Pameran “Rindu Masa Lalu”, Menyimpan Jejak Jiwa Ilustrator Win Dwi Laksono
Terbagi dalam tiga kelompok utama, karya-karya dalam pameran ini mencerminkan dinamika penciptaan yang kompleks. Ada ilustrasi sebagai pendamping cerita, sketsa sebagai acuan karya tiga dimensi (patung, relief, diorama), hingga sketsa bebas yang lahir dari dorongan personal.
KORANBERNAS.ID, BANTUL–Di balik sosok Win Dwi Laksono yang dikenal luas sebagai pematung dan pemusik, ternyata tersembunyi dunia lain yang selama ini hanya sedikit tersingkap: dunia sketsa dan ilustrasi yang diam-diam ia rawat selama lebih dari empat dekade.
Lewat pameran tunggal bertajuk “Rindu Masa Lalu”, seniman lintas media itu menghadirkan lebih dari 300 karya ilustrasi dan sketsa di Equalitera Artspace, Yogyakarta, sejak 13 hingga 26 Juli 2025.
Dikurasi oleh Terra Bajraghosa, pameran ini tak sekadar menampilkan arsip visual, tetapi juga membuka pintu ke proses batin dan perjalanan kreatif seorang seniman yang terus menolak diam.
“Dulu saya total ngawur. Tapi ternyata ada masa di mana ngawur itu juga bagian dari kejujuran,” ungkap Win saat pembukaan pameran yang dibuka oleh seniman senior Ugo Untoro pada Minggu (13/7/2025).
Ia tampak santai namun penuh refleksi, menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pengunjung dengan gaya khasnya: ceplas-ceplos, tapi dalam.
Terbagi dalam tiga kelompok utama, karya-karya dalam pameran ini mencerminkan dinamika penciptaan yang kompleks. Ada ilustrasi sebagai pendamping cerita, sketsa sebagai acuan karya tiga dimensi (patung, relief, diorama), hingga sketsa bebas yang lahir dari dorongan personal.
“Bagi saya, ilustrasi bukan sekadar pelengkap narasi. Dari goresan sketsa, bisa lahir figur tiga dimensi yang terasa nyata, meski tampak mustahil,” ujar Win.
Salah satu highlight dalam pameran ini adalah karya-karya hasil kolaborasi imajinasi antara Win dengan sastrawan legendaris seperti Kho Ping Hoo dan S.H. Mintardja.
Pengalaman pribadi Win saat masuk ke ruang kerja Kho Ping Hoo—melihat lima mesin ketik manual yang masing-masing digunakan untuk cerita silat, ketoprak, roman, hingga naskah drama—menjadi pengalaman spiritual tersendiri.
“Waktu saya tanya, ending-nya bagaimana, dia jawab: ‘nggak tahu’. Itu indahnya ketidaktahuan,” kenangnya.
Lain halnya dengan Mintardja, yang menurut Win sangat tertib dan metodologis.
“Di dindingnya sudah ada silsilah tokoh. Beliau selalu riset sebelum menulis. Saya belajar dari dua kutub itu—yang satu liar, yang satu rapi. Dan saya rasa dua-duanya masuk dalam sketsa-sketsa saya," ujarnya.
Win Dwi Laksono menjelaskan karya-karya yang ia pamerkan kepada pengunjung. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)
Sketsa: Titik Temu Masa Lalu dan Masa Kini
Tajuk “Rindu Masa Lalu” dipilih bukan tanpa alasan. Banyak karya yang ditampilkan berasal dari era 1980-an hingga 2024, menjadi semacam rekaman visual atas lintasan waktu yang Win tempuh, baik sebagai seniman maupun manusia biasa.
Tak hanya gambar, kenangan juga hadir lewat lagu. Lagu berjudul “Rindu Masa Lalu” yang ia tulis pada 2023 menjadi salah satu sumber pencerahan tajuk pameran ini. Lagu itu lahir dari kerinduan atas kelompok musik lamanya yang bisa saja bubar kapanpun.
“Ternyata malam ini kita manggung lagi, meskipun seadanya. Tapi justru itu yang membuatnya hidup,” kata Win, disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.
Bagi Win, semua medium adalah pintu: patung, lukisan, lagu, ilustrasi, puisi—tak ada batas yang kaku. “Kadang-kadang saya bikin patung dari lagu. Atau sebaliknya, saya gambar dulu, lalu jadi lagu,” tuturnya.
Ia juga mengaku bahwa semakin hari, proses berkaryanya semakin jujur, meski tidak selalu terencana. Sekarang Win berpameran bukan lewat galeri besar. Namun ia mengaku pameran ketujuh inilah yang paling jujur.
Melihat satu sketsa lawasnya, Win bahkan mengaku kaget sendiri.
“Aku nggambar kok bisa begini? Tangannya kok bisa begitu, ekspresinya pas. Padahal dulu aku ngawur. Tapi ternyata itu bagian dari mengenali diri sendiri. Butuh waktu lama banget," ujarnya.
Sebuah Ruang yang Inklusif dan Aksesibel
Pameran ini juga memperlihatkan kesadaran akan aksesibilitas. Equalitera Artspace menyediakan audio deskripsi untuk beberapa karya terpilih, ruang pamer yang ramah disabilitas, serta patung yang dapat diraba langsung. Hal ini memungkinkan siapa pun—termasuk pengunjung difabel—untuk merasakan pengalaman multisensori yang utuh.
“Ini bukan cuma pameran visual, tapi pengalaman menyeluruh. Di sini kita bisa menyentuh, mendengar, membayangkan, dan merasakan," jelas kurator Terra Bajraghosa.
“Rindu Masa Lalu” bukan sekadar nostalgia, tetapi usaha untuk memahami jejak yang tertinggal, mengarsipkan rasa, dan menyapa sisi-sisi diri yang mungkin terlupa.
Bagi para pengunjung, ini bukan hanya ajakan untuk menonton, tapi juga untuk merenung, menyelami, dan—seperti kata Win—bingung bersama, tapi dengan senang hati. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
