Revolusi Olahraga Kampus:, UII & Campus League Siapkan Ekosistem "Student Athlete Plus" di Jogja

UII dan Campus League sepakat membangun ekosistem olahraga mahasiswa yang berkelanjutan. Dari rencana pembangunan stadion hingga mencetak "Student Athlete Plus" yang berintegritas

Revolusi Olahraga Kampus:, UII & Campus League Siapkan Ekosistem "Student Athlete Plus" di Jogja
Rektor UII bersama Ryan Gozali dari Campus League teken kerjasama baru untuk keberlanjutan event Basket Campus League rentang 5 tahun ke depan. (istimewa)

​KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA--Wajah olahraga kampus di Indonesia bersiap memasuki babak baru. Lewat sinergi strategis antara Universitas Islam Indonesia (UII) dan Campus League, olahraga bukan lagi sekadar kegiatan ekstrakurikuler musiman, melainkan kawah candradimuka untuk membentuk karakter, mentalitas, dan kepedulian sosial mahasiswa.
​Rektor UII, Prof. Dr. Fathul Wahid, ST., MSc., bersama CEO Campus League, Ryan Gozali, secara resmi menegaskan komitmen tersebut dalam acara penandatanganan kerja sama di Yogyakarta. Visi besarnya jelas, yakni membangun wadah permanen bagi pengembangan mahasiswa sebagai individu yang utuh—unggul di lapangan, cemerlang di ruang kelas.
​Salah satu poin revolusioner dalam kerja sama ini adalah rencana transformasi format kompetisi. Ryan Gozali menjelaskan bahwa Campus League akan bergeser dari sistem seri ke sistem home and away (kandang-tandang).
"Keberadaan stadion kampus menjadi kebutuhan mendesak. Kami memimpikan pembangunan stadion berstandar Campus League yang multi-cabang, dengan fokus awal pada futsal. Ini akan menjadi home ground yang memperkuat identitas almamater dan atmosfer kompetisi," ujar Ryan.
​Tak hanya soal infrastruktur, kualitas kompetisi akan ditingkatkan melalui sistem round robin. Targetnya, dalam empat tahun ke depan, setiap tim akan bertemu minimal sekali dalam satu grup. Strategi ini juga mempertimbangkan aspek logistik. Kampus yang belum memiliki fasilitas olahraga sendiri akan diarahkan menggunakan venue pemerintah daerah dalam radius maksimal lima kilometer untuk menjaga animo suporter.
"No More" Bolos Kuliah
​Seringkali, atlet mahasiswa harus mengorbankan jam kuliah demi turnamen marathon. Campus League mendobrak pola lama tersebut. Dengan jadwal pertandingan mingguan (setiap akhir pekan), mahasiswa memiliki waktu cukup untuk pemulihan, latihan strategi, sekaligus tetap fokus pada kewajiban akademik.
​"Ini soal membangun campus spirit. Setiap pekan ada agenda rutin pertandingan yang bisa didukung oleh rekan-rekan mahasiswa tanpa harus bolos kuliah. Sportivitas dan akademik harus berjalan beriringan," tambah Ryan.
​Melahirkan "Student Athlete Plus"
​Prof. Fathul Wahid membawa perspektif yang lebih dalam. Baginya, atlet kampus harus menjadi "Student Athlete Plus"—pribadi yang tidak hanya jago bertanding, tapi juga memiliki empati dan integritas sosial.
"Bangsa kita masih menghadapi banyak persoalan akibat kurangnya sportivitas di berbagai bidang. Melalui olahraga, kita menumbuhkan generasi yang jujur dan taat aturan. Sportivitas sejati adalah saat yang menang tidak jumawa dan yang kalah tidak terpuruk," tegas Prof. Fathul.
Ia juga menyoroti pentingnya kanal pengembangan permanen. Jika UII berhasil membangun ekosistem yang konsisten, hal ini diharapkan memicu kampus-kampus lain di wilayah Jawa Tengah dan DIY untuk bergerak bersama. Tujuannya satu: menjadikan wilayah ini mesin penghasil talenta atlet berkualitas secara berkelanjutan.
Pusat Pergerakan Baru
​Meski tim-tim asal Yogyakarta belum meraih posisi puncak dalam ajang basket regional yang baru saja berakhir, Ryan Gozali tetap optimis. Mulai tahun depan, wilayah Jogja akan dipisahkan dari Semarang agar masing-masing kota memiliki ruang tumbuh yang lebih luas.
​Sebagai Kota Pelajar, animo di Yogyakarta sangat tinggi. Sinergi UII dan Campus League ini bukan sekadar tentang skor di papan pertandingan, tapi tentang mencetak manusia-manusia tangguh yang siap memimpin di masa depan. Olahraga kampus kini resmi menjadi simbol integritas dan persatuan lintas almamater. (*)