Kompleksitas Kejahatan

Oleh: Sudjito Atmoredjo

Kompleksitas kejahatan di negeri ini sungguh luar biasa. Dari kejahatan terhadap anak di Daycare, kejahatan narkoba pada remaja, kejahatan korupsi pada oknum pejabat dan aparat penegak hukum, kejahatan homoseksual pada orang-orang tertentu, kejahatan seksual di pesantren, dan lain sebagainya. Di sana ada kejahatan/pelanggaraan etika/moral/agama, hukum, konstitusi, hingga hak asasi manusia. Tanggung-jawab para pejuang, sungguh amat berat.

Kompleksitas Kejahatan
Sudjito Atmoredjo. (istimewa).

DALAM perbincangan santai di mobil, usai takziah sahabat yang meninggal, seorang teman berkeluh-kesah tentang keadaan negeri ini. Kejahatan semakin menggila. Dilakukan oleh oknum pejabat negara maupun warga negara. Pada semua aspek kehidupan, mudah terjadi/dijumpai kejahatan. Dipertanyakan, apakah keadaan demikian akan terus terjadi? Kapankah kejujuran dan sinar kedamaian muncul menerangi kehidupan?

Teman lain merespons kegelisahan itu dengan bijak. “Tenanglah. Setiap hari, suasana malam yang gelap, pasti berganti siang yang terang-benderang. Pada pergantian malam dan siang itulah, terdapat tanda-tanda keagungan Ilahi. Ketika malam, manusia berkesempatan tidur/istirahat dengan nyenyak/nyaman. Pada saat fajar menyingsing, berlanjut datangnya siang, manusia berkesempatan beraktivitas/bekerja, beramal. Keseluruhan waktu, bila dipergunakan secara efektif-efisien, telah cukup untuk meraih berbagai kebutuhan dunia-akhirat. Tak perlu berselimut kegelisahan. Tenanglah!”.

Nasihat bijak bernuansa religius itu direspons teman lain dengan nada setara. “Saya dan kita, bersyukur. Hidup dan kehidupan yang kita jalani sarat dinamika, walau pun amat kompleks. Ada suka, ada duka. Ada jalan lurus, ada jalan berkelok. Ada jalan terjal, ada jalan landai. Keseluruhannya terasa indah dijalani, dikenang, dan membahagiakan. Tetapi bagaimana masa depan (nasib) anak-cucu kita? Pendidikan, sejak usia dini hingga perguruan tinggi, kacau, tak jelas arahnya. Dapatkah predikat sebagai manusia berakhlak, beragama, dan bertaqwa disandang oleh anak-cucu kita?”.

Teman lain mencoba meluaskan wawasan. Katanya: “Sumberdaya alam di negeri ini, sungguh melimpah. Gemah, ripah, loh jinawi. Tetapi sekarang telah dikuasai/dimiliki  atau tergadai pada bangsa asing dan segelintir oknum pejabat negara. Mungkinkah, kedaulatan rakyat atas wilayah, sumberdaya alam, dan martabat bangsa, dapat diraih kembali? Akankah penduduk negeri ini terusir dan tergantikan oleh kedatangan orang asing?”

Hemat saya, kegelisahan anak bangsa, sebagaimana tergambar di atas, kini masif melanda orang-orang waras. Siapa orang waras itu? Mereka adalah orang-orang berhati lembut, berakal sehat, berwawasan luas. Sebagian dari orang-orang waras ini ada yang gigih berjuang untuk mengubah keadaan. Namun ada pula orang-orang diam, termenung, termangu, tak tahu apa yang mesti diperbuatnya. Celakanya, ada orang-orang oportunis. Mereka muncul sebagai pahlawan kesiangan ketika ada keuntungan didapat.

Dalam pencermatan, di negeri ini, sungguh sedikit jumlah orang waras yang tergolong pejuang. Mereka yakin bahwa tidaklah Ilahi Rabbi memberi keputusan kepadanya, kecuali hal itu terbaik baginya. Kalaupun ditimpa malapetaka (musibah), pejuang tetap bersabar, karena sabar merupakan kekokohan jiwa (istiqomah) dalam berpegang pada prinsip kebenaran. Sebaliknya, ketika kemenangan atau kesenangan diraih, maka bersyukurlah dia. Kenikmatan yang diperoleh, dikonversi menjadi amal/perbuatan lain yang lebih bermakna secara kontekstual. Dalam sikap dan perilakunya, perikehidupan terus diupayakan berubah ke arah lebih baik. Mereka, sungguh me­nga­gumkan.

Sayang, sungguh tidak sedikit (mayoritas) orang-orang di negeri ini diam dalam kebingungan, dan oportunis ketika berhadapan dengan anomali zaman. Oportunis adalah sikap dan perilaku yang cenderung mengambil keuntungan untuk diri sendiri dari kesempatan yang ada, tanpa berpegang pada prinsip kebenaran. Dalam konteks beragama, bermasyarakat, dan berbangsa, oportunis merupakan sikap dan perilaku tercela, hina, dan jahat.

Ditunjukkan oleh Allah Swt.Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: "Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya". Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerja­kan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras. Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpa­ling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa”(QS-Fussilat, 50-51).

Dari ayat tersebut, tergambar jelas, betapa rapuhnya orang-orang oportunis. Mereka, suka berbuat fasik, menumpuk dosa, dan berbohong dalam sikap, perilaku, dan doa. Setiap kali mereka tertimpa musibah atau kesusahan, mereka pura-pura mendekat kepada Allah Swt. Tetapi setelah bahaya itu dihilangkan daripadanya, dia (kembali) melalui/menempuh/menjalani kesesatan. Seolah-olah tidak pernah berdoa untuk (menghilangkan) baha­ya yang menimpanya. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak jujur dalam meminta pertolongan. Bahkan, kaum oportunis senantiasa memandang baik apa yang mereka kerjakan. 

Disadari bahwa mengajak orang lain untuk menjadi pejuang, bersikap jujur, anti (tidak) oportunis, tidaklah mudah. Dulu, para Nabi pun, mengalami hal-hal menyakitkan.

Contoh, di negeri Sodom. Nabi Luth, memperingatkan kaumnya agar berlaku wajar, normal, alami, sesuai fitrah. Dalam tradisi agama samawi (Islam, Kristen, dan Yahudi), kaum Sodom digambarkan sebagai masyarakat yang menetap di wilayah sekitar Laut Mati. Nabi Luth diutus untuk menyampaikan pesan moral dan etika agar mengubah gaya hidup dan perilaku sosial kaumnya.

Terasakan oleh Nabi Luth, betapa sesak/sempit dadanya, ketika kedatangan tamu-tamu (malaikat) yang terlihat sebagai orang-orang ganteng/tampan. Kaumnya dilarang mengganggunya. Tetapi, larangan itu ditolaknya, dengan kata-kata “... kami tidak mempunyai syahwat terhadap puteri-puterimu, dan engkau tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami  kehendaki”. Para tamu (malaikat) pun berkata kepada Nabi Luth: ”... pergilah bersama keluargamu pada akhir malam ... Sesungguhnya saat terjadinya siksaan bagi mereka (kaum Sodom) pada waktu subuh”. Benar, kaum Sodom dihujani batu dan tanah terbakar. Mereka, bergelimpangan, mati, hingga binasa” (QS-Hud, 77-84; Asy-Syu’ara’, 160-173).

Kompleksitas kejahatan di negeri ini sungguh luar biasa. Dari kejahatan terhadap anak di Daycare, kejahatan narkoba pada remaja, kejahatan korupsi pada oknum pejabat dan aparat penegak hukum, kejahatan homoseksual pada orang-orang tertentu, kejahatan seksual di pesantren, dan lain sebagainya. Di sana ada kejahatan/pelanggaraan etika/moral/agama, hukum, konstitusi, hingga hak asasi manusia. Tanggung-jawab para pejuang, sungguh amat berat.

Betapapun demikian, gelapnya malam telah mendekati waktu subuh. Kepastian dan pertolongan Ilahi Robbi, mudah-mudah segera hadir. Habisnya gelap malam, segera tergantikan cerahnya siang yang terang-benderang. Semoga. Wallahu’alam. **

Prof. Dr. Sudjito Atmoredjo, S.H., M.Si.

Guru Besar pada Sekolah Pascasarjana UGM