Dialog Kebangsaan Fokal IMM: Jangan Jadi Penonton, Kader IMM Diminta Ambil Peran di Politik hingga Birokrasi

Dialog Kebangsaan pada Muswil Fokal IMM DIY menyerukan kader IMM agar tidak hanya menjadi penonton, tetapi berani menguasai politik, birokrasi, pendidikan, dan berbagai sektor strategis untuk membangun Indonesia

Dialog Kebangsaan Fokal IMM: Jangan Jadi Penonton, Kader IMM Diminta Ambil Peran di Politik hingga Birokrasi
Abidin Fikri memaparkan kondisi terkini kebangsaan di depan Fokal IMM Yogyakarta. (warjono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA--Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) diminta tidak hanya menjadi pengamat atau pengkritik kebijakan, tetapi berani tampil di garis depan dengan mengambil peran strategis di politik, birokrasi, pendidikan, dunia usaha hingga berbagai sektor pembangunan bangsa. Pesan itu mengemuka dalam Dialog Kebangsaan yang mengawali Musyawarah Wilayah (Muswil) Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (Fokal IMM) Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (27/6/2026).

Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI Dr. Abidin Fikri, SH, MH menegaskan IMM sejak awal dididik sebagai kader bangsa. Karena itu, para kader tidak boleh ragu memasuki ruang-ruang strategis untuk ikut menentukan arah pembangunan Indonesia.

"IMM adalah kader bangsa. Di mana saja boleh mengambil peran, baik di politik, birokrasi, pendidikan maupun sektor lainnya. Yang penting, all out sesuai kapasitas masing-masing," tegas Abidin. 

Menurutnya, komitmen kebangsaan Muhammadiyah telah teruji sejak masa awal berdirinya Republik Indonesia. Salah satu buktinya adalah peran besar tokoh Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo dalam proses lahirnya konsensus nasional saat pembahasan Piagam Jakarta.

"Kalau saat itu para tokoh tidak berjiwa besar, bangsa ini bisa saja terpecah belah. Mereka mengutamakan persatuan bangsa di atas kepentingan golongan," katanya. 

Abidin menambahkan, semangat kebangsaan Muhammadiyah tidak berhenti dalam sejarah, tetapi terus diwujudkan melalui kerja nyata mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurutnya, pembangunan kampus Muhammadiyah hingga ke wilayah timur Indonesia menjadi bukti nyata pengamalan Empat Pilar Kebangsaan.

"Kalau komitmen kebangsaannya diragukan, tidak mungkin Muhammadiyah membangun kampus sampai di Nusa Tenggara Timur. Itu bukti Muhammadiyah hadir untuk mendidik bangsa," ujarnya. 

Tata Kelola yang Bersih

Selain mendorong kader IMM masuk ke ruang-ruang kepemimpinan, Abidin mengingatkan bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin yang berintegritas dan kompeten.

Ia menilai sejumlah program pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Sekolah Rakyat, memiliki tujuan mulia. Namun, manfaatnya akan sulit dirasakan masyarakat apabila tata kelolanya masih diwarnai penyimpangan. 

Abidin menyinggung adanya dugaan dapur MBG fiktif sebagai contoh bahwa persoalan utama bukan pada program, melainkan pada kualitas penyelenggara negara.

"Programnya menurut saya baik. Tapi kalau tata kelolanya diperbaiki, manfaatnya akan jauh lebih besar. Yang menjadi persoalan adalah ketika negara diurus oleh orang-orang yang tidak kompeten dan justru berniat merampok uang negara," tegasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi generasi muda IMM untuk hadir membawa perubahan melalui kepemimpinan yang bersih, profesional, dan berpihak kepada rakyat.
PP Muhammadiyah: Berkiprah, Tapi Jangan Lupakan IMM

Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. Irwan Akib menyampaikan pesan senada. Ia mendorong kader IMM agar tidak ragu memasuki berbagai bidang pengabdian, tetapi tetap menjadikan nilai-nilai kaderisasi sebagai kompas moral.

"Kalau sudah masuk ke ranah kebangsaan, godaannya luar biasa. Tapi saya berharap tetap membawa perjuangan untuk umat. Apa yang diperoleh dalam pengkaderan IMM bisa menjaga itu," katanya.

Irwan menegaskan, kader IMM dipersilakan memilih jalan pengabdian masing-masing, baik di Muhammadiyah, pemerintahan, politik, akademisi maupun dunia profesional. Namun, pilihan itu harus dijalani secara total.

"Kalau memang fokus ke sana, silakan. Tapi all out, jangan setengah-setengah. Begitu juga yang ingin mengabdi di persyarikatan, lakukan sebaik-baiknya agar membawa manfaat bagi masyarakat dan umat," ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar para kader tidak melupakan organisasi yang telah membentuk karakter kepemimpinan mereka.

"Silakan bertransformasi ke mana saja. Tapi jangan lupa kita dibesarkan oleh persyarikatan melalui IMM," pesannya.

Muswil Diawali Dialog Kebangsaan

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PP Fokal IMM Dr. Yusuf Warsyim mengatakan Dialog Kebangsaan sengaja ditempatkan sebagai pembuka Muswil Fokal IMM DIY untuk memperkuat perspektif kebangsaan para alumni IMM.

Menurutnya, Fokal IMM ingin memastikan para alumni tidak hanya menjaga ikatan emosional sebagai keluarga besar IMM, tetapi juga terus mengambil peran strategis dalam menjawab berbagai persoalan bangsa sesuai profesi dan bidang pengabdiannya masing-masing.

Semangat itulah yang menjadi benang merah Dialog Kebangsaan sekaligus Muswil Fokal IMM DIY, yakni mendorong lahirnya semakin banyak kader dan alumni IMM yang berani tampil sebagai pemimpin, pengambil kebijakan, dan penggerak perubahan di berbagai lini kehidupan. (*)