Rianty Batik Luncurkan Batik Eksklusif untuk Suporter PSS Sleman
Kolaborasi ini merupakan bentuk komitmen brand lokal Yogyakarta untuk tumbuh bersama komunitas.
KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Brand batik lokal Rianty Batik meluncurkan koleksi batik eksklusif hasil kerja sama dengan klub sepak bola kebanggaan Sleman, PSS Sleman. Koleksi ini dirancang sebagai bentuk dukungan terhadap klub sekaligus memperkuat identitas suporter melalui balutan warisan budaya Indonesia.
Peluncuran kolaborasi tersebut ditandai acara meet and greet eksklusif bersama para pemain PSS Sleman yang digelar di Homs Gelato Coffee & Eatery, Kamis (7/5/2026).
Turut hadir tiga pemain PSS Sleman yakni Gustavo Tocantins, Kevin Gomes dan Nur Aziz yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para penggemar yang mengikuti acara tersebut.
Selain itu sebanyak 10 pembeli juga terpilih dari sesi pre-order koleksi batik mendapatkan kesempatan eksklusif bertemu langsung dengan para pemain, berdialog, berfoto bersama serta memperoleh poster dan tanda tangan.
Koleksi khusus
"Kegiatan ini menjadi momentum perayaan rilis koleksi khusus yang ditujukan bagi para penggemar setia Super Elja," ujar Aditya Suryadinata, CEO Rianty Batik, di sela acara.
Aditya mengatakan kolaborasi ini merupakan bentuk komitmen brand lokal Yogyakarta untuk tumbuh bersama komunitas. Selain itu, juga mendukung perkembangan olahraga di daerah.
"Kami merasa bangga sebagai brand asli Yogyakarta dapat bersinergi dengan PSS Sleman. Kolaborasi ini adalah wujud dukungan penuh kami terhadap tim kebanggaan warga Sleman sekaligus membuktikan bahwa batik bisa masuk ke segala lini, termasuk dunia olahraga. Kami ingin para suporter merasa bangga mengenakan identitas klub dalam balutan warisan budaya," katanya.
Koleksi batik ini dirancang secara khusus oleh tim Rianty Batik dengan menonjolkan berbagai elemen yang merepresentasikan identitas PSS Sleman. Motifnya tidak hanya menampilkan simbol elang dan unsur sepak bola, tetapi juga memuat detail seperti logo klub hingga tahun berdiri PSS, yakni 1976.
Karakter utuh
Seluruh motif dalam satu kain batik dirancang untuk menggambarkan karakter Super Elja secara utuh. Meski membawa unsur sepak bola, desainnya tetap mempertahankan ciri khas batik yang elegan sehingga dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan.
"Untuk peluncuran perdana ini, koleksi batik PSS Sleman dalam satu desain utama dengan empat model produk, yakni kemeja lengan pendek, kemeja lengan panjang, jaket, serta outer khusus perempuan," jelasnya.
Dia mengakui, proses pengembangan desain tersebut memakan waktu cukup panjang. Tim desain membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima bulan untuk memastikan motif yang dihasilkan benar-benar merepresentasikan karakter klub serta sesuai dengan selera suporter.
Selain itu, produk batik ini juga menggunakan teknik printing agar harga tetap terjangkau dan dapat diproduksi dalam jumlah lebih banyak. Koleksi ini dipasarkan mulai harga Rp 295.000. "Selain itu dilengkapi box eksklusif serta voucher dari Rianty Batik," ujarnya.
Produk lain
Melihat antusiasme suporter terhadap koleksi ini, Rianty Batik membuka peluang mengembangkan produk lain di masa depan. Beberapa opsi yang sedang dipertimbangkan antara lain merchandise seperti kaus hingga produk fesyen lainnya yang tetap mengusung identitas PSS Sleman.
Tahap awal, kolaborasi ini difokuskan pada batik sebagai simbol perpaduan antara warisan budaya dan semangat olahraga. Melalui kolaborasi ini, Rianty Batik berharap dapat memberikan cara baru bagi suporter menunjukkan kecintaan mereka terhadap PSS Sleman.
Kevin Gomes mengaku senang dengan kolaborasi antara batik dan sepak bola yang menurutnya masih jarang terjadi di Indonesia. "Kami senang dengan kolaborasi ini. Batiknya sangat bagus. Kolaborasi batik dan sepak bola seperti ini jarang terjadi," ujarnya.
Dia memberikan apresiasi terhadap loyalitas para suporter PSS Sleman yang selalu memberikan dukungan bagi tim di setiap pertandingan. "Menurut saya cinta suporter Sleman luar biasa. Mereka selalu memberi dukungan dan itu memberikan tenaga lebih bagi kami. Mereka selalu ada," ungkapnya. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
