Kisah Sukses Sate Pak Pong, dari Warung Kontrakan Jadi Legenda Kuliner
Sehari dari tiga warung itu sedikitnya menyembelih 30 ekor kambing.
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Pembawaannya bersahaja dan sederhana. Dialah Dzakiron (50) warga Jejeran Kapanewon Pleret Bantul yang dikenal orang sebagai Pak Pong, pemilik usaha sate kambing yang sangat terkenal dan melegenda bagi wisatawan dan pecinta kuliner yakni Sate “Pak Pong”.
Siapa sangka sate yang sudah banyak dikunjungi pemburu kuliner daging kambing termasuk kalangan artis dan pejabat hingga presiden Timor Leste Jose Ramos Horta itu berawal dari usaha warung kontrakan kecil di tahun 1997.
Kisah sukses itu diawali dari warung kontrakan. “Saya awalnya membuka warung sate itu ngontrak dengan satu orang yang membantu atau karyawan. Alhamdulillah sekarang berkembang dan saya ada 100 karyawan lebih di tiga cabang,” kata Pak Pong kepada media, Selasa (31/3/2026).
Adapun cabang utama di Jalan Jejeran timur Stadion Sultan Agung, lalu cabang kedua di Jalan Imogiri Timur dan cabang ketiga di Jalan Imogiri Barat. Dari awalnya hanya menyembelih seekor kambing, kini sehari dari tiga warung itu sedikitnya menyembelih 30 ekor kambing.
Dzakiron yang akrab disapa Pak Pong. (sariyati wijaya/koranbernas.id)
Jika musim libur atau lebaran Idul Fitri bisa menyembelih 50 ekor bahkan lebih. Suplai kambing selain dari DIY juga mendatangkan dari wilayah Jawa Tengah seperti Wonosobo dan Temanggung.
“Sejak awal berdiri kami menjaga kualitas. Salah satunya adalah kebersihan, cita rasa dan kambing harus muda sehingga dagingnya tidak alot,” katanya.
Kambing diolah menjadi sate bumbu kecap, sate klatak, tengkleng, gulai, tongseng, sate klonyos (sandung lamur) dan jenis olahan lain. Harga jual mulai Rp 20.000 untuk sate klonyos, sedangkan sate daging Rp 42.000 sudah komplet minum dan nasinya. Harga berbeda-beda tergantung jenis masakan.
Pak Pong menambahkan dirinya menamai warung dengan nama “Pak Pong” karena kebiasaan dirinya saat muda sering bangun siang. Orang Jawa bilang Njempong.
Bawa rezeki
“Kalau ada teman saya main ke rumah, kadang orang tua saya bilang, kae lho isih njempong (tidur bangun siang). Dari sanalah kemudian nama saya ambil dan Alhamdulillah membawa rezeki,” ucapnya.
Pak Pong berharap usahanya ini terus berjalan lancar dan terus diminati konsumen dan bisa menyerap tenaga kerja. Hingga kini dia belum membuka cabang di luar kota. Dia ingin orang teringat sate Pak Pong yang identik dengan kuliner Jogja.
Selain olahan daging kambing, Pak Pong juga terus meningkatkan sarana di warungnya sesuai keinginan pengunjung. Mulai mushala yang awalnya kecil kini dibangun besar, ada ruang VIP, ruang meeting, parkir yang luas dan sarana lain untuk kenyamanan pengunjung. Jam buka mulai pukul 09:00 sampai 23:30.
“Saat ini saya tidak berpikir mengembangkan ke luar Jogja. Tetapi tidak tahu jika ke depan anak-anak saya ingin mengembangkan di luar Jogja,” katanya.
Salah seorang pengunjung, Rukmana (28) asal Jambi mengaku Sate Pak Pong sudah sangat terkenal dan dagingnya empuk.
Sariyati Wijaya
