SALAM. Dalam hari terakhir bulan presentasi, dia menampilkan riset lanjutan tentang wayang suket. Jika pada riset sebelumnya Addry belajar membuat wayang dari rumput, kali ini dia melangkah lebih jauh yakni menjadi dalang.
Ide itu muncul setelah dia sempat kebingungan menentukan arah riset. Sang fasilitator kemudian mendorongnya untuk tidak berhenti pada proses membuat wayang, melainkan mencoba memainkannya.
Addry saat presentasi riset wayang suket di bulan presentasi Sanggar Anak Alam Yogyakarta. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)
Di depan peserta presentasi, Addry mengaku sempat dilanda rasa gugup. Namun, dia punya caranya sendiri untuk mengendalikan rasa itu. “Deg-degan, tapi kalau itu muncul saya tarik nafas. Jadi lebih tenang,” kata Addry, yang sehari-hari lebih dikenal sebagai anak yang gemar bermain sepak bola.
Bagi fasilitatornya, keberanian Addry tampil sebagai dalang merupakan capaian besar. Sebab, sebelumnya Addry dikenal sebagai anak yang pemalu. “Ini kemajuan yang luar biasa. Dulu Addry cenderung malu-malu, sekarang berani tampil sebagai dalang. Biasanya dia dikenal sebagai pemain sepak bola, tetapi hari ini dia mencoba memberanikan diri mengambil peran baru. Itu luar biasa,” ujar fasilitatornya.
Kepala Sekolah SALAM, Yudhistira Aridayan, meyakini pengetahuan yang utuh hanya lahir ketika seluruh diri anak terlibat dalam proses belajar, bukan sekadar duduk dan mendengar. Baginya, pengalaman konkret adalah guru paling lengkap.
“Yang paling banyak melibatkan seluruh diri yang utuh, mulai dari pancaindera, pikiran, perasaan dan unsur lainnya, adalah ketika seseorang melakukan dan mengalami secara langsung," ujar Yudhis di sela bulan presentasi riset siswa bertajuk Dunia Nyata adalah Guru.
Bar Jalan-jalan Kopi DST milik siswa kelas 7 yang merupakan bagian dari riset barista Rayyi dan manajemen cafe Wong Panjalu. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)
"Maka dari itu, pengalaman konkret justru menjadi guru yang paling komplet, baik bagi anak-anak, fasilitator, maupun orang tua yang mendampingi,” lanjutnya.
Pandangan itu berbeda jauh dengan potret sekolah formal pada umumnya. Jika sistem pendidikan formal kerap memperlakukan anak sebagai “gelas kosong” yang harus diisi tumpukan kompetensi dari pusat, SALAM justru membalik cara pandang tersebut.
Tujuan pembelajaran tidak ditetapkan dari atas, melainkan ditemukan sendiri oleh anak-anak melalui pengalaman yang mereka jumpai di lapangan.
SALAM juga peka terhadap dinamika dunia luar. Setelah konsisten bergerak pada empat fokus utama pangan, kesehatan, lingkungan, serta sosial budaya, sekolah ini kini menambahkan satu pilar baru berupa pengelolaan energi.
Praktik keseharian
Langkah itu lahir dari perhatian terhadap isu krisis energi global yang sempat mengemuka akibat ketegangan geopolitik beberapa waktu lalu. Namun, penerapannya di SALAM tetap membumi, bukan sebatas teori abstrak, melainkan praktik keseharian anak.
“Penerapannya banyak sekali. Misalnya, bagaimana anak-anak mengelola energi saat berangkat dari rumah ke sekolah; apakah bisa menggunakan sepeda, berjalan kaki atau cara lain untuk menghemat BBM," kata Yudhis.
Di keseharian sekolah maupun rumah, mereka juga diajak peka terhadap penggunaan peralatan elektronik dan gawai. “Turunannya bisa sangat luas,” lanjutnya.
Dari perspektif akademik, SALAM mendapat penilaian tersendiri. Profesor Filsafat Pendidikan dan Sosio-Antropologi Pendidikan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Dr Hidar Amaruddin S Pd M Pd menyebut SALAM sebagai salah satu benteng terakhir yang konsisten memegang teguh nilai dasar pedagogi kritis di Yogyakarta.
Industrialisasi pendidikan
Kritik Hidar tidak main-main. Dia menyampaikan maraknya sekolah berlabel “alam” yang justru tumbuh eksklusif dan berbiaya mahal sebagai bentuk nyata industrialisasi pendidikan, sesuatu yang menurutnya telah melenceng jauh dari esensi pendidikan itu sendiri.
“Pendidikan itu tidak boleh diindustrialisasi. Sekolah-sekolah alam baru yang bermunculan dan bersifat sangat eksklusif saat ini merupakan contoh nyata dari praktik industrialisasi pendidikan,” ujarnya saat kunjungan lapangan bersama mahasiswanya ke SALAM.
Dia menyarankan para orang tua perlu berkunjung ke SALAM sebelum memutuskan mendaftarkan anak mereka ke sekolah-sekolah alam lain yang kini menjamur.
Menurut Hidar, banyak sekolah yang semula merintis gerakan pedagogi kritis kini telah terserap dan berjalan mengikuti kurikulum pemerintah. “Yang tersisa dan benar-benar mempertahankan konsep awal keasliannya, saya kira tinggal SALAM,” tegasnya.
Romo Mangun
Secara historis, model pendidikan SALAM berakar pada nilai-nilai yang dibangun tokoh humanis legendaris YB Mangunwijaya. Hidar menyebut SALAM sebagai salah satu ruang pendidikan yang hingga kini konsisten merawat dan meneruskan nilai-nilai orisinal Romo Mangun tersebut.
Dampak pendekatan itu terlihat langsung pada perkembangan anak. Hidar menilai kedewasaan, karakter dan kebijaksanaan anak-anak SALAM kerap melampaui usia mereka, karena tidak ada jarak antara apa yang mereka pelajari dengan realitas sosial di sekitar.
Kunjungan yang melibatkan mahasiswa semester dua dan mahasiswa PPL UNU itu pun sengaja dirancang sebagai upaya menghubungkan teori yang selama ini hanya hidup di ruang kelas dengan praktik nyata di lapangan.
“Saya ingin memberikan dampak, sekecil apa pun, agar mahasiswa tahu bahwa ada konsep sekolah yang membumi seperti ini. Kelak, mereka bisa menyebarkan dan menceritakan alternatif baik ini kepada masyarakat luas,” kata Hidar. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
