Limbah Industri Tahu di Desa Bono Klaten Berbau Menyengat

Pemerintah desa sudah mengusulkan bantuan IPAL yang lebih representatif namun belum dikabulkan.

Limbah Industri Tahu di Desa Bono Klaten Berbau Menyengat
Gapura masuk Dukuh Kirkawi RT 02/RW 03 Desa Bono Kecamatan Tulung, yang dikenal sebagai sentra perajin tahu. (masal gurusinga/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, KLATEN -- Dukuh Kirkawi RT 02 RW 03 Desa Bono Kecamatan Tulung Kabupaten Klaten dikenal sebagai kawasan sentra perajin tahu. Banyak warga di dukuh tersebut menjalankan usaha memproduksi tahu sejak dulu kala. Namun, pengolahan limbah yang kurang maksimal mengakibatkan kawasan tersebut seringkali menimbulkan bau.

Tidak tanggung-tanggung, bau tidak hanya terjadi di saat kita berada di Dukuh Kirkawi. Beberapa puluh meter memasuki gapura Dukuh Kirkawi dari Pasar Bono pun sudah terasa bau menyengat.

Menurut warga sekitar, bau menyengat berasal dari limbah tahu yang dialirkan ke instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di dekat gapura masuk Dukuh Kirkawi RT 02 RW 03. Diduga karena kondisi IPAL yang tidak berfungsi maksimal, sebagian air limbah dialirkan ke dalam sumur di sebelah TPS 3R Bono untuk diolah lagi sebelum akhirnya dialirkan ke sungai.

Praktis, air yang mengalir di sungai berwarna putih dan berbau. Kondisi ini sudah berlangsung lama dan Pemerintah Desa Bono sudah mengusulkan bantuan IPAL yang lebih representatif namun belum dikabulkan.

"Kondisi seperti ini (bau) sudah lama, dan berasal dari limbah tahu. Tapi ini (baunya) sudah berkurang bila dibandingkan beberapa waktu lalu," kata warga, Senin (6/7/2026).

IPAL tahu di sebelah kiri gapura masuk Dukuh Kirkawi RT 02/03 Desa Bono Kecamatan Tulung yang tidak berfungsi maksimal. (masal gurusinga/koranbernas.id)

Senada diungkapkan Kepala Desa Bono, Bakdiyono. Ditemui di rumahnya, dia mengatakan sudah berusaha mengurangi bau yang timbul dari limbah tahu milik warganya.

Beberapa waktu lalu, pihaknya sudah mengajukan bantuan ke Pemprov Jawa Tengah namun belum juga terealisasi. Karenanya, dengan inisiatif sendiri pihaknya berusaha mengurangi bau yang timbul dengan mengalirkan air limbah ke sumur di dekat TPS 3R untuk diolah sebelum dialirkan ke sungai.

Ditambahkan, air limbah yang dialirkan ke sungai sebenarnya bermanfaat bagi petani di kawasan hilir. Namun, karena faktor cuaca juga mempengaruhi bau yang terjadi.

Pengamatan di lapangan, bau menyengat begitu terasa ketika hendak memasuki gapura Dukuh Kirkawi RT 02 RW 03 Desa Bono. Sumber bau itu dari IPAL tahu di sisi kiri gapura dan dari saluran ke sumur serta sungai di dekat TPS 3R di bawah gapura masuk Dukuh Kirkawi.

Air yang mengalir tampak berwarna putih dan berbusa mengakibatkan bau yang sangat menyengat. (*)