Kamis, 27 Jan 2022,


seniman-nunung-dan-hermanu-meraih-lifetime-achievement-award-dari-yayasan-biennale-yogyakartaPenyerahan Plakat Udeido Collective kepada Penerima Lifetime Achievement Award (LAA) pada malam penutupan BIennale Jogja XVI, Sabtu (13/11/2021) (dok.yayasan biennale yogyakarta)


Muhammad Zukhronnee Muslim
Seniman Nunung dan Hermanu Meraih Lifetime Achievement Award dari Yayasan Biennale Yogyakarta

SHARE

KORANBERNAS ID, YOGYAKARTA--Yayasan Biennale Yogyakarta meneruskan tradisi pemberian penghargaan Lifetime Achievement Award (LAA/Penghargaan Pencapaian Seumur Hidup), untuk menghargai figur-figur yang dianggap berkontribusi penting dalam pembentukan wacana seni dan pengembangan ekosistem seni di Yogyakarta khususnya dan Indonesia secara umum.


Para penerima LAA adalah mereka yang sudah sangat diakui di bidangnya, tetapi acap terlupakan atau tak diberi penghargaan sebagai bentuk apresiasi yang layak. Tahun 2021 ini, bersamaan dengan seremoni penutupan Biennale Jogja XVI Equator #6, YBY menyerahkan penghargaan kepada Nunung WS dan Hermanu.


“Para Dewan Pembina dan Pengawas Yayasan Biennale Yogyakarta, dengan berbagai pertimbangan, seperti dedikasi, loyalitas, integritas dan kontribusi praktik kesenian setiap figur untuk pembentukan ekosistem seni di Indonesia dan lebih khusus lagi di Yogyakarta, pada akhirnya memberikan Lifetime Achievement Award kepada Nunung WS dan Hermanu,” ujar Alia Swastika, Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta pada acara Penutupan Biennale Jogja XVI dan Penyerahan LAA di Jogja National Museum (JNM) pada Sabtu (13/11/2021) malam.

Alia menjelaskan, Nunung WS (Wahid Sahab), merupakan perupa abstrak perempuan Indonesia. Dia lahir di Lawang, Jawa Timur pada 9 Juli 1948. Sampai di usianya yang ke-78 tahun, Nunung masih aktif berpameran, baik di dalam maupun luar negeri.


Terakhir, ia menjadi bagian dalam pameran seniman perempuan di museum bergengsi, Mori Art Museum di Tokyo, Jepang. Ia telah menunjukkan keteguhan dalam berkarya meskipun jauh dari spotlite dan hingar-bingar ketokohan dalam seni rupa. Meski demikian ia masih terus menjalankan panggilan hidupnya sebagai seorang seniman.

“Lebih menarik lagi, Ia juga menunjukkan beragam cara untuk bertahan dan bernegosiasi dengan politik medan seni dan wacana seni rupa, untuk terus berkarya dan merawat pemikiran dan gagasannya,” kata Alia.

Sementara itu, Alia juga menunjukkan bagaimana Hermanu menggerakan ekosistem seni di Indonesia mulai akhir 1980-an hingga sekarang, dengan praktik kerjanya di Bentara Budaya Yogyakarta. Kerja-kerja kuratorialnya bisa menunjuk pada semangat dekolonisasi praktik seni, yang tidak selalu berpijak pada pengetahuan Barat, tetapi mengembangkan wacana yang berbasis pada tradisi dan pengetahuan lokal.

“Selain itu, Bentara Budaya Yogyakarta juga menjadi ruang perkembangan yang penting bagi seniman-seniman Yogyakarta baik sebagai ruang pertemuan sosial, maupun sebagai ruang diskusi untuk membicarakan visi dan gagasan estetika baru,” lanjutnya.

Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 sendiri ditutup setelah 40 hari penyelenggaraannya. Kegiatan yang panjang ini diselenggarakan di empat lokasi, yaitu Jogja National Museum (JNM), Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Museum dan Tanah Liat (MdTl), dan Indieart House. Untuk mengisi pameran, panitia membuat program dengan total 99 program, meluas dari yang semula dirancang 70 program.

“Dalam 40 hari itu, kami berupaya maksimal agar penyelenggaraan program dapat menjadi media untuk transfer pengetahuan dan gagasan, baik dari sisi kuratorial maupun dari seniman yang melakukan aktivasi karyanya,” ujar Gintani Nur Apresia Swastika membacakan laporannya.

Selama 40 hari itu pula, lapor Gintani, Biennale Jogja XVI telah dinikmati oleh kurang lebih 1.5 juta orang melalui media sosial, 236.210 melalui website, dan 14.590 melalui kunjungan langsung di 4 lokasi. Selain itu, kegiatan ini terpublikasi di 165 portal media daring, 25 media cetak, dan 15 media elektronik, baik lokal, nasional, maupun internasional.

Sebagaimana sepuluh tahun penyelenggaraannya, lanjut Direktur Biennale Jogja XVI itu, pameran dua tahunan ini berfokus pada kawasan khatulistiwa dan mempertemukan Indonesia dengan negara-negara di garis khatulistiwa. Tahun ini, bekerja sama dengan wilayah Oseania, tim kurator membingkai pameran utama dengan judul Roots <> Routes yang diselenggarakan sejak 6 Oktober 2021. Ada 34 seniman dan kolektif yang diundang sebagai partisipan.

Selain penghargaan kepada seniman dan kurator berdedikasi tersebut, malam itu juga diisi dengan peluncuran buku Membabar Peta, Merupa Bumi yang merupakan hasil Sinau Romo Mangun yang merespon ruang Romo Mangun pada pameran di JNM. Diluncurkan pula buku Pasang Naik, Laut yang Sama, katalog Biennale Jogja XVI Equator #6 2021.

Beberapa pertunjukan juga meriahkan penghujung acara Biennale Jogja XVI, seperti paduan suara yang membawakan lagu “Nyanyian Sunyi” karya Mambesak dan disambung narasi karya “Dibungkam” Yanto Gombo dan karya Wok The Rock (Radio Isolasido) yang menarasikan “Sedikit mendengar, Banyak Mendengarkan”

Forum Bakurima: Oceania HipHop Forum menjadi acara pamungkas, yang merupakan forum diskusi dengan format musik hip hop dari kawan-kawan Indonesia bagian timur. Beberapa yang tampil adalah DJ Kateratchy, Lacosmusixx, Mario Zwinkle, Keilandboi, Uncle T, Presiden Tidore, Bacil Kill, dan Muria. (*)

 

 



SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini