Hujan Deras, Ribuan Penonton Jogja Rockphonic Bertahan

Jogja ini spesial buat Dewa. Waktu Dewa 19 baru mulai dikenal, orang-orang Jogja sudah hafal lagu-lagu Dewa dan ikut bernyanyi saat konser. Waktu itu kota-kota lain belum.

Hujan Deras, Ribuan Penonton Jogja Rockphonic Bertahan
Dewa 19 menutup perhelatan Jogja Rockphonic. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Hujan deras yang mengguyur Stadion Kridosono Sabtu (13/6/2026) malam tak mampu membubarkan ribuan penonton yang memilih tetap bertahan menyaksikan D'freshtival Vol. 3: Jogja Rockphonic.

Konser yang memadukan musik rock, metal dan orkestra itu justru meninggalkan sejumlah momen berkesan, mulai dari kembalinya Vicky Mono bersama Burgerkill, penghormatan emosional God Bless untuk Donny Fattah, hingga nostalgia Dewa 19 bersama para Baladewa di Jogja.

Sejak sore, kawasan stadion sudah dipadati penonton dari berbagai generasi. Iksan Skuter menjadi penampil pembuka yang menghangatkan suasana sebelum panggung utama diambil alih para legenda musik Tanah Air.

Memasuki pukul 19:00, Burgerkill tampil dengan energi penuh. Band metal asal Bandung itu menjadi salah satu yang paling dinanti karena menandai kembalinya Vicky Mono ke atas panggung bersama Burgerkill setelah sempat berpisah.

Penampilan Burgerkill di Jogja Rockphonic di Stadion Kridosono. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

Didukung aransemen orkestra yang dipimpin dirigen dan komposer Guntur Nur Puspito, lagu-lagu seperti Anjing Tanah, Penjara Batin, Angkuh, Kontinum, hingga Only The Strong terdengar lebih megah tanpa kehilangan karakter agresifnya.

Di sela penampilan, Vicky menyampaikan rasa terima kasih kepada para Begundal yang terus mendukung perjalanan Burgerkill selama lebih dari tiga dekade. "Terima kasih ke Begundal yang sudah selalu mengikuti Burgerkill dari tahun '95 sampai titik sekarang. Yang terasa Burgerkill udah 31 tahun," ujarnya.

Sekitar pukul 20:00 , panggung beralih kepada God Bless. Achmad Albar dan kawan-kawan langsung menghidupkan suasana melalui lagu-lagu legendaris seperti Musisi, Balada Sejuta Wajah dan Panggung Sandiwara. Ribuan penonton lintas usia tampak ikut bernyanyi bersama, menciptakan suasana nostalgia yang kuat di dalam stadion.

Namun, sekitar pukul 20:45 , hujan lebat mengguyur kawasan Kridosono. Pertunjukan terpaksa dihentikan sementara selama kurang lebih 30 menit demi alasan keselamatan. Meski demikian, penonton tidak beranjak pulang. Sebagian berteduh di bawah tribun, sementara yang lain tetap bertahan di area festival dengan jas hujan dan penutup kepala seadanya.

Momen emosional

Kesetiaan penonton terbayar ketika pertunjukan kembali dilanjutkan sekitar pukul 21:15 . Sorak-sorai langsung pecah saat God Bless kembali naik ke atas panggung membawakan Semut Hitam. Antusiasme yang sempat tertahan justru terasa semakin besar setelah hujan reda.

Momen paling emosional malam itu saat God Bless memberikan penghormatan kepada mendiang Donny Fattah, pemain bass sekaligus salah satu pendiri band yang wafat pada Maret 2026. Sebuah bass diletakkan di tengah panggung dengan sorot lampu tunggal, sementara layar raksasa menampilkan dokumentasi perjalanan hidup sang musisi. Stadion yang sebelumnya riuh mendadak hening. Banyak penonton larut dalam suasana haru.

Menjelang lagu penutup God Bless, suasana di area depan panggung mulai berubah. Penonton yang sebelumnya menyebar perlahan merangsek ke depan. Kepadatan semakin terasa ketika ribuan orang bersiap menyambut penampil terakhir malam itu.

Tepat sekitar pukul 22:10 , Dewa 19 bersama Marcello Tahitoe (Ello) naik panggung. Dalam hitungan menit, area depan panggung berubah menjadi lautan manusia. Setiap lagu yang dimainkan langsung disambut nyanyian massal para Baladewa yang memadati stadion.

Tempat khusus

Di tengah penampilannya, Ahmad Dhani menyebut Yogyakarta sebagai kota yang memiliki tempat khusus dalam sejarah perjalanan Dewa 19. "Jogja ini spesial buat Dewa. Waktu Dewa 19 baru mulai dikenal, orang-orang Jogja sudah hafal lagu-lagu Dewa dan ikut bernyanyi saat konser. Waktu itu kota-kota lain belum," ujar Dhani yang disambut tepuk tangan penonton.

Pernyataan tersebut mengingatkan pada masa awal perjalanan Dewa 19 setelah merilis album debut pada 1992. Sejak saat itu, Yogyakarta dikenal sebagai salah satu kota dengan basis penggemar yang kuat bagi grup asal Surabaya tersebut.

Malam itu, hubungan emosional tersebut kembali terlihat. Lagu demi lagu dinyanyikan bersama oleh ribuan penonton tanpa henti. Aransemen simfoni yang mengiringi penampilan Dewa 19 membuat lagu-lagu mereka terdengar lebih megah, sementara energi penonton tetap terjaga meski waktu telah mendekati tengah malam.

Di bawah komando Guntur Nur Puspito dan puluhan musisi orkestra, D'freshtival Vol. 3: Jogja Rockphonic berhasil menyuguhkan pengalaman musik yang berbeda. Distorsi gitar, dentuman drum dan kemegahan simfoni berpadu dalam satu panggung tanpa saling meniadakan.

Hujan yang sempat menghentikan pertunjukan, nostalgia lintas generasi, hingga ribuan penonton yang bertahan sampai akhir menjadi bukti bahwa Kridosono kembali menjadi saksi bagaimana musik mampu menyatukan berbagai generasi. (*)