Kekerasan terhadap Anak di Daycare Dampaknya Bertahun-tahun
Beberapa anak menunjukkan perubahan perilaku setelah kasus itu terungkap.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Kasus kekerasan yang terungkap pada salah satu daycare di Yogyakarta tidak hanya menyisakan persoalan hukum tetapi juga membuka kekhawatiran baru terkait dampak psikologis jangka panjang pada anak, berlangsung bertahun-tahun.
Psikolog klinis Indira Laksmi Gamayanti mengingatkan pengalaman buruk pada masa kecil dapat meninggalkan jejak trauma yang mempengaruhi perkembangan emosi dan mental anak.
Menurut Indira, dalam psikologi perkembangan dikenal istilah adverse childhood experiences, yaitu pengalaman tidak menyenangkan yang dialami anak pada masa tumbuh kembangnya. Jika tidak ditangani dengan baik, pengalaman tersebut dapat mempengaruhi perilaku anak hingga masa depan.
“Pengalaman buruk pada masa kecil bisa berdampak pada perkembangan emosional dan mental anak,” ujarnya di sela Sarasehan Nasional bertajuk Resiliensi Berbasis Budaya: Kesehatan Mental, Pendidikan, dan Pembentukan Karakter untuk Menjawab Tantangan Zaman, Sabtu (2/5/2026), di Embung Giwangan.
Perubahan perilaku
Indira mengungkapkan, dari cerita sejumlah orang tua yang pernah menitipkan anaknya di daycare tersebut, beberapa anak menunjukkan perubahan perilaku setelah kasus itu terungkap. Ada anak yang menjadi lebih mudah marah, ada pula yang menunjukkan rasa takut berlebihan ketika harus berpisah dengan orang tuanya.
“Ada anak yang menjadi mudah marah, ada yang sangat takut ditinggal orang tuanya dan menjadi sangat lengket secara berlebihan. Ada juga yang mengalami mimpi buruk hingga menangis di malam hari,” ungkapnya.
Perubahan perilaku tersebut, menurutnya, merupakan respons yang wajar ketika anak mengalami situasi yang membuatnya merasa tidak aman. Karena itu, kondisi psikologis anak perlu diperiksa secara langsung melalui asesmen yang sistematis dan komprehensif oleh tenaga profesional.
Meski demikian, proses pemulihan anak tidak hanya bergantung pada terapi dari psikolog atau tenaga kesehatan mental. Peran orang tua justru menjadi faktor paling penting dalam membantu anak melewati pengalaman tersebut.
Perlu pendampingan
Indira menjelaskan orang tua perlu memberikan pendampingan emosional yang stabil. Hal ini penting karena anak biasanya akan mencari rasa aman dari figur terdekatnya. “Orang tua adalah pengasuh sekaligus terapis utama bagi anak,” jelasnya.
Namun dalam praktiknya, orang tua yang mengetahui anaknya menjadi korban kekerasan seringkali mengalami gejolak emosi yang kuat. Rasa marah, sedih, hingga rasa bersalah kerap muncul dan bisa mempengaruhi cara mereka merespons anak.
“Orang tua perlu memperoleh asesmen dan edukasi agar mampu mengelola emosinya secara sehat,“ ujarnya.
Sementara itu Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI, Restu Gunawan, menilai kasus tersebut menjadi pengingat pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai budaya dalam praktik pendidikan dan pengasuhan anak.
Harus dijaga
Menurutnya, budaya Nusantara sejak lama menempatkan anak sebagai generasi yang harus dijaga, dihormati, dan dididik dengan penuh kasih. Nilai tersebut tercermin dalam berbagai tradisi lokal yang menekankan keseimbangan pembentukan karakter melalui olah hati, olah pikir, olah rasa, dan olah raga sebagaimana diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara.
“Budaya kita sebenarnya mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang sangat kuat. Dalam berbagai tradisi lokal, anak selalu ditempatkan sebagai generasi yang harus dijaga dan dididik dengan kasih,” kata dia.
Peristiwa kekerasan di lembaga pengasuhan anak seperti yang terjadi di Yogyakarta dinilai menjadi alarm bahwa praktik pendidikan dan pengasuhan modern tidak boleh kehilangan akar nilai budaya yang selama ini hidup di masyarakat.
“Ketika kita berbicara perlindungan anak, sebenarnya budaya kita sudah menyediakan nilai-nilai yang sangat kuat. Tantangannya adalah bagaimana nilai itu kembali dihidupkan dalam praktik kehidupan sehari-hari,” tandasnya. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
