LAZISNU DIY Bersama Mitra Memulai Program Inkubasi Usaha Mikro 2026

Sebanyak 66 pelaku usaha mikro terpilih akan memperoleh dukungan pendanaan.

LAZISNU DIY Bersama Mitra Memulai Program Inkubasi Usaha Mikro 2026
Kick Off Program Inkubasi Usaha Mikro LAZISNU DIY, Minggu (12/7/2026), di Aula Pertemuan Gedung DPD RI Perwakilan DIY. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTASebagai bagian dari komitmen memperkuat pemberdayaan ekonomi umat berbasis zakat produktif, LAZISNU DIY bersama berbagai mitra resmi memulai Program Inkubasi Usaha Mikro.

Program tersebut diawali melalui kegiatan Kick Off Program Inkubasi Usaha Mikro LAZISNU DIY yang dihadiri jajaran pengurus Nahdlatul Ulama, mitra strategis, akademisi serta para pelaku usaha mikro penerima manfaat, Minggu (12/7/2026), di Aula Pertemuan Gedung DPD RI Perwakilan DIY.

Sebanyak 66 pelaku usaha mikro terpilih akan memperoleh dukungan pendanaan, pendampingan usaha, penguatan kapasitas hingga monitoring perkembangan bisnis secara berkelanjutan. Program ini diharapkan tidak hanya membantu permodalan usaha, tetapi juga meningkatkan daya saing, kemandirian, dan keberlanjutan usaha para mustahik.

Ketua Tanfidziyah PWNU DIY, KH Ahmad Zuhdi Muhdlor, dalam sambutannya mengatakan zakat harus terus dikembangkan menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi yang mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Menurutnya, pengelolaan zakat tidak cukup berhenti pada penyaluran bantuan konsumtif, tetapi harus diarahkan menjadi investasi sosial yang melahirkan pelaku usaha yang mandiri, produktif dan berdaya saing.

Disebutkan, program ini juga memperoleh dukungan dari berbagai mitra strategis, di antaranya Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) DIY, Forum Zakat (FOZ) DIY, Perkumpulan Pengelola Organisasi Zakat (POROZ) DIY serta Dinas Koperasi dan UKM DIY yang memiliki perhatian terhadap penguatan sektor usaha mikro dan ekonomi masyarakat.

Perguruan tinggi

Salah satu kekuatan utama program ini adalah keterlibatan 43 Pendamping Inkubasi Bisnis yang akan mendampingi para pelaku usaha selama proses inkubasi berlangsung.

Para pendamping berasal dari berbagai perguruan tinggi dan organisasi di lingkungan Nahdlatul Ulama yaitu Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Universitas Alma Ata, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, IIQ An Nur Yogyakarta dan STAI Yogyakarta. Selain itu, pendamping juga berasal dari sejumlah badan otonom NU antara lain PW GP Ansor DIY, PW Fatayat NU DIY, serta Badan Khusus Ambulance NU DIY.

Melalui sinergi tersebut, para pendamping akan memberikan pembinaan aspek manajemen usaha, pemasaran, pengelolaan keuangan, digitalisasi usaha hingga penyusunan strategi pengembangan bisnis. Pendampingan dilakukan secara berkala agar perkembangan usaha peserta dapat dipantau dan dievaluasi secara berkelanjutan.

Ketua LAZISNU DIY, Dinik Fitri Rahajeng Pangestuti, menyampaikan Program Inkubasi Usaha Mikro merupakan bentuk transformasi pengelolaan zakat yang berorientasi pada pemberdayaan.

Menurutnya, zakat produktif akan memberikan dampak yang lebih luas apabila dikombinasikan dengan pendampingan intensif, peningkatan kapasitas pelaku usaha, serta kolaborasi dengan berbagai pihak.

"Harapan kami, para penerima manfaat tidak hanya memperoleh tambahan modal usaha, tetapi juga memperoleh ilmu, jaringan dan pendampingan sehingga usahanya berkembang. Ke depan, kami berharap mereka mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga, membuka lapangan kerja baru, bahkan bertransformasi dari mustahik menjadi muzakki," ujarnya.

Zakat produktif

Rangkaian Kick Off diawali dengan registrasi peserta, pembukaan, pembacaan ayat suci Al Quran, sambutan Ketua LAZISNU DIY, Ketua Tanfidziyah PWNU DIY, Ketua KDEKS DIY, dilanjutkan seremoni peluncuran program serta penyematan pin dan penyerahan secara simbolis bantuan zakat produktif kepada pelaku usaha mikro.

Kegiatan kemudian diisi dengan penyampaian materi Ekonomi Aswaja oleh H Awaluddin Setya Aji ST M Eng IPM selaku Bendahara PCNU Kabupaten Magelang, sesi diskusi dan tanya jawab, arahan teknis pendampingan, serta penjelasan tahapan pelaksanaan program selama masa inkubasi.

Melalui Program Inkubasi Usaha Mikro ini, lanjut Dinik Fitri Rahajeng Pangestuti, LAZISNU DIY menegaskan komitmennya terus melaksanakan model pemberdayaan ekonomi umat yang kolaboratif, profesional dan berkelanjutan.

“Kolaborasi antara lembaga zakat, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, pemerintah, dan komunitas diharapkan mampu melahirkan ekosistem pemberdayaan yang semakin kuat sehingga zakat benar-benar menjadi instrumen penggerak kesejahteraan dan kemandirian ekonomi masyarakat,” katanya. (*)