Sultan HB X Syawalan dengan Masyarakat Bantul

Idul Fitri adalah momentum tepat untuk introspeksi diri bagi segenap anak bangsa.

Sultan HB X Syawalan dengan Masyarakat Bantul
Gubernur DIY Sri Sultan HB X syawalan di Pendopo Parasamya Pemda Bantul, Jumat (10/4/2026). (sariyati wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Wakil Gubernur Sri Paku Alam X menggelar silaturahmi dan syawalan Idul Fitri 1447 H dengan masyarakat di Kantor Bupati Kompleks Parasamya Pemda Bantul, Jumat (10/4/2026).

Acara itu dihadiri Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, Wakil Bupati Aris Suharyanta, Sekda Agus Budi Raharjo, jajaran OPD, DPRD Bantul, Forkopinkap se-Bantul, KPU, Bawaslu, para lurah dan tamu undangan.

Sultan HB X menyadari betapa rumitnya tantangan yang kerap membelit bangsa ini. Idul Fitri adalah momentum tepat untuk introspeksi diri bagi segenap anak bangsa.

“Kewajiban kita adalah bagaimana memilin benang-benang spiritualitas, agar menjadi penguat semangat kebangsaan dan terajut sebagai perekat rasa kemanusiaan,” katanya.

Sultan HB X dan Paku Alam X saat syawalan di Pemkab Bantul. (sariyati wijaya/koranbernas.id)

Kewajiban ini memiliki arti ikut menguatkan prinsip ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. “Bagi pemerintah, moralitas itu, sejatinya telah terpancar dari ajaran Serat Piwulang Sampeyandalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Buwono I (Sinuwun Swargi), sebagai suluh budi yang menuntun arah laku pengabdian,” kata Sultan.

Di dalamnya termaktub nilai moralitas. Kanca iku sadulur, kancuhane nglakoni kardi, mati urip tan pisah, dulur siyang dalu, badan siji kuwat. Sesama dalam pengabdian pada hakikatnya adalah saudara, yang dipersatukan oleh amanah, jawab bersama dan ikhtiar yang dijalankan seiring sejalan.

Menurut Sultan HB X, serat itu juga menegaskan Kang utama tansah ulah ing sih, yang artinya keutamaan pengabdian sejatinya bertumbuh dari tanggung jawab, dari empati dan dari keluhuran budi.

“Kita tidak boleh lengah pada untai nilai moral. Lan aja lupa tibaning kang sih, wit sang radya pracaya ing sira, bahwa kepercayaan yang melekat pada jabatan, sesungguhnya merupakan titipan mulia, yang wajib dijaga dengan satya, dengan kesungguhan dan dengan kejernihan nurani. Dengan pandangan reflektif demikian, melalui Idul Fitri, marilah kita teguhkan semangat pengabdian, kepedulian, dan solidaritas sosial, dalam bingkai Mulat Sarira, Jumangkah Jantraning Laku,” lanjut Ngarso Dalem.

Maaf yang tulus

Bupati Bantul atas nama pribadi dan pemerintah serta masyarakat menyampaikan selamat Idul Fitri 1447 H. “Sembah Pangabekti dan permohonan maaf lahir dan batin yang tulus dari kami. Dalam kesempatan yang berbahagia ini kami juga menghaturkan Mangayubagyo Wolungdasa Tahun Yuswa Dalem Sri Sultan Hamungku Buwono Kaping Sedasa, teriring doa semoga Ngarso Dalem senantiasa diparingi kesehatan dan kekuatan memimpin DIY menuju Kamulyaning Praja,” kata bupati.

Pembangunan di Kabupaten Bantul perlu selaras dengan visi pembangunan DIY yang berbasis pada keluhuran budaya dan kesejahteraan masyarakat.

“Kami menyadari bahwa dalam menjalankan roda pemerintahan dan pelayanan publik selama setahun terakhir masih ada sektor yang memerlukan perhatian. Melalui momentum syawalan ini, kami berkomitmen untuk melakukan mulat sarira, memperbaiki diri serta meningkatkan sinergi demi mewujudkan Bantul yang maju, kuat, demokratis dan sejahtera,” kata bupati. (*)