Anggota DPR RI Esti Wijayati Siap Kawal Kasus Meninggalnya Pelajar di Bantul

Siapa pun yang terlibat harus diproses sesuai hukum.

Anggota DPR RI Esti Wijayati Siap Kawal Kasus Meninggalnya Pelajar di Bantul
Anggota DPR RI MY Esti Wijayati berkunjung ke rumah almarhum korban pengeroyokan di Dusun Ciren RT 05 Kalurahan Triharjo Kapewon Pandak Bantul, Selasa (28/4/2026) sore. (sariyati wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati, memberi dukungan pada aparat kepolisian untuk mengungkap kasus meninggalnya seorang pelajar SMA di Bantul, IDS (16), secara tuntas. Siapa pun yang terlibat harus diproses sesuai hukum yang berlaku tanpa terkecuali.

Hal ini disampaikan Esti Wijayanti saat berkunjung ke rumah duka keluarga korban di Dusun Ciren RT  05 Kalurahan Triharjo Kapanewon Pandak Kabupaten Bantul, Selasa (28/4/2026) sore. Tampak mendampingi anggota DPRD DIY D Rajut Sukasworo dan Ketua Komisi D DPRD Bantul Pramu Diananto Indratriatmoko.

Kedatangan para politisi PDI Perjuangan tersebut diterima orang tua dari almarhum yaitu Sugeng Riyanto (53) dan Sri Wahyuni (48). "Kami ikut berbelasungkawa. Kalau ada apa-apa silakan kontak saya nggih, Pak," kata Esti seraya menyebutkan nomor ponsel pribadinya kepada Sugeng Riyanto.

Esti siap mengawal kasus ini agar bisa berjalan dengan baik dan diberikan hukuman kepada pelaku sesuai UU yang berlaku. Kejadian itu, kata Esti, bukan kasus pertama.

Proses hukum

"Kita semua termasuk saya sebagai anggota DPR RI, kawan-kawan DPRD DIY maupun Bantul yang saat ini hadir siap mendukung proses hukum.  Dan mari kita bersama melakukan pencegahan supaya kejadian-kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Kemudian mungkin perlu regulasi yang lebih menguatkan supaya keamanan anak-anak kita bisa lebih terjamin termasuk mungkin ketentuan mengenai jam malam bagi anak-anak. Kita perlu memikirkan hal seperti ini tidak terulang di kelak kemudian hari," urainya.

Menurut dia, kasus di DIY cukup beruntun. “Nah, ini PR berat ada kasus daycare yang begitu banyak memakan korban anak-anak usia di bawah 5 tahun sampai 53 anak yang sudah teridentifikasi. Kemudian juga kasus yang terjadi pada pelajar di Bantul. Mungkin juga ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan bersama bagi seluruh pemangku kebijakan di Daerah Istimewa Yogyakarta," tambahnya.

Esti mengajak mewujudkan dan menunjukkan Jogja sebagai Kota Pendidikan, Kota Budaya dan menciptakan Yogyakarta sebagai tempat yang aman dan ramah anak.

Sugeng menceritakan saat kejadian dia dan istri sudah tidur. Dari keterangan tetangga pada Selasa 14 April sekitar pukul 22:00 anaknya dijemput pakai motor oleh temannya.

Disuruh duduk

IDS saat itu sempat dibawa ke belakang SMA Negeri Bambanglipuro, sekolahnya. Lalu datang teman-teman yang lain. Beramai-ramai korban dibawa ke Bumi Perkemahan Gadung Mlati Kalurahan Caturharjo Pandak yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari rumahnya.

“Di sana anak saya disuruh duduk lalu ditanya ikut geng tertentu atau tidak. Dijawab tidak. Namun tetap dihajar ramai-ramai sekitar sepuluh orang. Ada yang pakai paralon, selang, disundut rokok, dipukuli. Saat tidak berdaya diseret dan dilindas motor berkali-kali. Bahkan telinga anak saya sempat akan dipotong sebelum gunting direbut teman anak saya. Tapi teman anak saya juga tidak berani melawan atau memisah karena jumlah pengeroyok yang banyak," kata Sugeng.

Temannya itulah yang kemudian memberitahu teman lainnya melalui telepon kemudian membawanya ke RS Saras Adyatma usai korban ditinggal pergi para pelaku. Selain itu, juga menghubungi kakak dari korban bernama Rofiq Nur Setyawan. Setelah enam hari dirawat, korban tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia Senin 20 April 2026. "Saya meminta semua pelaku dihukum sesuai aturan yang berlaku," katanya. (*)