Catatan Azis Subekti, Ketika Bangsa Besar Salah Membaca Keadaan Ekonomi
Yang satu melihat bayangan dan menganggapnya kenyataan.
KORANBERNAS.ID, PURWOREJO -- Azis Subekti selain tercatat sebagai mahasiswa Program Doktor Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), juga merupakan anggota DPR RI Fraksi Gerindra. Wakil rakyat itu menyampaikan pandangannya, Minggu (14/6/2026), terkait keadaan ekonomi saat ini dan bagaimana cara membacanya.
Berikut catatannya:
Ketika rupiah melemah beberapa persen, sebagian orang berbicara seolah-olah negara sedang berada di ambang krisis. Ketika pasar saham terkoreksi, muncul kesimpulan bahwa investor telah kehilangan kepercayaan. Ketika daya beli terasa melemah di sebagian sektor, muncul keyakinan bahwa ekonomi nasional sedang menuju kemunduran.
Namun anehnya, ketika pertumbuhan ekonomi tetap berada di sekitar 5 persen, neraca perdagangan masih mencatat surplus, investasi terus masuk, dan berbagai proyek strategis terus berjalan, sebagian orang yang sama tetap merasa bahwa ada sesuatu yang sedang runtuh.
Di sisi lain, ada pula kelompok yang melihat pertumbuhan ekonomi, investasi, pembangunan infrastruktur dan berbagai indikator makro yang relatif baik, lalu menyimpulkan bahwa semuanya baik-baik saja. Mereka menganggap kecemasan publik berlebihan. Mereka menganggap berbagai tekanan yang dirasakan masyarakat hanyalah gangguan sementara.
Lebih rumit
Padahal keduanya sedang melakukan kesalahan yang sama, yaitu sama-sama membaca Indonesia secara parsial. Yang satu melihat bayangan dan menganggapnya kenyataan. Yang lain melihat cahaya dan menganggap tidak ada kegelapan. Dan padahal kenyataan selalu lebih rumit daripada keduanya.
Barangkali persoalan terbesar Indonesia hari ini bukanlah krisis ekonomi. Melainkan krisis cara membaca dirinya sendiri. Kita hidup di zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada pemahaman.
Satu grafik dapat menciptakan kepanikan nasional. Satu angka pertumbuhan dapat melahirkan rasa puas yang berlebihan. Dan, satu unggahan media sosial dapat membentuk persepsi yang jauh lebih kuat daripada puluhan halaman laporan ekonomi. Akibatnya, bangsa ini sering terjebak pada dua kutub yang saling bertolak belakang. Optimisme yang membutakan, atau pesimisme yang melumpuhkan.
Padahal pembangunan tidak pernah lahir dari keduanya, pembangunan lahir dari keberanian melihat kenyataan sebagaimana adanya. Melihat data merupakan titik awal yang paling jujur untuk memahami keadaan.
Koridor aman
Ekonomi Indonesia hari ini masih tumbuh di sekitar 5 persen ketika pertumbuhan ekonomi global diperkirakan hanya berada di kisaran 2,5 persen. Artinya, Indonesia sebagai bangsa yang besar tumbuh hampir dua kali lebih cepat dibanding rata-rata dunia. Inflasi relatif terkendali dan defisit fiskal masih berada dalam koridor yang aman.
Rasio utang terhadap produk domestik bruto jauh lebih rendah dibanding banyak negara maju, dan cadangan devisa tetap kuat, serta neraca perdagangan masih mencatat surplus.
Saat ini, status investasi Indonesia masih berada pada level investment grade. Pada saat yang sama, investor asing memang melakukan penjualan di pasar saham, akibatnya IHSG mengalami koreksi dan rupiah mengalami tekanan, serta sebagian sektor usaha merasakan perlambatan.
Kelas menengah menjadi lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya, karena biaya logistik masih tinggi. Dan, produktivitas nasional belum tumbuh secepat yang dibutuhkan.
Berlebihan
Atas persoalan yang muncul, data tidak mendukung optimisme yang berlebihan. Tetapi data juga tidak mendukung pesimisme yang berlebihan. Indonesia sesungguhnya sedang menghadapi situasi yang jauh lebih kompleks dibanding narasi yang berkembang di ruang publik.
Dunia sedang berubah dan ketegangan geopolitik meningkat, perdagangan global melambat. Harga energi bergerak tidak menentu, serta suku bunga dunia masih relatif tinggi.
Modal internasional bergerak dengan sangat cepat dari satu negara ke negara lain. Dalam keadaan seperti itu, hampir semua negara berkembang menghadapi tekanan. Thailand mengalaminya, Malaysia mengalaminya, Filipina mengalaminya, bahkan Korea Selatan mengalaminya. Bahkan negara-negara maju pun tidak sepenuhnya terbebas.
Karena itu, ketika rupiah melemah atau pasar saham terkoreksi, tidak semua persoalan berasal dari dalam negeri. Sebagian merupakan konsekuensi dari perubahan besar yang sedang terjadi pada ekonomi global, namun justru di sinilah kesalahan membaca sering muncul. Kita terlalu sering melihat Indonesia seolah-olah berdiri sendirian di dunia.
Pelajaran penting
Seolah setiap gejolak merupakan akibat dari kesalahan Indonesia sendiri. Padahal kenyataannya tidak demikian. Pasar keuangan justru memberikan pelajaran penting tentang bagaimana persepsi dapat berbeda dari kenyataan.
Beberapa bulan terakhir, perhatian publik banyak tertuju pada keluarnya dana asing dari pasar saham. Narasi yang berkembang sederhana, yaitu investor asing menjual saham Indonesia. Berarti investor asing kehilangan kepercayaan, sekilas terdengar masuk akal, tetapi kenyataan tidak sesederhana itu.
Pada saat dana asing keluar dari sebagian saham, dana asing justru masuk ke Surat Berharga Negara dan berbagai instrumen pendapatan tetap Indonesia. Investor global tetap membeli obligasi Indonesia. Mereka tetap menempatkan dana pada instrumen yang bergantung pada kemampuan negara menjaga stabilitas fiskal dan ekonominya.
Ini bukan detail kecil, karena dalam dunia keuangan, obligasi sering kali menjadi ujian kepercayaan yang lebih serius daripada saham. Saham membeli harapan, dan obligasi membeli keyakinan.
Masalah besar
Jika investor benar-benar percaya Indonesia sedang menuju masalah besar, mereka tidak hanya menjual saham. Investor juga akan meninggalkan obligasi, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Artinya pasar sedang menyampaikan sesuatu yang lebih rumit daripada sekadar “percaya” atau “tidak percaya”.
Pasar sedang berhitung, bukan sedang panik. Lalu mengapa kecemasan tetap terasa begitu besar? Jawabannya mungkin tidak sepenuhnya berada pada ekonomi. Jawabannya berada pada ingatan.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang pernah mengalami krisis yang sangat dalam. Tahun 1998 bukan sekadar peristiwa ekonomi, adalah pengalaman kolektif, saat rupiah jatuh, perbankan kolaps, perusahaan berguguran, pengangguran melonjak dan pemerintahan tumbang. Bagi banyak orang Indonesia, krisis bukan teori. Krisis adalah memori dan memori sering kali lebih kuat daripada data.
Karena itulah setiap tekanan ekonomi mudah sekali diterjemahkan sebagai ancaman besar. Bukan karena masyarakat tidak rasional, tetapi karena pengalaman sejarah membentuk cara sebuah bangsa memandang risiko.
Struktur berbeda
Masalahnya, Indonesia tahun 2026 bukan Indonesia tahun 1998. Tentu saja struktur ekonominya berbeda, cadangan devisanya berbeda, sistem perbankannya berbeda, kapasitas fiskalnya berbeda dan daya tahan institusinya berbeda.
Namun memori masa lalu kadang membuat kita membaca masa kini dengan kacamata yang sudah tidak sepenuhnya relevan. Di titik inilah kita perlu belajar dari pengalaman bangsa lain.
Korea Selatan sering dipuji sebagai kisah sukses ekonomi Asia. Tetapi yang dilupakan adalah kenyataan bahwa negara tersebut juga pernah berada di titik yang sangat sulit.
Ketika Krisis Asia 1997-1998 menghantam, ekonomi Korea Selatan mengalami kontraksi. Nilai tukarnya jatuh. Perusahaan-perusahaan besar menghadapi ancaman kebangkrutan. Pengangguran meningkat. Pemerintahnya harus meminta bantuan IMF.
Ketidakpastian
Mereka mengalami kepanikan, mereka juga mengalami ketidakpastian. Dan mereka juga mengalami rasa takut. Tetapi ada satu hal yang membedakan, mereka tidak berhenti pada rasa takut, mereka mengubah rasa takut menjadi produktivitas, mereka mengubah krisis menjadi momentum reformasi.
Mereka juga memperbaiki industri, memperkuat pendidikan, meningkatkan investasi teknologi serta mempercepat inovasi. Mantapnya, mereka menerima kenyataan bahwa dunia telah berubah dan satu-satunya pilihan adalah berubah lebih cepat daripada dunia.
20 tahun kemudian, dunia mengenal Samsung, Hyundai, LG, SK dan berbagai raksasa teknologi Korea lainnya. Kebangkitan itu bukan lahir karena mereka tidak pernah mengalami krisis. Kebangkitan itu lahir karena mereka tidak membiarkan krisis menentukan masa depan mereka. Mungkin di sinilah pelajaran yang paling relevan bagi Indonesia.
Karena sesungguhnya tantangan terbesar bangsa ini hari ini bukan kekurangan sumber daya. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, pasar domestiknya besar. Indonesia juga memiliki bonus demografi, Indonesia memiliki posisi geopolitik yang strategis dan Indonesia memiliki ruang pertumbuhan yang masih luas.
Terlalu jarang
Persoalan terbesar Indonesia justru sering berada pada sesuatu yang tidak masuk statistik, yaitu kepercayaan terhadap diri sendiri. Terlalu sering bangsa ini memandang dirinya melalui kelemahannya, terlalu jarang memandang dirinya melalui potensinya.
Dan, terlalu sering energi nasional habis untuk memperdebatkan siapa yang salah, serta terlalu sedikit digunakan untuk memperdebatkan bagaimana menjadi lebih produktif.
"Padahal sejarah menunjukkan negara tidak menjadi besar karena berhasil menghindari masalah. Negara menjadi besar karena berhasil menggunakan masalah sebagai alasan untuk berubah.
Mungkin pertanyaan yang paling penting hari ini bukan apakah ekonomi Indonesia sedang baik atau buruk. Namun apa yang akan dilakukan Indonesia terhadap tekanan yang sedang dihadapinya?
Produktivitas
Apakah tekanan global ini akan membuat bangsa ini semakin pesimis? Ataukah justru menjadi momentum untuk memperbaiki produktivitas, memperkuat pendidikan, meningkatkan kualitas institusi, memperbaiki tata kelola dan mempercepat transformasi ekonomi?
Dia menambahkan karena pada akhirnya sejarah tidak pernah menanyakan seberapa besar tekanan yang dihadapi sebuah bangsa. Sejarah selalu menanyakan bagaimana bangsa itu membaca tekanan tersebut. Sebagian bangsa melihat krisis sebagai tanda kemunduran dan sebagian bangsa melihat krisis sebagai perintah untuk berubah.
Dan masa depan Indonesia kemungkinan besar tidak akan ditentukan oleh pergerakan rupiah hari ini, tidak pula oleh naik turunnya IHSG minggu ini.
Pelajaran sederhana
Sebab jika ada satu pelajaran yang berulang kali diajarkan sejarah, pelajaran itu sederhana, yaitu bangsa besar bukan bangsa yang tidak pernah mengalami kesulitan. Bangsa besar adalah bangsa yang mampu mengubah kesulitan menjadi energi untuk melompat lebih tinggi.
Mungkin, setelah melihat data, fakta, tekanan, peluang serta berbagai tantangan yang ada hari ini yaitu, kesimpulan yang paling jujur bukanlah bahwa Indonesia sedang baik-baik saja.
Bukan pula bahwa Indonesia sedang menuju kehancuran. Melainkan bahwa Indonesia sedang berada pada sebuah persimpangan sejarah yang akan menentukan apakah negeri ini hanya menjadi negara besar secara ukuran, atau benar-benar menjadi bangsa besar dalam watak, produktivitas dan keyakinan terhadap masa depannya sendiri. (*)
Wahyu Nur Asmani EW
