Jamaah Haji asal Yogyakarta Napak Tilas Perjalanan Kanjeng Nabi

Bus Shalawat beroperasi 24 jam nonstop, kapan pun jamaah haji ingin pergi ke Masjidil Haram, mereka dapat menaikinya.

Jamaah Haji asal Yogyakarta Napak Tilas Perjalanan Kanjeng Nabi
Sebagian dari jamaah haji asal DIY saat berada di Tanah Suci. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, MEKKAH -- Kegiatan pokok harian jamaah haji selama berada di Mekkah adalah mengikuti salat berjamaah di Masjidil Haram. Mengingat jarak antara hotel dengan Masjidil Haram berkisar kurang lebih 2,5 kilometer, sebagian jamaah memilih memanfaatkan fasilitas bus Shalawat yang berhenti tepat di depan hotel.

“Bus Shalawat beroperasi 24 jam nonstop, yang artinya kapan pun jamaah haji ingin pergi ke Masjidil Haram, mereka dapat menaikinya,” Tri Suyutiyanto, Karom 4 Jamaah Haji DIY, Jumat (22/5/2026).

Sementara itu, sebagian jamaah yang lain khususnya yang berusia muda lebih memilih berjalan kaki. Alasan mereka, naik bus terkadang memerlukan waktu antre dan jalurnya memutar, sehingga waktu tempuh menjadi lebih lama, baik saat menuju Masjidil Haram maupun ketika pulang ke hotel.

Ada pula sebagian jamaah yang memilih sistem kombinasi, yaitu jika berangkat menggunakan bus, maka pulangnya memilih jalan kaki, begitu pula sebaliknya.

Napak tilas

Tri Suyutiyanto yang juga Aparatur Sipil Negara (ASN) Sekretariat DPRD DIY itu menjelaskan selain ibadah wajib, kegiatan lain yang dilakukan oleh jamaah adalah napak tilas perjuangan Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

“Jamaah mengunjungi Bukit (Jabal) Tsur, lokasi di mana terdapat Gua Tsur yang menjadi tempat persembunyian Nabi SAW saat melakukan hijrah ke Madinah guna menghindari pengejaran tentara Quraisy,” ungkapnya

Pada saat itu, sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq sempat merasa sangat khawatir karena mendengar langkah kaki para pengejar di atas gua. Kanjeng Nabi kemudian menenangkannya dengan berkata, "Tenanglah wahai Abu Bakar, Allah bersama kita."

Dalam satu riwayat disebutkan tiba-tiba ada burung yang membuat sangkar di mulut gua, sedangkan dalam riwayat lain disebutkan laba-laba yang membuat sarang di tempat yang sama. Hal ini membuat para pengejar Rasulullah menyimpulkan tidak mungkin ada manusia di dalam gua tersebut. Sebagaimana yang telah diketahui, Kanjeng Nabi akhirnya berhasil lolos dan selamat sampai ke Madinah.

Masjid Namiroh

Tri menyatakan, kunjungan napak tilas dilanjutkan menyaksikan dari kejauhan lokasi Arafah yang menjadi tempat wukuf, Muzdalifah tempat mabit (bermalam) serta Mina yang merupakan tempat melontar jumrah. Dari kejauhan, jamaah juga dapat menyaksikan kemegahan Masjid Namiroh.

Perjalanan berlanjut menuju Jabal Nur. Di gunung inilah Nabi Muhammad SAW pertama kali menerima wahyu dari Allah SWT, tepatnya di dalam Gua Hira. Lokasi gua ini berada di tempat yang sangat tinggi, sehingga membutuhkan waktu sekitar 1,5 sampai 2 jam berjalan kaki dengan medan yang terus menanjak.

Melalui rangkaian napak tilas, jamaah bisa membayangkan betapa beratnya perjuangan Rasulullah SAW bersama para sahabat pada masa itu. Mereka harus berjalan kaki siang hari yang terik dengan suhu panas yang bisa mencapai 49 derajat Celsius, menempuh jarak kurang lebih 500 kilometer yang jika ditempuh dengan bus modern saat ini pun membutuhkan waktu sekitar enam jam.

“Pada akhirnya, kita sebagai umat yang diwarisi risalah kenabian ini sudah sepatutnya bersyukur. Rasa syukur tersebut harus diwujudkan dengan menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya semaksimal mungkin,” kata dia. (*)