Dari Ruang Redaksi di Jogja hingga Pelosok Banyumas: 31 Tahun Telkomsel Menjaga Indonesia Tetap Terhubung
Memasuki usia ke-31, Telkomsel menegaskan semangat Melayani Sepenuh Hati. Kisah jurnalis di Yogyakarta dan pedagang Banyumas menunjukkan bagaimana konektivitas menjadi bagian penting kehidupan masyarakat
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA--Ketika berita harus dikirim dari daerah terpencil sebelum tenggat waktu redaksi berakhir, sinyal bukan sekadar urusan teknologi. Ia menjadi penghubung antara informasi dan publik. Bagi Fuska Evani, seorang jurnalis di Yogyakarta, konektivitas yang andal sering kali menentukan apakah sebuah peristiwa penting dapat segera diketahui masyarakat atau tidak.
Sudah lebih dari dua dekade Fuska menggunakan nomor Telkomsel. Nomor Halo yang dimilikinya sejak 2005 masih aktif hingga sekarang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari pekerjaannya sebagai wartawan.
"Saya memang menggunakan lebih dari satu provider. Tapi kalau sedang liputan ke daerah-daerah pinggiran atau lokasi yang cukup terpencil di DIY, yang paling bisa diandalkan tetap Telkomsel," ujarnya suatu ketika.
Pengalaman Fuska menggambarkan makna konektivitas yang sering kali luput dari perhatian. Di balik kemudahan mengirim foto, video, atau naskah berita dari lapangan, terdapat jaringan yang bekerja tanpa henti agar komunikasi tetap berjalan.
Bagi masyarakat perkotaan, sinyal mungkin dianggap hal biasa. Namun bagi mereka yang bekerja di lapangan, jaringan yang stabil menjadi kebutuhan utama. Fuska mengaku tetap mempertahankan nomor yang sama selama 21 tahun karena keandalan layanan yang sudah terbukti dalam berbagai kondisi.
"Nomor ini sudah tersebar ke banyak narasumber sejak lama. Selain itu, saya juga harus mengantisipasi jika berada di lokasi yang sinyal provider lain kurang bagus,” katanya.
Cerita serupa datang dari Banyumas, Jawa Tengah. Karman, seorang pedagang yang juga aktif dalam Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), mengaku telah menggunakan kartu simPATI sejak sekitar 2008.
Wilayah tempat tinggalnya yang berada di kawasan pegunungan membuat kualitas jaringan menjadi faktor utama dalam memilih operator seluler.
"Dari dulu andalannya memang Telkomsel. Mungkin karena daerah kami bukan kota besar dan banyak wilayah pegunungan. Saya sering ke luar daerah juga karena aktif di organisasi, tapi selama ini tidak ada kendala berarti," kata Karman.
Meski mengakui harga paket data saat ini terasa lebih mahal dibanding beberapa operator lain, Karman memilih tetap bertahan.
“Memang kadang terasa lebih mahal. Tapi karena jarang ada masalah dan selalu bisa diandalkan, ya saya tetap pakai,” ujarnya sambil tersenyum.
Kisah Fuska dan Karman mungkin hanya dua dari ratusan juta pelanggan yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan Telkomsel. Namun keduanya memperlihatkan satu benang merah yang sama yakni teknologi menjadi bermakna ketika mampu hadir pada saat dibutuhkan.
Direktur Utama Telkomsel, Nugroho mengatakan, memasuki usia ke-31 tahun, Telkomsel kembali menegaskan komitmen "Melayani Sepenuh Hati" sebagai fondasi dalam menghadirkan pengalaman digital yang lebih personal, relevan, dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.
Menurut Nugroho, perjalanan selama tiga dekade lebih tidak hanya berbicara mengenai perkembangan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana perusahaan terus beradaptasi dengan kebutuhan pelanggan yang terus berubah.
"Di era transformasi digital dan Artificial Intelligence (AI), pendekatan yang berpusat pada pelanggan dengan empati menjadi kunci sehingga setiap solusi mampu menghadirkan kemudahan, rasa aman, dan dukungan dalam keseharian pelanggan," ujarnya.
Perjalanan Telkomsel sendiri mencerminkan evolusi digital Indonesia. Dimulai dari layanan kartuHalo pada 1995 dan simPATI pada 1997, kemudian berkembang menghadirkan teknologi 3G, 4G/LTE hingga Hyper 5G yang kini menjangkau lebih dari 107 kota dan kabupaten di Indonesia dengan lebih dari 6.380 BTS 5G.
Transformasi tersebut juga diperkuat melalui pengembangan MyTelkomsel Super App, integrasi IndiHome, pemanfaatan kecerdasan buatan melalui Autonomous Network dan asisten virtual Veronika, hingga kolaborasi dengan Indonesia Artificial Intelligence (INA AI) yang menghadirkan fitur pembelajaran Sacred Octagon.
Namun di balik semua angka dan inovasi teknologi itu, terdapat tujuan yang lebih besar: memastikan masyarakat Indonesia tetap terhubung.
Komitmen tersebut terlihat dari perluasan jaringan hingga wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), termasuk upaya menjaga konektivitas saat terjadi bencana. Ketika jaringan komunikasi menjadi kebutuhan mendesak, keberadaan layanan telekomunikasi sering kali menjadi penyambung harapan bagi masyarakat.
Kontribusi Telkomsel juga tidak hanya terlihat dari sisi layanan. Berdasarkan kajian sosio-ekonomi independen PT LAPI ITB periode 2024-2025, ekosistem Telkomsel berkontribusi terhadap penciptaan lebih dari 685 ribu lapangan kerja langsung maupun tidak langsung serta memberikan kontribusi ekonomi mencapai Rp36,972 triliun melalui berbagai penerimaan negara.
Namun bagi pelanggan seperti Fuska dan Karman, makna terbesar mungkin jauh lebih sederhana.
Bukan soal jumlah BTS, kecepatan internet, atau teknologi AI terbaru. Melainkan keyakinan bahwa ketika mereka berada di lokasi yang jauh, saat pekerjaan harus diselesaikan, atau ketika keluarga perlu dihubungi, selalu ada jaringan yang dapat diandalkan.
Di usia ke-31, itulah mungkin makna paling nyata dari "Melayani Sepenuh Hati". Bukan hanya menghadirkan teknologi yang semakin canggih, tetapi memastikan teknologi tersebut tetap dekat dengan manusia yang menggunakannya.
Dan selama masih ada jurnalis yang harus mengirim berita dari pelosok desa, pedagang yang beraktivitas di kawasan pegunungan, hingga jutaan masyarakat yang menggantungkan aktivitas sehari-harinya pada konektivitas digital, perjalanan Telkomsel untuk melayani Indonesia tampaknya masih akan terus berlanjut. (*)
---
