Puluhan Hektar Lahan Pertanian di Delanggu Klaten Terbengkalai
Penyebab utamanya karena serangan hama tikus.
KORANBERNAS.ID, KLATEN -- Lahan pertanian puluhan hektar di Desa Banaran dan Sribit Kecamatan Delanggu Kabupaten Klaten, menjadi lahan terbengkalai. Akibatnya, lahan tersebut menjadi semak belukar karena lama tidak ditanami.
Terbengkalainya lahan tersebut karena beberapa faktor, di antaranya serangan hama saat ditanami padi yang berakibat gagal panen, kekhawatiran petani rugi jika ditanami padi lagi dan kurangnya minat generasi muda terjun ke sektor pertanian.
Ditemui di Desa Banaran, Senin (7/4/2026), beberapa warga menceritakan lahan terbengkalai di desa mereka mencapai puluhan hektar. Penyebab utamanya karena serangan hama tikus beberapa waktu lalu.
"Awalnya karena serangan hama tikus beberapa waktu lalu. Petani rugi karena gagal panen. Dari situlah petani malas menanam karena khawatir rugi lagi kalau ditanami padi," kata warga.
Belum untung
Diceritakan, untuk mengolah satu petak lahan pertanian butuh biaya sekitar Rp 2,5 juta. Ironisnya, ketika panen tiba petani belum tentu untung. "Yang dicari itu untung. Apakah lahannya milik sendiri atau disewa. Tapi kalau tetap rugi, ya pilih tidak menanam dulu," ujarnya kepada koranbernas.id.
Kepala Desa Banaran, Catur Widodo, saat ditemui di kantornya menceritakan lahan pertanian terbengkalai di desanya mencapai 20-an hektar.
Kepala Desa Sribit, Alibi, saat ditemui di kantornya, Senin (7/4/2026), menyatakan lahan pertanian terbengkalai di desanya sekitar 10 hektar. Penyebabnya, karena serangan hama tikus, kurangnya minat generasi muda terjun ke bidang pertanian dan khawatir rugi jika akan ditanami lagi.
Contoh, kata dia, beberapa waktu lalu dirinya menanam tanah lungguh seluas dua patok. Biaya mengolah sawah habis Rp 7 juta namun hasil yang diperoleh hanya Rp 6 juta. "Di sini (Desa Sribit), biaya mengolah lahan pertanian satu patok sekitar Rp 3,5 juta," kata Alibi. (*)
Masal Gurusinga
