Euforia Satu Dekade Keroncong Plesiran di Prambanan
Satu dekade menjadi momentum penting untuk membawa keroncong ke tahap yang lebih luas.
KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Hujan yang mengguyur kawasan Candi Prambanan sempat menghentikan jalannya malam pembuka Keroncong Plesiran 1 Dekade, Sabtu (13/6/2026). Meski begitu, ribuan penonton tetap memadati area panggung setelah hujan reda.
Sejak sore, suasana festival sudah dipadati pengunjung yang datang untuk menikmati euforia pertunjukan musik keroncong orkestra di ruang terbuka dengan latar megah Candi Prambanan. Deretan penampil mulai dari Kos Atos, Paksi Band, hingga Serenade membuka rangkaian sebelum memasuki segmen utama Symphony Kerontjong Moeda.
Momen jeda terjadi saat hujan turun cukup deras menjelang penampilan Is Pusakata. Pertunjukan terpaksa dihentikan sementara sekitar 30 menit demi keamanan panggung dan peralatan.
Sebagian penonton berteduh, sementara lainnya tetap bertahan di bawah jas hujan dan payung di sekitar area festival. Setelah hujan reda, suasana kembali hidup. Penonton yang sempat berpencar kembali memenuhi area depan panggung, menyambut dimulainya kembali rangkaian pertunjukan.
Paduan suara
Salah satu momen paling hangat terjadi ketika Is Pusakata naik ke panggung dan membawakan lagu Ruang Tunggu dan Akad yang sebelumnya populer bersama Payung Teduh. Lagu tersebut berubah menjadi paduan suara massal, dengan ribuan penonton ikut bernyanyi bersama di bawah langit Prambanan yang baru saja diguyur hujan.
Usai penampilan Is Pusakata, Letto Band melanjutkan atmosfer hangat malam itu, sebelum ditutup oleh David Bayu yang menjaga energi penonton hingga akhir acara.
Ketua festival sekaligus Arsitek Keroncong Plesiran, Ari Kancil, sebelumnya menjelaskan perayaan satu dekade ini menjadi momentum penting untuk membawa keroncong ke tahap yang lebih luas, tidak hanya sebagai pertunjukan musik, tetapi juga ruang apresiasi lintas generasi.
“Kami harus ada selebrasi dan naik kelas. Selain itu kami juga pengen memberi apresiasi kepada Bu Waldjinah yang bukan hanya sekadar plakat. Keroncong harus tetap ada, berkembang dan dinikmati lintas generasi,” ujarnya.
Terbayarkan
Penonton asal Kota Yogyakarta, Intan, mengaku puas dengan rangkaian penampilan meski sempat terganggu hujan.
Seluruh penampil sebenarnya memiliki daya tarik masing-masing. “Sakjane artis e kabeh sik dinanti,” katanya.
Keroncong Plesiran 1 Dekade tahun ini menjadi penanda perjalanan festival yang sejak 2018 konsisten lewat pertunjukan musik keroncong di berbagai ruang terbuka dan destinasi wisata Yogyakarta, sebelum akhirnya untuk pertama kali digelar di kawasan Candi Prambanan.
Meski cuaca sempat menguji jalannya pertunjukan, malam pembuka justru menjadi pengalaman yang utuh yaitu musik, penonton, dan hujan berpadu menjadi satu kesan yang sulit dipisahkan di bawah kemegahan Prambanan. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
