Purworejo Siaga Hadapi Kemarau, Masyarakat Peduli Api Segera Dibentuk
KORANBERNAS.ID, PURWOREJO — Ancaman kebakaran hutan dan lahan diperkirakan meningkat seiring puncak musim kemarau pada Juli hingga Agustus 2026. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah memperkuat kapasitas masyarakat melalui sosialisasi dan pembekalan teknis Masyarakat Peduli Api (MPA) di Kabupaten Purworejo.
"Kami mengadakan sosialisasi MPA karena wilayah ini termasuk daerah rawan kebakaran. Pada 2024 pernah terjadi kebakaran lahan. Kegiatan ini juga menindaklanjuti apel MPA Provinsi Jawa Tengah untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak kemarau," kata Kepala Cabang Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah VIII Jawa Tengah, Rini Handayani di sela sosialisasi dan pembekalan teknis Masyarakat Peduli Api (MPA) di Aula Desa Sokoagung, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Kamis (9/7/2026). Kegiatan berlangsung selama dua hari, 8–9 Juli 2026.
Rini mengatakan pelatihan diikuti 75 peserta yang mewakili 38 desa penerima program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di lima kecamatan, yakni Bagelen, Purworejo, Loano, Bener, dan Kaligesing. Peserta juga berasal dari CV Indotama Purworejo.
Menurutnya, seluruh peserta wajib mengikuti pelatihan selama sedikitnya 16 jam untuk memperoleh sertifikat MPA. Setelah itu, DLHK akan membentuk kelompok MPA dengan nama Jogo Alas sebagai garda terdepan pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
Ia menambahkan, selama ini sudah ada relawan yang aktif menjaga lingkungan dari ancaman kebakaran. Melalui pelatihan tersebut, para relawan dibekali pengetahuan yang lebih luas mengenai pencegahan, penanganan, hingga mitigasi kebakaran hutan.
Materi pelatihan hari pertama meliputi kebijakan dan pengendalian kebakaran hutan dari DLHK, mitigasi risiko kebakaran oleh BPBD Purworejo, serta penguatan kelembagaan dan pemetaan MPA oleh Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM).
Pada hari kedua, peserta memperoleh materi mengenai peran masyarakat dalam pencegahan kebakaran dari Polres Purworejo, literasi perubahan iklim dari BMKG Jawa Tengah, serta teori dan praktik pengendalian kebakaran hutan dari Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Kementerian Kehutanan.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan PT Tunas Inti Abadi/PT Borneo Indobara melalui PT Hutan Rindang Banua (HRB).
Penanggung Jawab Operasional PT HRB, Rachmat Ramadhan, mengatakan perusahaan memberikan bantuan bibit untuk penghijauan kawasan Perbukitan Menoreh sebagai bagian dari kewajiban reklamasi di luar wilayah operasional perusahaan.
"Pada 2024 kami menyalurkan bibit untuk ditanam di lahan seluas 459 hektare yang tersebar di 38 desa. Terdiri atas 17 jenis tanaman, yakni 15 jenis pohon buah dan dua jenis tanaman konservasi untuk mendukung ketersediaan air. Perlindungan tanaman itu membutuhkan kolaborasi MPA dan seluruh pemangku kepentingan," ujarnya.
Menurut Rachmat, keberadaan MPA penting untuk membangun kepedulian masyarakat terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan, termasuk memberikan pemahaman mengenai langkah yang harus dilakukan apabila menemukan titik api, seperti segera melapor kepada pemerintah desa dan instansi terkait.
Sementara itu, Analis Iklim BMKG Jawa Tengah, Zaauyik Nana Ruslana, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan karena musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dibandingkan tahun lalu.
"Kami memberikan literasi iklim dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Kami berharap masyarakat waspada menghadapi kekeringan pada Juli dan Agustus 2026. Tahun ini lebih kering dibanding tahun lalu karena suhu lebih tinggi dan kelembapan lebih rendah sehingga risiko kebakaran meningkat. Masyarakat harus mampu mengantisipasinya," katanya. (*)
Wahyu Nur Asmani EW
