FSTVLST Memecah Kepadatan Ribuan Penonton Saemen Fest
Ada yang memilih memejamkan mata sambil menyanyikan setiap lirik yang sudah mereka hafal di luar kepala.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Lampu panggung perlahan meredup. Asap tipis mulai menyelimuti Imba Space salah satu panggung di perhelatan Saemen Fest 2026 di Stadion Kridosono, sementara ribuan pasang mata serentak mengarah ke panggung. Tak butuh hitungan mundur. Begitu empat personel FSTVLST muncul, pekik penonton langsung memecah kepadatan penonton Saemen Fest 2026, Minggu (19/7/2026) malam.
Dentuman pertama Akulah Ibumu seolah menjadi aba-aba. Barisan depan langsung berguncang, tangan-tangan terangkat ke udara, sementara koor ribuan suara menenggelamkan vokal Farid Stevy. Lagu belum selesai, energi panggung sudah meluap. Kamis datang menyusul tanpa memberi ruang bagi penonton untuk menarik nafas.
Di balik distorsi gitar dan gebukan drum yang menghentak, FSTVLST sekali lagi menunjukkan mereka bukan sekadar band rock. Mereka adalah pencerita.
Suasana yang semula liar mendadak berubah hening ketika petikan lembut Maha Oke cikal band mereka saat di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu mengalun. Cahaya panggung meredup. Farid berdiri sendirian di depan mikrofon, membacakan monolog puitis tentang manusia yang sibuk mengejar masa depan hingga lupa menoleh pada semesta, tentang dunia yang terang tetapi dipenuhi orang-orang yang memilih memejamkan mata.
Tak terdengar teriakan. Tak ada dorongan di tengah kerumunan. Ribuan festivalist (sebutan untuk penggemar band FSTVLST - red) larut mendengarkan setiap kalimat yang meluncur perlahan, hingga monolog itu ditutup dengan kalimat kau terlahir di masa maha FSTVLST. Tepuk tangan panjang pun pecah, mengakhiri keheningan yang terasa begitu dalam.
Farid lalu memecah suasana dengan senyum khasnya. "Selamat malam semuanya... boleh tepuk tangan buat acara malam ini. Saemen Fest 2026. Selamat berbahagia," sapanya, disambut sorak yang kembali memenuhi langit malam Yogyakarta.
Tak lama kemudian, panggung kembali meledak. Opus, Tri Esa, Doa Lamat-Lamat, hingga SumpaH Galaxy dimainkan beruntun. Gelombang manusia di depan panggung bergerak serempak. Ada yang melompat, berpelukan dengan teman di sampingnya, ada pula yang memilih memejamkan mata sambil menyanyikan setiap lirik yang sudah mereka hafal di luar kepala.
Penampilan FSTVLST di Saemen Fest 2026 di Stadion Kridosono Yogyakarta. (istimewa)
Di tengah riuh itu, Roby Setiawan meletakkan gitarnya dan berpindah ke keyboard. Intro Apa Kabar Opus mengalun lebih syahdu, memberi jeda bagi penonton untuk bernapas. Momen itu dimanfaatkan Farid untuk memberi penghormatan kepada para musisi yang turut meramaikan Saemen Fest, mulai dari Feast, Soloensis x The Melting Minds, Bernadya, Mario Zwinkle hingga Matter Mos.
Candaan Farid tentang Matter Mos yang mengaku sudah tiga hari berada di Jogja dan akhirnya "merasakan monarki" sontak memancing tawa panjang. Sesaat, konser terasa seperti ruang bercengkerama antara musisi dan ribuan sahabat lama.
Namun jeda itu tak berlangsung lama. Jefferson hits dari album ketiga mereka Paradoks Diametral menjadi alarm pertunjukan mulai memasuki babak akhir. Distorsi gitar kembali meraung lewat Rock Jelek, membuat penonton di barisan depan kembali berdesakan mengikuti irama.
Lalu tibalah lagu yang paling ditunggu. Begitu intro Poli Fono Fantasi terdengar, seluruh area konser seolah kehilangan gravitasi. Ribuan orang melompat bersamaan, menyanyikan setiap bait lagu dengan suara yang nyaris menandingi sistem tata suara panggung. Lampu-lampu ponsel berkelip di antara lautan manusia, sementara Farid beberapa kali mengarahkan mikrofon ke arah penonton yang tanpa ragu mengambil alih lirik.
Ketika nada terakhir akhirnya menghilang, peluh bercampur senyum masih tersisa di wajah para festivalist. FSTVLST kembali membuktikan mengapa setiap penampilannya selalu lebih dari sekadar konser. Mereka menghadirkan perjalanan emosional, aksi panggung yang selalu berbeda serta mengajak penonton berteriak, tertawa, merenung, lalu pulang dengan perasaan yang tak lagi sama seperti saat datang.
Di tengah lautan penonton yang perlahan mulai meninggalkan area konser, kesan mendalam masih terlihat di wajah Anggara (13), remaja asal Yogyakarta yang sejak sore rela berdesakan demi menyaksikan penampilan FSTVLST dari dekat.
Menyimpan kejutan
Baginya, konser FSTVLST selalu menyimpan kejutan. Setiap panggung menghadirkan pengalaman berbeda, termasuk dalam pemilihan lagu yang dimainkan malam itu.
"Setlist FSTVLST selalu berbeda di setiap panggung. Justru itu yang bikin menarik. Malam ini mereka enggak membawakan beberapa lagu yang biasanya selalu ditunggu, seperti Orang-Orang di Kerumunan dan Gas. Buat penonton yang sering mengikuti konser mereka, variasi seperti ini malah terasa segar," ujar Anggara usai pertunjukan.
Meski harus datang sejak sekitar pukul 14:00 dan tak berhasil menembus barisan paling depan karena padatnya penonton, hal itu tak mengurangi kepuasannya menikmati penampilan band idolanya.
"Dari siang area festival sudah penuh banget, jadi saya nggak bisa maju mendekati panggung. Tapi secara keseluruhan puas. Atmosfernya luar biasa dan penampilan FSTVLST malam ini benar-benar berkesan," katanya.
Di balik euforia yang tercipta malam itu, panitia Saemen Fest menilai penampilan FSTVLST menjadi salah satu andalan, para penggemarnya pun sangat militan. Founder Hectic Creative sekaligus penggagas Saemen Fest, Gerfian Riandra, mengatakan FSTVLST dipilih bukan hanya karena memiliki basis penggemar yang besar, tetapi juga karena karakter pertunjukannya mampu mewakili semangat Saemen Fest yang merayakan musik, ekspresi dan kebersamaan.
"FSTVLST selalu punya cara menghadirkan pertunjukan yang bukan sekadar konser. Ada cerita, ada refleksi, ada energi yang bisa dirasakan bersama oleh penonton. Itu sejalan dengan semangat Saemen Fest yang ingin menghadirkan pengalaman, bukan hanya tontonan," ujar Gerfian.
Menurutnya, antusiasme ribuan penonton yang memenuhi area Imba Space sejak sebelum FSTVLST tampil menjadi bukti bahwa band asal Yogyakarta itu masih memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan publik. Koor panjang yang terus terdengar sepanjang konser hingga penonton tetap bertahan sampai lagu terakhir usai menjadi momen yang paling membekas bagi penyelenggara.
"Melihat semua orang bernyanyi bersama dari lagu pertama sampai penutup menjadi kepuasan tersendiri bagi kami. Energi seperti inilah yang ingin terus kami hadirkan di Saemen Fest," ungkapnya. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
